Dino Patti Djalal: Indonesia Harus Berani Pimpin Transisi Energi

Menurut Dino Patti Djalal, negara mana yang bisa menjadi inspirasi Indonesia dalam mempercepat transisi energi menuju net zero?

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 29 Juli 2026, 18:35 WIB
Press Briefing Konferensi Indonesia Net-Zero Summit Rabu (29/7/2026) (Dok: Liputan6/Nasywa Fakhirah)

Liputan6.com, Jakarta - Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) akan kembali menggelar Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026 pada Sabtu mendatang. Konferensi tahunan yang diselenggarakan sejak 2021 itu tahun ini mengusung tema "It’s Time to Deliver" atau "Saatnya Menunjukkan Hasil", dengan fokus pada percepatan aksi menghadapi perubahan iklim dan transisi energi.

Pendiri sekaligus Chairman FPCI, Dino Patti Djalal, menegaskan bahwa perubahan iklim merupakan ancaman nyata yang membutuhkan langkah konkret, bukan sekadar komitmen.

"Perubahan iklim akan menyerang kita dalam waktu dekat," ujar Dino dalam konferensi pers Indonesia Net-Zero Summit di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Menurut Dino, periode 2020–2030 merupakan fase yang sangat menentukan bagi negara-negara untuk mencapai target transisi energi. Ia menyoroti capaian Indonesia yang masih jauh dari target bauran energi terbarukan sebesar 23 persen. Hingga saat ini, realisasinya baru berada di kisaran 11–12 persen.

Ia menilai berbagai negara telah menunjukkan kemajuan yang dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia. Menurutnya, China menjadi salah satu contoh karena menetapkan target yang realistis dan hanya menyampaikan komitmen yang diyakini dapat dicapai.

Namun, saat ditanya negara mana yang bisa menjadi inspirasi Indonesia dalam transisi energi, Dino menegaskan bahwa referensi Indonesia tidak hanya berasal dari China dan bukan pula Amerika Serikat.

"Negara yang kita jadikan inspirasi itu bukan hanya China, dan yang jelas juga bukan Amerika Serikat," kata Dino.

Ia menilai Amerika Serikat tidak lagi dapat dijadikan acuan, terutama setelah Presiden Donald Trump kembali menunjukkan sikap yang meragukan keberadaan perubahan iklim.

Sebaliknya, Dino menilai sejumlah negara berkembang justru berhasil menunjukkan kemajuan signifikan dalam pengembangan energi terbarukan. Pakistan, misalnya, mampu meningkatkan porsi energi terbarukan dari sekitar 2 persen menjadi 32 persen hanya dalam kurun lima tahun.

Selain Pakistan, ia juga menyoroti Brasil yang telah mencapai sekitar 90 persen bauran energi terbarukan. Chili disebut mengalami peningkatan yang pesat, sementara Sri Lanka dan India dinilai berhasil memperluas pemanfaatan energi surya. Meski India masih bergantung pada batu bara, negara tersebut dinilai mampu mendorong pertumbuhan energi terbarukan secara signifikan.

"Nepal juga contoh yang baik. Lalu Uruguay, yang tadinya bergantung pada bahan bakar fosil, kini berhasil melakukan transisi energi," ujarnya.

Meski demikian, Dino menekankan bahwa Indonesia tidak boleh hanya meniru keberhasilan negara lain tanpa membangun strategi sendiri.

"Kalau kita hanya menyontek dan tidak bergerak sendiri, kita semua akan kalah," katanya.

Ia juga menanggapi pertanyaan mengenai peluang Indonesia mengambil peran kepemimpinan global di tengah belum maksimalnya komitmen sejumlah negara maju dalam aksi iklim.

"Kalau mereka tidak mau bergerak lebih jauh, bisakah kita memimpin?" ujarnya.

Dino mengakui upaya tersebut tidak akan mudah. Namun, ia berharap Indonesia mampu menjadi salah satu negara yang progresif dalam mendorong transisi energi dan penanganan perubahan iklim.

"Tidak ada pertarungan yang mudah," tutupnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya