Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (28/7/2026) pagi. Pergerakan rupiah dibayangi sikap hati-hati pelaku pasar dalam mencermati arah kebijakan Bank Indonesia (BI) di tengah transisi kepemimpinan bank sentral.
Rupiah dibuka melemah 61 poin atau 0,34 persen menjadi Rp 18.070 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, mata uang Garuda berada di level Rp 18.009 per dolar AS. Dikutip dari Google Finance, rupiah berada di level 18.093 per dolar AS pada pukul 11.25 WIB.
Advertisement
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menjelaskan, faktor domestik menjadi salah satu sentimen yang memengaruhi pergerakan rupiah. Investor masih menunggu arah kebijakan BI setelah perubahan kepemimpinan.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dipengaruhi oleh faktor domestik sikap hati-hati pelaku pasar terhadap arah kebijakan BI di bawah Gubernur yang baru,” ucapnya dikutip dari Antara.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebelumnya ditetapkan sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya.
Pemerintah selanjutnya akan menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) mengenai pemberhentian Perry Warjiyo secara hormat. Proses pergantian kemudian memasuki masa transisi sebelum calon Gubernur BI definitif diajukan.
Pasar Tunggu Gubernur BI Definitif
Sesuai ketentuan Undang-Undang Bank Indonesia, Presiden akan mengusulkan calon Gubernur BI kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Nama yang diajukan selanjutnya menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR RI sebelum mendapatkan persetujuan.
Setelah memperoleh persetujuan DPR, calon tersebut dapat ditetapkan dan dilantik Presiden sebagai Gubernur BI definitif.
Di tengah proses tersebut, Rully menilai Gubernur BI berikutnya perlu memberikan perhatian terhadap penguatan kelembagaan bank sentral, termasuk dalam menjalankan kebijakan moneter.
“Gubernur BI yang baru perlu memprioritaskan penguatan kelembagaan, terutama kebijakan operasional moneter yang mempengaruhi jumlah uang beredar dan ekspektasi inflasi, di mana seharusnya BI tidak secara langsung membeli obligasi pemerintah di pasar perdana,” ungkap Rully.
Arah kebijakan bank sentral menjadi salah satu perhatian pasar karena berkaitan dengan upaya menjaga stabilitas rupiah dan inflasi. Selain faktor domestik, pergerakan rupiah juga dipengaruhi perkembangan sentimen dari pasar global.
Sentimen Global Cenderung Positif
Dari eksternal, sentimen global dinilai relatif positif bagi pasar. Indeks dolar AS bergerak stabil, sementara harga minyak mengalami penurunan seiring meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Mengutip Anadolu, Presiden AS Donald Trump menginstruksikan penangguhan serangan lanjutan terhadap Iran. Langkah tersebut mengakhiri rangkaian serangan yang berlangsung selama 13 hari berturut-turut.
Meski ketegangan mereda, hubungan Washington dan Teheran masih menjadi perhatian pasar. Iran menyatakan saat ini tidak sedang melakukan perundingan dengan Amerika Serikat. Peluang pembicaraan pada masa mendatang disebut bergantung pada perubahan sikap Washington.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei juga membantah laporan yang menyebut Teheran telah meminta perundingan dengan AS.
Perkembangan geopolitik tersebut berpotensi tetap menjadi salah satu faktor yang dicermati pelaku pasar. Di dalam negeri, perhatian investor tertuju pada proses transisi kepemimpinan BI dan arah kebijakan moneter yang akan ditempuh bank sentral.