Liputan6.com, Jakarta - Ban merupakan satu-satunya komponen kendaraan yang bersentuhan langsung dengan permukaan jalan. Oleh karena itu, kondisinya harus selalu dijaga agar tetap prima demi menunjang kenyamanan dan keselamatan berkendara.
Sayangnya, masih banyak pengemudi yang nekat menunda penggantian ban meski tapaknya sudah menipis atau bahkan botak. Padahal, penggunaan ban aus sangat meningkatkan risiko kecelakaan, terutama saat melintasi jalanan basah atau ketika harus melakukan pengereman mendadak.
Advertisement
Dilansir dari laman resmi Honda, Minggu (26/7/2026), berikut empat risiko berbahaya yang dapat terjadi jika tetap memaksa berkendara menggunakan ban botak:
1. Jarak Pengereman Menjadi Lebih Panjang
Ban yang sudah aus memiliki daya cengkeram (grip) yang jauh berkurang dibandingkan ban dalam kondisi normal. Akibatnya, kendaraan membutuhkan jarak pengereman yang lebih panjang untuk benar-benar berhenti, terlebih saat mengerem di jalanan licin.
Kondisi ini meningkatkan risiko fatal terjadinya tabrakan beruntun apabila kendaraan di depan berhenti secara mendadak.
2. Sangat Rentan Mengalami Aquaplaning
Alur pada tapak ban berfungsi untuk membuang air saat kendaraan melintasi genangan. Jika alur tersebut sudah terkikis habis, kemampuan alirannya akan sirna sehingga ban mudah kehilangan traksi.
Akibatnya, kendaraan dapat mengalami aquaplaning—kondisi di mana mobil meluncur di atas lapisan air sehingga pengemudi hilang kendali penuh atas kendaraannya.
3. Ban Cepat Panas dan Berpotensi Pecah
Ketebalan tapak ban juga berperan penting dalam menyerap serta meratakan panas akibat gesekan dengan permukaan aspal.
Saat karet ban menipis, panas akan tertimbun lebih cepat sehingga memicu overheat yang berpotensi menyebabkan pecah ban secara tiba-tiba, terutama ketika dipacu pada kecepatan tinggi atau saat perjalanan jauh.
4. Kemampuan Meredam Benturan Menurun
Lapisan karet yang tipis pada ban botak membuat kemampuannya dalam meredam benturan jalan berkurang drastis.
Saat kendaraan menghantam lubang, batu, atau permukaan jalan yang tidak rata, struktur ban menjadi sangat rentan sobek, benjol, bahkan meledak seketika.
Jangan Tunggu Ban Benar-Benar Gundul
Demi menjaga keselamatan diri dan pengguna jalan lain, pengendara disarankan untuk rutin memeriksa kondisi fisik ban, termasuk ketebalan tapak dan tekanan angin secara berkala.
Segera lakukan penggantian apabila ketebalan tapak ban sudah menyentuh batas aman (sekitar 3 mm) atau saat indikator keausan ban (Tread Wear Indicator/TWI) sudah sejajar dengan permukaan karet.
Langkah ini penting agar performa serta daya cengkeram kendaraan tetap optimal di berbagai kondisi cuaca dan medan jalan.