KAI Gandeng BRIN Kembangkan Teknologi Automatic Train Protection

Kolaborasi KAI dan BRIN dinilai akan memberikan ruang untuk menguji berbagai alternatif teknologi.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 29 Juli 2026, 08:20 WIB
Logo baru PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI (dok: KAI)

Liputan6.com, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (Persero) menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengembangkan teknologi Automatic Train Protection (ATP) sebagai upaya meningkatkan keselamatan dan keandalan operasional perkeretaapian nasional. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman pada ajang BRIN Goes to Industry 5 di Jakarta.

Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI I Gede Darmayusa mengatakan pengembangan ATP akan dilakukan melalui kajian, pengujian, dan evaluasi yang disesuaikan dengan karakteristik operasional perkeretaapian di Indonesia.

"Keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam setiap proses adopsi teknologi di KAI. Kolaborasi bersama BRIN memberi ruang bagi kami untuk menguji berbagai alternatif teknologi berbasis riset sehingga keputusan implementasinya memiliki landasan teknis, operasional, dan keselamatan yang kuat,” ujar I Gede di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

ATP merupakan sistem proteksi perjalanan kereta yang berfungsi mencegah kereta melanggar sinyal berhenti (signal passed at danger), mengawasi kecepatan perjalanan, serta menyampaikan informasi operasional kepada masinis. Pengembangannya mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 52 Tahun 2014 tentang kewajiban implementasi Sistem Kendali Kereta Otomatis.

KAI dan BRIN akan menggunakan pendekatan Proof of Product untuk memvalidasi fungsi, integrasi, dan kinerja teknologi sebelum menentukan sistem ATP yang akan diadopsi. Tahap tersebut juga bertujuan mengidentifikasi risiko, kesenjangan teknologi, serta kebutuhan penyesuaian terhadap kondisi operasional KAI yang kompleks.

“Proof of Product memungkinkan teknologi dinilai dalam situasi operasional yang relevan. KAI dapat memahami sejak awal fungsi, antarmuka, kebutuhan integrasi, potensi risiko, serta kemampuan pemeliharaannya sebelum teknologi tersebut diterapkan dalam skala yang lebih luas,” kata I Gede.

 

Pengembangan ATP

Dengan total kapasitas tempat duduk untuk kereta api jarak jauh sebanyak 743.904 atau 41.328 tempat duduk per hari. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Roadmap pengembangan ATP dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama dimulai pada triwulan III-2026 melalui pembentukan ATP Working Group bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian dan BRIN untuk menyusun konsep adopsi, kebutuhan teknis, serta kajian kondisi operasional di Indonesia.

Tahap kedua pada triwulan IV-2026 difokuskan pada perencanaan Proof of Product dan market sounding kepada penyedia teknologi, sedangkan tahap ketiga hingga triwulan II-2027 mencakup uji lapangan, evaluasi, dan safety assessment.

Selain mengkaji teknologi ATP berbasis balise dan perangkat onboard, KAI juga mengeksplorasi pemanfaatan teknologi berbasis satelit dan komunikasi nirkabel yang masih memerlukan kajian regulasi serta kesiapan jaringan komunikasi khusus perkeretaapian.

“Arah akhirnya adalah membangun ekosistem inovasi perkeretaapian Indonesia yang semakin mandiri, adaptif, serta mampu mendukung keselamatan dan keandalan perjalanan dalam jangka panjang," ujar I Gede.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya