Jumlah Warga Jepang Terus Menyusut, Kini di Bawah 120 Juta

Penurunan populasi terus menjadi persoalan besar bagi Jepang di tengah rendahnya angka kelahiran dan bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 30 Juli 2026, 14:17 WIB
Ilustrasi masyarakat Jepang. (AFP)

Liputan6.com, Tokyo - Jumlah warga negara Jepang yang tinggal di dalam negeri turun hingga di bawah 120 juta jiwa untuk pertama kalinya dalam 42 tahun. Data pemerintah yang dirilis pada Rabu (29/7/2026) itu menunjukkan tantangan yang dihadapi Jepang akibat rendahnya angka kelahiran dan penduduk yang semakin menua.

Menurut Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang seperti dilaporkan CNA, per 1 Januari, jumlah warga Jepang yang tinggal di dalam negeri tercatat sebanyak 119,74 juta jiwa, turun 0,76 persen dibandingkan setahun sebelumnya.

Jumlah tersebut telah menurun selama 17 tahun berturut-turut sejak mencapai puncaknya pada 2009, berdasarkan survei yang mulai dilakukan pada 1968.

Sebaliknya, menurut kementerian yang sama, jumlah warga negara asing yang tinggal di Jepang mencapai angka tertinggi sejak pendataan dimulai pada 2013.

Jika warga asing ikut dihitung, total penduduk Jepang mencapai 123,8 juta jiwa.

Dengan median usia 49,9 tahun, menurut Bank Dunia, Jepang menjadi negara dengan penduduk tertua kedua di dunia setelah Monako.

Data yang dirilis pada Juni menunjukkan angka fertilitas Jepang kembali turun pada tahun lalu dan mencatat rekor terendah baru. Kondisi itu semakin menegaskan krisis demografi yang menggerogoti negara dengan perekonomian terbesar keempat di dunia tersebut.

Krisis yang berkembang perlahan ini sudah menyebabkan kekurangan tenaga kerja, membengkaknya beban jaminan sosial, dan menyusutnya jumlah pembayar pajak.

Data pemerintah menunjukkan angka fertilitas total—rata-rata jumlah anak yang diperkirakan akan dilahirkan seorang perempuan sepanjang hidupnya—turun 0,01 poin dari tahun sebelumnya menjadi 1,14. Penurunan itu terjadi selama 10 tahun berturut-turut.

Jumlah bayi yang lahir di Jepang juga berkurang hampir 15.000 menjadi sedikit di atas 670.000 bayi, angka terendah sejak pencatatan dimulai pada 1899.

Namun, ada sedikit kabar baik bulan ini. Sebanyak 265 pasangan telah menikah setelah berkenalan melalui aplikasi perjodohan berbasis kecerdasan buatan yang diluncurkan Pemerintah Metropolitan Tokyo.

Aplikasi TOKYO Enmusubi mulai beroperasi pada September 2024 setelah sebuah survei menemukan bahwa sekitar 70 persen orang yang ingin menikah tidak aktif mencari pasangan.

Untuk mengatasi keengganan tersebut sekaligus memastikan hanya orang yang benar-benar berniat menikah yang bergabung, pendaftar harus membuktikan bahwa mereka secara hukum masih lajang dan menjalani wawancara daring, selain memenuhi sejumlah persyaratan lainnya.

Hingga 30 Juni tahun ini, aplikasi tersebut memiliki 16.000 anggota terdaftar yang telah disaring dari sekitar 36.000 pendaftar. Berdasarkan data pemerintah yang dirilis bulan ini, sebanyak 760 pasangan juga tengah menjalani hubungan serius.

Pemerintah mengutip kisah seorang perempuan dengan nama samaran "Turtle" yang mengaku mencoba aplikasi tersebut sebagai "kesempatan terakhir" menjelang ulang tahunnya yang ke-40.

"Setelah beberapa kali menjalani kencan buta, saya bertemu dengan pria yang kini menjadi suami saya pada akhir Agustus. Kami mulai menjalin hubungan serius pada pertengahan September," katanya.

"Saya menerima lamarannya pada akhir Desember."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya