Liputan6.com, Jakarta - Aktivitas perdagangan mata uang kripto di Korea Selatan mengalami penurunan tajam sepanjang semester I 2026. Total volume transaksi di lima bursa kripto terbesar berbasis won tercatat merosot 54,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan data NexBlock, dikutip dari CoinMarketCap, Minggu (2/8/2026), lima bursa kripto terbesar di Korea Selatan, yakni Upbit, Bithumb, Coinone, Korbit, dan Gopax, membukukan total volume perdagangan sekitar US$ 366,58 miliar selama enam bulan pertama 2026.
Advertisement
Penurunan tersebut mencerminkan melemahnya aktivitas perdagangan di salah satu pasar kripto ritel terbesar di Asia.
Tren pelemahan juga berlanjut pada Juli 2026. Selama periode 1-27 Juli, lima bursa tersebut mencatat total volume perdagangan sekitar 17,34 triliun won, turun 16,9% dibandingkan periode yang sama pada Juni.
Meski pasar secara keseluruhan melemah, Upbit justru berhasil memperkuat dominasinya sebagai bursa kripto terbesar di Korea Selatan.
Pada periode Juli, Upbit membukukan volume perdagangan sekitar 11,69 triliun won. Meskipun volume transaksinya turun sekitar 10%, pangsa pasarnya meningkat dari 62,3% menjadi 67,4% karena penurunan transaksi di bursa pesaing terjadi lebih dalam.
Likuiditas perdagangan kripto Terkonsentrasi
Bithumb, yang merupakan bursa kripto terbesar kedua di Korea Selatan, mencatat volume perdagangan sekitar 4,71 triliun won selama periode yang sama.
Namun, pangsa pasar Bithumb turun dari 30,7% menjadi 27,1%, sehingga selisih dengan Upbit semakin melebar.
Perubahan tersebut menunjukkan likuiditas perdagangan kripto semakin terkonsentrasi pada platform yang lebih besar. Bursa dengan likuiditas tinggi dinilai lebih menarik bagi investor karena mampu mendukung transaksi dalam jumlah besar serta membantu mengurangi selisih harga antara penawaran beli dan jual.
Di sisi lain, bursa yang lebih kecil seperti Coinone, Korbit, dan Gopax menghadapi tekanan yang semakin besar di tengah melemahnya aktivitas perdagangan.
Laporan NexBlock menyebut sejumlah platform mulai mencari strategi pertumbuhan baru, antara lain menjalin kerja sama dengan perusahaan sekuritas, memperluas layanan bagi investor institusi, hingga melakukan restrukturisasi operasional.
Persaingan antar bursa kripto di Korea Selatan pun diperkirakan tidak lagi hanya bergantung pada volume transaksi investor ritel.
Penerapan Pajak Kripto
Ke depan, layanan stablecoin, kepatuhan terhadap regulasi, akses bagi investor institusi, hingga kemitraan dengan perusahaan jasa keuangan tradisional diperkirakan akan menjadi faktor penting dalam menentukan daya saing bursa kripto.
Penurunan aktivitas perdagangan juga terjadi menjelang penerapan pajak aset kripto yang direncanakan pemerintah Korea Selatan mulai 1 Januari 2027.
Dalam rancangan kebijakan tersebut, keuntungan perdagangan kripto di atas 2,5 juta won per tahun atau sekitar US$ 1.740 akan dikenakan tarif pajak gabungan sebesar 22%, yang mencakup pajak nasional dan pajak daerah.
Seiring persiapan penerapan aturan baru tersebut, bursa kripto diperkirakan akan menghadapi kewajiban pelaporan dan kepatuhan yang lebih ketat.
Besarnya dampak kebijakan terhadap aktivitas perdagangan nantinya akan bergantung pada implementasi aturan pemerintah serta respons investor terhadap kewajiban pajak baru tersebut.