Liputan6.com, Jakarta - Pos Pengamatan mencatat kondisi Gunung Ijen yang memiliki ketinggian 2.386 mdpl hingga saat ini masih berada pada Level I (Normal). Meski statusnya aman, petugas mengimbau pengunjung dan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi ancaman bahaya tersembunyi di sekitar kawasan kawah.
Berdasarkan laporan resmi periode pengamatan 27 Juli 2026 pukul 00.00–24.00 WIB, kondisi cuaca di sekitar puncak Ijen terpantau bervariasi, mulai dari cerah, berawan, mendung, hingga hujan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dengan suhu udara berkisar antara 17–27 derajat Celsius. Secara visual, gunung kerap tertutup kabut dan asap kawah tidak teramati.
Advertisement
Dari sisi kegempaan, petugas mencatat adanya aktivitas mikro yang dinilai masih relatif rendah, namun tetap aktif. Aktivitas tersebut meliputi satu kali gempa hembusan dengan amplitudo 5 mm dan durasi 32 detik, serta satu kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 3 mm dan durasi 9 detik. Tremor menerus juga terekam dengan amplitudo 0,5–2 mm (dominan 1 mm).
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Ijen, Suparjan, mengingatkan bahwa selain ancaman vulkanik, kondisi fisik dinding kawah juga perlu diantisipasi.
"Masyarakat kami ingatkan untuk mewaspadai potensi longsor pada dinding kawah yang sewaktu-waktu bisa terjadi, terutama saat dipicu curah hujan," katanya, Selasa (28/7/2026).
Ia mengatakan, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi demi keselamatan pengunjung maupun masyarakat sekitar. Di antaranya, masyarakat dilarang mendekati dasar Kawah Ijen. Selain itu, pengunjung juga dilarang bermalam atau berkemah di kawasan Kawah Ijen dalam radius aman minimal 500 meter.
"Wisatawan wajib mewaspadai paparan gas beracun yang dapat berkumpul di sekitar area kawah, terlebih potensi bahaya aliran gas karbon dioksida yang dapat mengalir di sepanjang aliran Sungai Banyupait hingga Banyuputih," tambahnya.
Menurutnya, meskipun aktivitas vulkanik berada pada Level I (Normal), karakter Kawah Ijen yang kaya kandungan gas sulfur dan memiliki danau asam dengan tingkat keasaman tinggi tetap menuntut kewaspadaan ekstra dari wisatawan maupun pengelola kawasan.