Perang AS-Iran Makin Membara, Harga Minyak Dunia Justru Turun 4%

Harga minyak Brent dan WTI melemah meski perang Timur Tengah masih memanas. Investor mencermati peluang negosiasi AS-Iran.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 25 Juli 2026, 09:16 WIB
Seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Jumat 24 Juli 2026 setelah muncul laporan bahwa Pakistan tengah mengupayakan dimulainya kembali perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengutip CNBC, Sabtu (25/7/2026), harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional turun hampir 4% dan ditutup di US$ 96,78 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 3% menjadi US$ 89,31 per barel.

Tiga narasumber yang tidak mau disebut namanya menyebut upaya Pakistan mendamaikan AS dengan Iran tersebut mendapat dukungan dari China.

"China merasa tidak senang karena serangan Iran terhadap negara-negara Teluk lainnya serta penutupan Selat Hormuz telah merugikan kepentingan mereka," kata seorang pejabat pemerintah Pakistan.

Meski turun pada perdagangan terakhir, harga minyak masih membukukan kenaikan signifikan sepanjang pekan ini. Minyak mentah AS menguat sekitar 8%, sedangkan Brent melonjak hampir 10% seiring meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.

 

Serangan Militer AS ke Iran

Tangkapan layar video yang dirilis Komando Pusat AS (CENTCOM) pada 15 Juli 2026, yang menurut militer AS memperlihatkan serangan di Iran. (Dok. AFP)

Di sisi lain, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah menyelesaikan serangan malam ke-13 secara berturut-turut terhadap sejumlah target di Iran.

Operasi tersebut menyasar pusat komando militer, fasilitas penyimpanan drone, jaringan komunikasi, lokasi pengawasan pesisir, hingga kemampuan pertahanan maritim Iran.

CENTCOM menyatakan serangan itu dilakukan untuk mengurangi ancaman Iran terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

"Serangan ini bertujuan semakin mengurangi ancaman yang ditimbulkan Iran terhadap para pelaut sipil dan kapal-kapal niaga yang melintasi Selat Hormuz," demikian pernyataan CENTCOM.

Militer AS juga menegaskan bahwa jalur pelayaran internasional tersebut masih tetap terbuka.

"Jalur pelayaran internasional tersebut tetap terbuka untuk dilalui meskipun baru-baru ini terjadi serangan dari Korps Garda Revolusi Islam Iran. Kapal-kapal niaga masih dapat melintasi selat tersebut dengan aman berkat dukungan militer Amerika Serikat."

CENTCOM menambahkan lebih dari 50.000 personel militer AS saat ini masih beroperasi di kawasan Timur Tengah.

 

Serangan Besar-besaran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, pada 30 Januari 2026. (Dok. AP/Evan Vucci)

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan serangan berskala besar terhadap Iran setelah konflik di Timur Tengah meluas hingga kawasan Laut Merah.

Trump menegaskan operasi militer yang dipertimbangkan akan jauh lebih besar dibandingkan serangan-serangan sebelumnya.

"Saya sedang mempertimbangkan serangan besar. Lebih besar daripada yang pernah dilakukan sebelumnya. Saya sudah hampir mengambil keputusan. Semuanya sudah siap," kata Trump.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.

Trump juga memperingatkan Iran akan bertanggung jawab apabila Houthi kembali melancarkan serangan.

"Jika mereka melakukan ini lagi, Amerika Serikat akan meminta Iran bertanggung jawab karena Houthi merupakan kelompok yang didukung dan menjadi proksi Iran. Hukuman militer yang besar akan dijatuhkan kepada Iran dan tentu saja kepada Houthi sendiri," tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya.

Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan Korps Garda Revolusi Iran telah menyerang fasilitas militer AS di sebuah pangkalan Amerika di Yordania.

 

Kepala Dibalas Kepala

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio. (Dok. AP/Alex Brandon)

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut pendekatan Trump dalam menghadapi perang dengan Iran sebagai strategi "kepala dibalas kepala" (a head for an eye).

Di sisi lain, Analis Senior Pasar Capital.com Daniela Hathorn menilai meningkatnya ketidakstabilan di jalur-jalur pelayaran utama kembali memunculkan premi risiko geopolitik yang besar di pasar minyak.

"Sentimen investor melemah akibat gangguan yang terus berlanjut di Laut Merah, di mana serangan terhadap kapal-kapal niaga semakin memperbesar kekhawatiran terhadap perdagangan global dan keamanan pasokan energi," kata Hathorn.

Ia menambahkan ketegangan di sekitar Selat Hormuz semakin memperkuat pandangan bahwa risiko geopolitik tidak akan mereda dalam waktu dekat.

"Jika dikombinasikan dengan ketegangan di sekitar Selat Hormuz, perkembangan ini memperkuat pandangan bahwa risiko geopolitik kecil kemungkinan akan mereda dalam waktu dekat. Kondisi tersebut membuat pasar energi tetap ketat dan meningkatkan risiko inflasi," ujar Hathorn.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya