Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan respons yang relatif terbatas setelah pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (Gubernur BI). Menurut pantauan Liputan6.com hingga pukul 09.48 WIB, Senin (27/7/2026), IHSG hari ini berada di level 6.190 atau terkoreksi 6,4 poin setara 0,1%, mengindikasikan pelaku pasar belum melakukan aksi jual secara masif.
Pada sesi pertama perdagangan, IHSG sempat bergerak fluktuatif. Terlihat, IHSG sempat menguat hingga 16,98 poin sebelum berbalik melemah hingga 52,15 poin.
Advertisement
Namun, tekanan jual berangsur mereda dan IHSG berhasil memangkas sebagian besar pelemahannya menjelang pertengahan sesi pertama. Pada pukul 10.10 WIB, IHSG naik 0,32% menjadi 6.214. Adapun IHSG dibuka turun 0,17% ke 6.185.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 317 saham menguat, 510 saham melemah, dan 338 saham bergerak stagnan. Sementara itu, nilai transaksi telah mencapai sekitar Rp 3,9 triliun.
Pergerakan tersebut mencerminkan investor masih bersikap hati-hati menyikapi transisi kepemimpinan Bank Indonesia. Namun, pelemahan yang hanya mencapai 0,1% menunjukkan pasar masih menilai proses pergantian kepemimpinan berlangsung terkendali setelah Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti ditunjuk sebagai Pejabat sementara (Pjs.) Gubernur Bank Indonesia.
Mayoritas sektor saham menghijau. Sektor saham industri naik 1,2%, sektor saham energi bertambah 0,44%, sektor saham basic mendaki 0,53%. Lalu sektor saham consumer nonsiklikal menanjak 0,07%. Sektor saham consumer siklikal mendaki 1,19%. Selain itu, sektor saham keuangan bertambah 0,18%, sektor saham properti menanjak 0,185, sektor saham teknologi naik 0,61%. Sementara itu, sektor saham kesehatan melemah 0,56%, sektor saham infrastruktur melemah 0,44% dan sektor saham transportasi terpangkas 0,57%.
Kata Analis
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menuturkan, dalam jangka pendek, investor cenderung menerapkan pendekatan wait and see sehingga volatilitas di pasar saham dan obligasi berpotensi meningkat.
“Namun demikian, besarnya dampak akan sangat bergantung pada alasan pengunduran diri, mekanisme suksesi, serta kredibilitas sosok pengganti. Jika proses transisi berlangsung cepat, transparan, dan tetap menjaga independensi Bank Indonesia serta kesinambungan kebijakan moneter, maka tekanan terhadap pasar kemungkinan hanya bersifat sementara,” ujar Nafan saat dihubungi Liputan6.com.
Dari sisi IHSG, Nafan menilai, sektor perbankan dan sektor keuangan berpotensi menjadi yang paling sensitif terhadap sentimen ini karena erat kaitannya dengan ekspektasi suku bunga, likuiditas, dan stabilitas sistem keuangan.
“Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga perlu dicermati karena berpotensi mengalami tekanan apabila ketidakpastian memicu arus keluar dana asing,” kata Nafan.