Liputan6.com, Jakarta - Sore mulai turun ketika saya tiba di Plataran Menteng pada Jumat, 24 Juli 2026. Meninggalkan riuh lalu lintas ibu kota, Signature Plataran Rijsttafel menanti sebagai sebuah perjalanan rasa yang membawa kekayaan Nusantara ke satu meja, sekaligus menjadi penutup sempurna hari kerja saya pekan lalu.
Tradisi Rijsttafel sendiri berakar dari masa Hindia Belanda, ketika beragam hidangan disajikan dalam satu jamuan. Konsep tersebut kemudian diterjemahkan kembali dengan pendekatan yang menempatkan kuliner Indonesia sebagai pusat pengalaman.
Advertisement
"Jamuan ini merepresentasikan cita rasa dari banyak daerah di Indonesia. Signature Plataran Rijsttafel hanya tersedia di Plataran Menteng dan akan dihadirkan sampai waktu yang belum ditentukan," ujar Operasional Manager Plataran Menteng Ruddy Wahyudi di sela pengalaman bersantap tersebut.
Meja kemudian menjadi semacam peta kecil Indonesia. Hidangan datang sekaligus dalam satu "nampan" besar, membawa karakter daerah masing-masing, mempertemukan rasa yang selama ini mungkin dikenal secara terpisah.
Resep tradisional, bahan lokal berkualitas, dan teknik pengolahan yang diperhatikan menjadi bagian dari perjalanan yang berlangsung di meja makan. Sajian pembuka menghadirkan mulai dari ragam keripik sampai potongan buah segar.
Favorit saya adalah keripik berpadu jeruk bali. Tak pernah menyangka kombinasi sederhana ini bisa menghadirkan sensasi yang begitu seru. Keripiknya renyah, sementara jeruk bali meletupkan rasa asam segar ketika digigit. Perpaduan tekstur dan rasa tersebut seperti membuka selera, mempersiapkan lidah untuk menyambut sajian-sajian berikutnya.
Pengalaman kasa kemudian bergerak menuju makanan-makanan utama, yakni soto banjar dari Kalimantan Selatan, asinan juhi Jakarta, sate ayam, bebek bumbu Madura, dan udang bakar Tapanuli. Tidak ketinggalan, ada juga sayur ubi tumbuk dari Sumatra Barat yang menggenapi sajian.
Permainan Tekstur
Menu Signature Plataran Rijsttafel disusun dengan mempertimbangkan permainan tekstur, sehingga pengalaman bersantap terasa lebih beragam. "Jadi, nggak goreng-goreng semua atau sup semua. Ini ada sup, ada yang digoreng, jadi makannya bisa lebih balance," kata Corporate Executive Chef Plataran Indonesia Chef Reiyan Trisanda di kesempatan yang sama.
Setiap sajian memiliki aksen yang berbeda, seolah membawa saya berpindah dari satu daerah ke daerah lain tanpa harus meninggalkan kursi. Udang bakar Tapanuli, misalnya, hadir dengan bumbu manis dan aroma smoky yang kuat. Rasanya kaya dan tetap nyaman dinikmati bagi yang tidak terlalu menyukai makanan pedas.
Sate ayamnya memiliki tekstur daging yang lembut dan terasa semakin nikmat ketika dipadukan dengan sambal kacang. Asinan Juhi kemudian membawa saya pada rasa nostalgia yang lebih familiar. Asamnya terasa pas, sementara mi tetap kenyal saat dikunyah, menghadirkan tekstur yang membuat sajian ini semakin menyenangkan.
Lezatnya Bebek Bumbu Madura
"Mengistirahatkan" lidah, soto banjar menjadi sajian berkuah yang menghangatkan. Bumbunya terasa gurih dan kaya rempah, meski bagi selera saya rasanya sedikit lebih asin.
Tapi yang jadi pemenangnya, menurut saya, adalah bebek bumbu Madura. Bumbu hitamnya didominasi rasa gurih yang sempurna, sementara daging bebeknya tidak hanya lembut, namun juga berbumbu. "Daging bebeknya memang kami ungkep dulu selama 2,5 jam," sebut Chef Reiyan.
Upaya menjaga cita rasa tidak berhenti pada penggunaan resep tradisional. Para chef Plataran bahkan dikirim ke daerah asal makanan untuk mempelajari langsung resep, serta karakter rasa yang ingin dihadirkan kembali.
Pendekatan tersebut membuat setiap sajian memiliki konteks yang lebih dalam. Ada usaha untuk memahami makanan bukan hanya dari daftar bahan, melainkan dari rasa yang telah diwariskan dan berkembang di tempat asalnya. Bahan-bahan lokal berkualitas kemudian menjadi bagian penting untuk menjaga karakter tersebut.
Penutup Perjalanan Rasa
Plataran turut menggandeng pelaku UMKM dari berbagai daerah, membuat pengalaman bersantap ini terhubung dengan mereka yang menjaga tradisi kuliner tetap hidup. Di saat yang sama, resep-resep tersebut terus dikembangkan tanpa kehilangan karakter rasa yang menjadi identitasnya.
Perjalanan rasa kemudian ditutup dengan es teler entremet dan wingko babat. Keduanya membawa cita rasa yang akrab ke dalam interpretasi lebih modern, menjadi penutup ringan setelah beragam rempah memenuhi meja.
Pada akhirnya, jamuan Signature Plataran Rijsttafel menjadi cara untuk mengenal Indonesia melalui makanan, baik bagi tamu mancanegara yang ingin menjelajahi kulinernya maupun tamu domestik yang ingin kembali menemukan rasa yang mengingatkan pada rumah dan kenangan.