Yen Tiba-Tiba Melonjak, Pasar Bersiap Hadapi Intervensi Lanjutan

Berikut respons ekonom mengenai intervensi terhadap mata uang yen pada Senin, (3/8/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 03 Agustus 2026, 11:32 WIB
Mata uang Yen Jepang. (Foto AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar yen melonjak terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin, (3/8/2026). Hal itu membuat pelaku pasar bersiaga menghadapi kemungkinan intervensi lanjutan oleh otoritas Jepang untuk menopang mata uang yen.

Hal ini terjadi setelah Tokyo mengkonfirmasi ada intervensi pembelian yen yang terkoordinasi dengan Amerika Serikat pekan lalu.

Mengutip Yahoo Finance, Senin pekan ini, Yen melonjak lebih dari 1% terhadap dolar AS hingga mencapai level tertinggi harian di 155,20, posisi terkuat sejak awal Mei. Hal ini setelah yen sempat tertahan di level terendah dalam 40 tahun akibat tekanan suku bunga rendah Jepang dan dampak kenaikan harga eneri terhadap terms of trade atau rasio harga ekspor terhadap impor Jepang.

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayam belum berkomentar mengenaikan apakah ada intervensi yang dilakukan Senin pekan ini.

Sementara itu, EM Asia FX and Rates Strategist BNP Paribas Singapore, Chandreesh Jain menuturkan sulit untuk memastikan apakah otoritas telah melakukan intervensi hari ini atau tidak. “Saya rasa pasar juga mencermati komentar yang muncul dari pihak Amerika Serikat (AS). Jadi menurut saya, para pelaku pasar yang memegang posisi long beli dolar/yen mulai menutup posisi pagi ini,” kata dia.

Ia menambahkan, intervensi semacam ini datang dan pergi dari waktu ke waktu. Akan tetapi, pergerakan dolar/yen tetap satu arah, yakni terus menguat.

“Hal ini jelas menunjukkan bahwa pasar tidak terlalu terpengaruh oleh intervensi tersebut; situasi baru bisa berubah jika dan hanya jika Bank of Japan (BOJ) mulai menaikkan suku bunga secara agresif,” kata dia.

 

Respons Ekonom

Papan elektronik menampilkan nilai tukar yen Jepang terhadap dolar AS dan indeks acuan Nikkei 225 Jepang di sebuah perusahaan perdagangan valuta asing di Tokyo, Selasa, 30 Juni 2026. (Kenichiro Kojima/Kyodo News via AP, File)

Sementara itu, Executive Adviser SBI FX Trade Japan, Yuji Santo menuturkan penurunan tajam pada pasangan mata uang dolar/yen kemungkinan besar disebabkan oleh ada intervensi tambahan.

Ia mengatakan, dalam pernyataan yang dirilis pagi ini, baik Jepang maupun AS menegaskan akan terus melakukan intervensi ke depannya.

"Upaya mengarahkan nilai tukar menuju yen yang lebih kuat telah menjadi kepentingan bersama bagi Jepang dan AS, sehingga kerja sama di antara keduanya berjalan lancar,” kata dia.

"Soal apakah mereka benar-benar menggunakan Fasilitas Repo Otoritas Moneter Asing dan Internasional (FIMA Repo Facility) adalah hal lain, namun jika fasilitas itu digunakan, tidak akan ada masalah meskipun mereka melanjutkan intervensi berskala besar melampaui perkiraan saat ini,” ia menambahkan.

Ekonom Senior NLI Research Institute, Japan, Tsuyoshi Ueno menuturkan, fundamental yang mendorong tekanan penjualan yen tidak berubah. Ia tidak memperkirakan apresiasi yen sepihak akan berlanjut setelah intervensi.

"Selama sumber pendanaan untuk langkah-langkah seperti pemotongan pajak konsumsi tetap tidak jelas, tekanan terhadap yen yang lebih lemah dan suku bunga yang lebih tinggi akan terus membara hingga akhir tahun. Ke depan, jika muncul situasi di mana pelemahan yen berlanjut bahkan ketika risiko suku bunga AS berkurang, AS mungkin akan mulai menjauhkan diri dari hubungan kerja sama ini,” kata dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya