Nilai Tukar Petani Naik 0,15% pada Juli 2026, Biaya Produksi Turun

BPS mengungkap indeks harga yang dibayar petani turun lebih dalam mencapai 0,25%.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 03 Agustus 2026, 14:30 WIB
Petani menanam padi di persawahan di kawasan Tangerang. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juli 2026 mencapai 127,84 atau naik 0,15% dibandingkan Juni 2026. Kenaikan NTP terjadi karena penurunan indeks harga yang dibayar petani lebih besar dibandingkan penurunan indeks harga yang diterima petani.

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan indeks harga yang diterima petani turun 0,10%, sedangkan indeks harga yang dibayar petani turun lebih dalam, yakni 0,25%.

“Peningkatan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani turun 0,10%, sedangkan indeks harga yang dibayar petani turunnya lebih dalam, yaitu 0,25%,” ujar Ateng dalam konferensi pers, di Kantor BPS, Senin (3/8/2026).

BPS mencatat subsektor hortikultura mengalami penurunan NTP terdalam, yakni 8,49%. Penurunan tersebut dipicu merosotnya indeks harga yang diterima petani hortikultura sebesar 8,74%, terutama akibat turunnya harga cabai rawit, bawang merah, tomat, dan cabai merah.

“Komoditas yang dominan memengaruhi penurunan indeks harga yang diterima petani yaitu cabai rawit, bawang merah, tomat, dan cabai merah,” kata Ateng.

Selain hortikultura, subsektor peternakan juga mencatat penurunan NTP. Sebaliknya, nilai tukar perikanan meningkat 1,01%, didorong kenaikan nilai tukar nelayan sebesar 0,95% dan nilai tukar pembudi daya ikan sebesar 1,10%.

Harga Pupuk Turun, Petani dari Aceh hingga Kalimantan Untung

Petani menanam padi di persawahan di kawasan Tangerang. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, kebijakan pemerintah menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen mulai dirasakan manfaatnya tidak hanya oleh petani di Pulau Jawa, tetapi juga di berbagai daerah. Penurunan ini turut mendongkrak keuntungan usaha tani dan mendorong kesejahteraan petani secara nyata.

Hal itu diakui oleh Yogi, petani padi dan sawit asal Aceh yang hadir dalam Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, penurunan harga pupuk menjadi salah satu kebijakan yang paling dirasakan manfaatnya di lapangan. "Terkait masalah pupuk, ini sangat luar biasa. Baru kali ini pemerintahan sekarang harga pupuk bisa turun 20 persen. Biasanya harga pupuk Urea bisa Rp 150 ribu per sak, hari ini sudah sekitar Rp 90 ribu. Luar biasa memang," ujar Yogi.

Ia menambahkan, turunnya harga pupuk membuat biaya produksi petani berkurang secara signifikan sehingga keuntungan pun meningkat. "Petani sangat diuntungkan kali ini. Terima kasih Bapak Presiden, dari petani Aceh," katanya.

Apresiasi serupa datang dari Abdul Latif, petani asal Pulau Sebatik, Kalimantan Utara. Bagi petani di wilayah perbatasan seperti dirinya, kebijakan ini terasa sangat membantu.

"Selama ini pupuk mahal. Dengan adanya subsidi yang dibantu kurang lebih 20 persen, masyarakat petani kecil merasa tertolong dengan program Pak Prabowo yang direalisasikan oleh Pak Mentan Amran Sulaiman," ungkapnya.

 

Indikator Kesejahteraan Petani

Seorang petani membawa karung berisi jerami padi yang telah dipisahkan dari tangkainya di Denpasar, Bali. (SONNY TUMBELAKA/AFP)

Kesan mendalam juga disampaikan Nurkholis, petani asal Berau, Kalimantan Timur, yang menyebut penurunan harga pupuk sebagai peristiwa bersejarah dalam hidupnya.

"Seumur hidup saya dari kecil sampai besar, mulai bapak saya sampai hari ini, inilah sejarah. Pupuk itu harganya turun, bukan naik. Sementara harga gabah naik, harga jagung juga naik, dan BULOG menyerap hasil panen dengan baik," ujarnya.

Menurut Nurkholis, kombinasi turunnya harga pupuk dan membaiknya harga komoditas pertanian telah membawa dampak nyata bagi ekonomi petani di daerahnya.

"Berasa sekali. Petani-petani di Berau sekarang rata-rata sudah punya mobil sendiri. Saya juga sudah punya. Alhamdulillah. Ini menunjukkan petani semakin sejahtera," katanya.

Manfaat serupa juga dirasakan Anandi Sari, petani asal Kabupaten Serang, Banten. Ia merasakan dampak positif penurunan harga pupuk pada hasil produksinya, meski berharap distribusi pupuk bersubsidi dapat terus diperluas hingga tingkat desa agar petani tidak lagi terbebani ongkos transportasi.

 

Dampak Penurunan Harga Pupuk

Dampak penurunan harga pupuk ini juga terpantau dari indikator makro kesejahteraan petani. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Mei 2026 mencapai 127,73, naik 1,99 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) tercatat sebesar 132,84, meningkat 1,95 persen.

Pada puncak PENAS XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026), Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa petani harus menjadi pihak yang paling merasakan manfaat dari pembangunan sektor pertanian.

"Saudara-saudara adalah produsen pangan. Tanpa pangan tidak ada negara. Karena itu petani harus hidup dengan baik, petani harus sejahtera, dan petani harus mendapatkan keuntungan dari hasil kerjanya," ujar Prabowo di hadapan puluhan ribu petani dan nelayan dari seluruh Indonesia, kemarin.

Komitmen itu diwujudkan melalui berbagai kebijakan pro-petani, dengan penurunan harga pupuk bersubsidi sebagai salah satu terobosan yang kini diakui langsung oleh petani dari Aceh hingga Kalimantan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya