Liputan6.com, Jakarta - PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) mencatat kinerja keuangan beragam hingga semester I 2026. Perseroan mencatat pertumbuhan pendapatan, tetapi laba merosot hingga Juni 2026.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu, (29/7/2026), PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) meraup pendapatan US$ 82,1 juta hingga semester pertama 2026. Pendapatan perseroan tumbuh 22,8% dari periode sama tahun sebelumnya US$ 66,9 juta.
Advertisement
Kontribusi pendapatan itu dari sektor energi naik 5,4% menjadi US$ 51,8 juta dari periode sama tahun sebelumnya US$ 49,1 juta. Sektor kepelabuhanan dan penyimpanan turun 9,2% menjadi US$ 2,5 juta dari periode sama tahun sebelumnya US$ 2,8 juta.
Dari sektor logistik melonjak 80,2% menjadi US$ 27 juta hingga semester pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya US$ 15 juta. Pertumbuhan itu didukung bisnis logistik maritim dan darat.
Beban pokok pendapatan naik 30,9% menjadi US$ 62,5 juta dari periode sama tahun sebelumnya US$ 47,8 juta. Laba kotor naik tipis 2,8% menjadi US$ 19,6 juta dari periode sama tahun sebelumnya US$ 19,1 juta.
Akan tetapi, laba bersih setelah pajak anjlok 74% menjadi US$ 19,3 juta hingga semester pertama 2026. Pada periode sama tahun lalu, laba perseroan sebesar US$ 74,4 juta. Earning Before Interest, Tax, Depreciation, Amortization (EBITDA) naik 25,3% menjadi US$ 31,6 juta hingga semester pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya US$ 25,2 juta.Marjin EBITDA naik dari 37,7% menjadi 38,5%, yang dinilai kontribusi yang semakin besar dari platform infrastruktur perseroan yang terdiversifikasi.
Aset Perseroan
Perseroan mencatat ekuitas turun 2,5% dari US$ 1,13 triliun hingga 2025 menjadi US$ 1,10 triliun pada semester pertama 2026. Liabilitas perseroan naik 35,9% menjadi US$ 826,3 juta hingga 30 Juni 2026 dari Desember 2025 sebesar US$ 607,9 juta. Aset perseroan naik 10,9% menjadi US$ 1,93 miliar hingga 30 Juni 2026 dari 2025 sebesar US$ 1,74 miliar.
Utang berbunga perseroan naik 36,5% menjadi US$ 768 juta hingga Juni 2026 dari Desember 2025 sebesar US$ 562,5 juta. Kas dan setara kas serta surat berharga turun 18% menjadi US$ 658,7 juta hingga 30 Juni 2026 dari Desember 2025 sebesar US$ 803,3 juta.
“Posisi likuiditas yang kuat ini memberikan fleksibilitas keuangan untuk mendukung pengembangan proyek strategis, sekaligus menjalankan secara disiplin guna meningkatkan pendapatan berulang dan berbasis kontrak,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.
Ekspansi Perseroan
Selain itu, pada semester pertama 2026, perseroan menyampaikan pelayaran perdana dan sandar perdana Novah, kapal kapal logistik cair kimia berkapasitas 9.000 DWT yang baru dibangun bersama Usuki Shipyard. Kapal ini memperkuat kapabilitas logistik maritim CDI, meningkatkan keandalan layanan pada rute domestik dan internasional, serta mendukung pertumbuhan permintaan distribusi bahan kimia dan rantai pasok industri di kawasan.
“Kami juga memperluas bisnis di luar angkutan konvensional bahan kimia dan gas melalui investasi strategis. Perseroan menginvestasikan US$ 90 juta (Rp 1,62 triliun, asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.080) untuk mengakuisisi 40% kepemilikan di PT Armada Maritim Persada, sehingga memperluas kehadiran CDI di bidang logistik pertambangan dan jasa pengelolaan pelabuhan,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.
Selain itu, CDI menginvestasikan US$ 15,5 juta atau Rp 280,25 miliar untuk memperoleh 49% kepemilikan di Petrosea Services Solutions Pte. Ltd., yang memberikan akses ke basis pelanggan yang lebih luas, arus kargo yang lebih terdiversifikasi, serta potensi pendapatan dividen di masa mendatang, sekaligus memperkuat peluang pertumbuhan jangka panjang.
Fokus Perseroan
Pada pilar Kepelabuhanan & Penyimpanan, PT SCG Barito Logistics menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Krakatau Bandar Samudera untuk mengeksplorasi pengembangan layanan penyimpanan ISO tank, dry-container storage, dan layanan lift-on/lift-off di Krakatau International Port. Di saat yang sama, pembangunan fasilitas penyimpanan bitumen berkapasitas 12.000 m³ di Merak telah mencapai sekitar 75%, sesuai rencana untuk mulai beroperasi pada kuartal ketiga 2026.
Pada pilar energi, CDI terus memperluas portofolio infrastruktur berkelanjutan melalui pengembangan peluang bisnis rendah karbon. PT Chandra Waste Energy, perusahaan anak yang dimiliki secara tidak langsung oleh CDI, bersama mitra konsorsiumnya ditunjuk untuk melaksanakan studi kelayakan proyek waste-to-energy Danantara di Serang.
Penunjukan ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan bisnis pembangkit listrik berbasis pengolahan sampah serta mempertegas komitmen Perseroan dalam menghadirkan solusi infrastruktur berkelanjutan.
Ke depan, CDI tetap berfokus pada penyelesaian proyek-proyek yang tengah dikembangkan, pengoperasian aset-aset baru, peningkatan kontribusi pendapatan dari pihak ketiga, serta penempatan modal secara selektif guna memperkuat platform infrastruktur terintegrasinya. Melalui pelaksanaan yang disiplin dan alokasi modal yang prudent, Perseroan berkomitmen untuk menciptakan nilai jangka panjang yang berkelanjutan bagi para pemegang saham.