Liputan6.com, Jakarta - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai berharap sayembara digelar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terkait begal hanyalah lelucon belaka. Akan tetapi, jika itu serius, Pigai menilai sayembara itu tidak boleh digelar.
"Kalau serius ya tidak boleh. Tapi kalau guyonan enggak apa-apa. Guyonan aja. Tapi kalau serius tidak boleh, itu bahaya. Menteri HAM bilang, saya berharap itu guyonan, tapi serius diusahakan tidak boleh," kata Pigai di Hotel Papandayan, Bandung, pada Selasa (28/7/2026).
Advertisement
Pigai menyebut sayembara itu ditujukan bagi warga Jawa Barat yang merupakan sipil. Mereka tidak terlatih untuk menangkap pelaku begal sehingga dikhawatirkan malah mengakibatkan pertumpahan darah.
"Anda membayar untuk menangkap orang. Kalau nangkap begini, orang yang menangkap terlatih enggak? Kalau sipil yang tidak terlatih mukul dong, ya? Berdarah-darah. Apa perbolehkan kita bayar orang untuk memukul orang lain di lapangan?" ucap dia.
"Tidak etis. Tapi dugaan saya beliau guyonan, tidak serius. Ya. Semoga guyonan dan tidak serius," lanjut dia.
Sayembara Tangkap Begal Dedi Mulyadi
Sebelumnya, Dedi mengadakan sayembara bagi warga yang berhasil menangkap begal, jambret, maling, hingga copet kemudian menyerahkannya ke polisi. Hadiahnya yaitu senilai Rp 5 hingga Rp 50 juta.
"Saya memberikan sayembara pada seluruh warga Jabar. Yang bisa melumpuhkan maling, copet, jambret, begal, rampok kami siapkan hadiah dari Rp 5 sampai Rp 50 juta yang mampu melumpuhkan berbagai aksi kejahatan dan menyerahkannya kepada kepolisian dalam keadaan hidup," kata dia melalui keterangan di akun Instagram pribadinya sebagaimana dilihat pada Kamis (23/7).
Dedi mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Polda Jabar dan Polda Metro Jaya dalan memberantas begal. Dia sudah meminta agar patroli terus dilakukan tiap malam.
"Siaga menghadapi begal. Kita terus berkoordinasi dengan jajaran kepolisian khususnya Polda Jabar dan kita juga akan berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya untuk siaga menghadapi berbagai aksi kejahatan di Jawa Barat," ucap dia.
"Mobil patroli harus siaga dalam setiap malam. Lampu tanda bahayanya harus terus menyala. Satpol PP, Damkar siaga di titik-titik strategi untuk mengantisipasi berbagai segala kemungkinan dalam setiap waktu," lanjut dia.
Reporter: Azzura Galexia/merdeka.com