Liputan6.com, Jakarta - Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) sepakat menaikkan kuota produksi minyak sekitar 188.000 barel per hari (bph) mulai September 2026. Keputusan tersebut sekaligus menandai berakhirnya pengurangan produksi sukarela yang diberlakukan sejak 2023 untuk menjaga keseimbangan pasar minyak dunia.
Dalam pernyataan resminya, dikutip dari CNBC, Senin (3/8/2026), OPEC+ menyebut kenaikan produksi tersebut disepakati oleh delapan anggota utama, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman. Kebijakan ini menyelesaikan proses bertahap pengembalian pasokan sebesar 1,65 juta barel per hari yang sebelumnya dipangkas secara sukarela.
Advertisement
Meski sepanjang tahun ini OPEC+ telah beberapa kali mengumumkan kenaikan produksi bulanan, dampaknya terhadap pasar relatif terbatas. Gangguan ekspor dari kawasan Teluk, Rusia, dan Kazakhstan akibat konflik di Iran dan Ukraina membuat tambahan pasokan belum sepenuhnya mengalir ke pasar global.
Sebelum pertemuan berlangsung, sejumlah sumber OPEC+ menyebut kelompok produsen tersebut kemungkinan akan menghentikan sementara penambahan produksi pada kuartal IV 2026. Namun, pernyataan resmi OPEC+ belum memberikan kepastian mengenai kebijakan produksi untuk tiga bulan terakhir tahun ini.
OPEC+ Diperkirakan Tahan Produksi Kuartal IV
Analis Rystad Energy, Jorge Leon, menilai keputusan OPEC+ menyelesaikan penghapusan pemangkasan produksi sukarela menjadi tonggak penting bagi kelompok produsen tersebut. Menurut dia, tantangan berikutnya adalah mengelola potensi kelebihan pasokan ketika arus ekspor kembali normal.
"OPEC+ telah menyelesaikan penghapusan pemangkasan produksi sukarela. Tantangan berikutnya adalah mengelola surplus yang dapat muncul ketika arus ekspor kembali normal."
Leon memperkirakan OPEC+ tidak memiliki alasan untuk terburu-buru kembali mengubah tingkat produksi setelah seluruh pengurangan sukarela dipulihkan.
"Setelah menyelesaikan proses pemulihan produksi, OPEC+ memiliki sedikit insentif untuk terburu-buru mengubah pasokan. Skenario dasar kami adalah kelompok ini akan menghentikan sementara kenaikan produksi pada kuartal IV sambil mempersiapkan negosiasi kuota produksi 2027."
Sementara itu, harga minyak dunia ditutup menguat pada akhir pekan lalu setelah Iran menyerang dua kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 1% menjadi US$ 84,67 per barel, sedangkan Brent menguat lebih dari 1% ke US$ 90,12 per barel. Meski demikian, secara mingguan harga minyak masih turun lebih dari 5% karena sempat tertekan oleh harapan meredanya konflik di Timur Tengah.
OPEC+ Bersiap Susun Kuota Produksi Baru untuk 2027
Meski pemangkasan produksi sukarela telah berakhir, OPEC+ masih mempertahankan satu lapis pengurangan produksi lainnya yang berlaku bagi sebagian besar anggota. Pemangkasan sekitar 2 juta barel per hari tersebut telah diterapkan sejak 2022 dan dijadwalkan tetap berlaku hingga akhir 2026.
Di saat yang sama, OPEC+ tengah meninjau kapasitas produksi minyak masing-masing anggota. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar penetapan kuota produksi baru yang mulai berlaku pada 2027.
Pembahasan kuota diperkirakan tidak akan mudah. Sejumlah negara anggota, termasuk Irak, menginginkan kuota produksi yang lebih besar karena mengklaim memiliki kapasitas produksi yang terus meningkat.
Saat ini OPEC+ terdiri dari 21 negara, yaitu anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) bersama Rusia dan sejumlah negara mitra. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, hanya delapan negara utama yang secara aktif mengatur kenaikan maupun penurunan produksi minyak bulanan.
Analis menilai negosiasi kuota produksi 2027 akan menjadi agenda penting OPEC+ karena akan menentukan arah kebijakan pasokan minyak dunia setelah seluruh pemangkasan produksi sukarela resmi berakhir.