AS-Arab Saudi Serang Milisi Pro-Iran di Irak, 20 Orang Tewas

Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap kelompok milisi yang didukung Iran di Irak.

oleh Septian DenyDiterbitkan 29 Juli 2026, 20:19 WIB
Lokasi serangan di Bartalla di provinsi Nineveh, Irak utara, Rabu, 29 Juli 2026. Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap kelompok milisi yang didukung Iran di Irak. (AFP/ Zaid Al-Obeidi)

Liputan6.com, Baghdad - Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap kelompok milisi yang didukung Iran di Irak. Serangan tersebut berpotensi meningkatkan eskalasi konflik di Timur Tengah yang kembali memanas setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke pasukan AS di kawasan.

Dikutip dari BBC, Rabu (29/7/2026), Komando Pusat AS (US Central Command/Centcom) mengatakan serangan tersebut menyasar teroris yang bersekutu dengan Iran dan diarahkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk menyerang pasukan AS serta infrastruktur energi Arab Saudi.

Pasukan Mobilisasi Populer (Popular Mobilisation Forces/PMF) Irak, organisasi paramiliter yang didominasi kelompok Syiah yang didukung Iran, menyatakan sedikitnya 20 anggotanya tewas dalam serangan AS dan Arab Saudi terhadap sejumlah pangkalannya.

Serangan itu terjadi beberapa jam setelah Centcom mengumumkan bahwa Iran meluncurkan rudal ke pasukan AS di Timur Tengah dalam apa yang disebut sebagai “upaya serangan kejutan”. Serangan tersebut mengakhiri jeda singkat dalam pertempuran antara kedua pihak.

Menurut AS, serangan Iran terjadi pada Selasa pukul 17.45 waktu setempat atau 21.45 GMT. Seluruh rudal yang diluncurkan disebut berhasil dicegat.

IRGC mengklaim rudal-rudal tersebut menyasar sebuah pangkalan udara AS dan pusat komando di Yordania sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai tindakan agresi dari militer AS.

IRGC juga mengatakan pasukan angkatan lautnya menyerang tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz setelah kapal-kapal tersebut “mengabaikan peringatan” dan melintas melalui jalur yang disebut Iran sebagai rute tidak aman dan ilegal di jalur perairan strategis tersebut.

AS Klaim Gagalkan Puluhan Serangan DroneCentcom mengatakan jet tempur AS dan Arab Saudi menyerang sejumlah lokasi logistik dan persenjataan milik kelompok yang disebutnya sebagai teroris di wilayah timur Irak.

Serangan tersebut dilakukan sebagai respons terhadap lebih dari 30 serangan drone yang diarahkan IRGC dalam 72 jam terakhir. Centcom menyebut serangkaian serangan drone itu tidak beralasan dan gagal mencapai tujuannya.

“IRGC dan proksinya harus menghentikan serangan ini untuk menghindari respons militer AS lebih lanjut,” kata Centcom dalam pernyataannya.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Arab Saudi, Mayjen Turki al-Maliki, juga menuding kelompok milisi yang didukung Iran meluncurkan drone dari wilayah Irak ke fasilitas minyak di kawasan Timur dan Riyadh pada Senin dan Selasa.

Menurutnya, Arab Saudi menggunakan hak membela diri dengan melancarkan serangan terhadap target tertentu yang disebut merupakan milik kelompok milisi tersebut.

“Kerajaan Arab Saudi menegaskan kembali bahwa mereka tidak menginginkan eskalasi, tetapi akan merespons secara tegas setiap agresi yang ditujukan kepadanya,” kata al-Maliki.

 

Puluhan Anggota PMF Tewas

Pasukan keamanan dan personel darurat bekerja di lokasi serangan di utara distrik al-Miqdadiyah di provinsi Dayala, Irak, Rabu, 29 Juli 2026. Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap kelompok milisi yang didukung Iran di Irak. (AFP/ Younis Al-Bayati)

PMF dalam pernyataannya pada Rabu pagi mengatakan sedikitnya 20 anggotanya tewas dan 32 lainnya terluka akibat serangan AS dan Arab Saudi terhadap sejumlah markas mereka.

Serangan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Baghdad, Wasit, Nineveh, Basra, Kirkuk, Karbala, dan Diyala.

Seorang pejabat yang dikutip AFP mengatakan serangan di Nineveh di wilayah utara dan Diyala di wilayah tengah Irak merupakan yang paling mematikan.

PMF mengecam serangan tersebut sebagai “serangan teroris yang berkhianat”. Kelompok itu menyebut serangan tersebut sebagai eskalasi yang sangat serius sekaligus pelanggaran terhadap kedaulatan Irak karena menyasar institusi keamanan resmi negara.

PMF merupakan organisasi payung yang terdiri atas sejumlah kelompok milisi yang mayoritas beranggotakan Muslim Syiah dan telah secara resmi menjadi bagian dari angkatan bersenjata Irak.

Organisasi tersebut mencakup sejumlah kelompok yang didukung Iran dan menjadi bagian dari jaringan proksi yang selama bertahun-tahun digunakan Teheran untuk memperluas kepentingannya di Timur Tengah.

Kelompok-kelompok tersebut sebelumnya telah beberapa kali menyerang personel dan kepentingan AS di Irak dengan tujuan mendorong pasukan AS yang masih berada di negara tersebut untuk meninggalkan Irak. AS juga secara rutin melancarkan serangan balasan terhadap kelompok-kelompok tersebut.

Seorang pejabat pertahanan Iran yang dikutip televisi pemerintah membantah adanya keterlibatan Iran dalam serangan drone terhadap Arab Saudi. Reuters melaporkan pejabat tersebut memperingatkan bahwa mengaitkan serangan terhadap kepentingan AS di kawasan dengan Iran merupakan “salah perhitungan besar”.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya