Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia bergerak variatif pada pembukaan perdagangan Kamis (30/7/2026), setelah Wall Street mengalami tekanan tajam pada sesi sebelumnya.
Investor mencermati keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga serta laporan keuangan terbaru perusahaan teknologi raksasa AS.
Advertisement
Dikutip dari CNBC, di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,25%, sedangkan indeks Topix melemah 0,59%.
Berbeda dengan Jepang, indeks Kospi Korea Selatan dibuka menguat 0,89% setelah mengalami penurunan tajam pada perdagangan Rabu. Sementara itu, indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq turun 0,73%.
Bursa saham Australia turut bergerak di zona merah. Indeks acuan S&P/ASX 200 turun 0,26%.
Pergerakan Bursa Asia terjadi setelah Wall Street mencatat tekanan besar. Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 1.153,18 poin atau 2,19%, mencatat penurunan terburuk sejak April 2025.
Indeks S&P 500 juga merosot 1,52%. Sementara itu, Nasdaq Composite turun 1,74% dan mengakhiri perdagangan lebih dari 10% di bawah rekor tertinggi intraday.
Namun, kontrak berjangka indeks saham AS mulai bergerak positif pada Rabu malam waktu setempat. Futures Dow Jones naik 158 poin atau 0,3%, S&P 500 futures menguat 0,4%, sedangkan Nasdaq 100 futures naik 0,7%.
Kinerja Big Tech Jadi Perhatian
Investor di kawasan Asia juga mencermati laporan keuangan perusahaan teknologi besar AS yang menunjukkan hasil beragam.
Saham Meta Platforms anjlok 7% dalam perdagangan setelah jam bursa setelah perusahaan memberikan proyeksi pendapatan yang lebih lemah.
Sebaliknya, saham Microsoft melonjak 8% setelah bisnis Azure mencatat pertumbuhan yang kuat. Perbedaan tersebut memperlihatkan hasil yang semakin beragam dari strategi investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) perusahaan Big Tech.
"Pada akhirnya, ini merupakan kisah tentang dua strategi investasi AI. Satu perusahaan mampu meningkatkan laba sembari mengeluarkan belanja besar, sedangkan perusahaan lainnya membiarkan biaya tersebut menggerus laba bersih," ujar Chief Investment Officer Pave Finance Stephen Evans.
Menurut Evans, kinerja Microsoft juga menunjukkan kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan perusahaan kemungkinan terlalu berlebihan.
"Hasil Microsoft menunjukkan kekhawatiran mengenai perlambatan pertumbuhan mungkin terlalu berlebihan, terutama setelah tekanan yang dialami sahamnya," kata dia.
"Bisnis periklanan Meta tetap kuat, tetapi perusahaan sekarang harus menunjukkan pengendalian biaya yang lebih baik dan imbal hasil investasi yang lebih konsisten sebelum kepercayaan dapat sepenuhnya pulih," lanjut Evans.
Keputusan The Fed Bayangi Pasar
Selain laporan keuangan Big Tech, investor mencermati keputusan terbaru The Fed yang mempertahankan suku bunga pada pertemuan Rabu.
Keputusan tersebut memicu kenaikan tajam imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS berjangka panjang. Yield US Treasury tenor 30 tahun melonjak 10 basis poin hingga menembus 5,2%, sekaligus mencapai level tertinggi sejak 2007.
Head of Global Equities and Real Assets Wells Fargo Investment Institute Sameer Samana mengatakan The Fed masih memilih bersabar dalam menentukan langkah kebijakan moneter selanjutnya.
"The Fed tetap bersabar dan berada dalam mode menunggu dan melihat, serta akan terus memantau bagaimana perekonomian berkembang dalam beberapa bulan mendatang," ujar Samana.
Kondisi tersebut membuat pertemuan The Fed pada September tetap terbuka untuk perubahan kebijakan apabila data ekonomi mendukung langkah tersebut.
"Hal ini membuat pertemuan September tetap 'terbuka' sebagai kesempatan bagi The Fed untuk bertindak jika didukung data yang masuk guna meredakan tekanan inflasi yang meningkat," kata Samana.
Investor Tunggu Data Inflasi AS
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati sejumlah data ekonomi AS yang dirilis pada Kamis, termasuk klaim pengangguran mingguan dan indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) periode Juni.
Konsensus Dow Jones memperkirakan inflasi utama tumbuh 3,7% secara tahunan. Jika mengeluarkan komponen energi dan makanan yang bergejolak, inflasi diperkirakan naik 3,3%.
Pasar juga menantikan pembacaan awal pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil AS pada kuartal II.
Data-data tersebut berpotensi menjadi perhatian Bursa Asia karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah suku bunga The Fed pada pertemuan September.
Dari sisi korporasi, pekan padat laporan keuangan AS masih berlanjut. Bristol-Myers Squibb dijadwalkan merilis kinerja sebelum perdagangan Wall Street dibuka pada Kamis.
Sementara itu, Amazon, Apple, dan Coinbase dijadwalkan melaporkan kinerja keuangan setelah penutupan perdagangan.
Pergerakan Bursa Asia selanjutnya akan dipengaruhi respons investor terhadap laporan keuangan perusahaan AS, data ekonomi terbaru, serta perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed.