Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak menguat pada perdagangan Kamis, (23/7/2026). Kenaikan harga minyak ini seiring laporan serangan terhadap kapal tanker di lepas pantai Arab Saudi, dan ancaman baru Amerika Serikat (AS) untuk meningkatkan serangan terhadap Iran.
Mengutip CNBC, Kamis (23/7/2026), pada pukul 05:30 pagi WT, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli naik 4,6% menjadi US$ 98,44 per barel. Hal ini menandai level tertinggi sejak akhir Mei 2026.
Advertisement
Harga minyak mentah West Texas Intermedia (WTI) AS naik sekitar 3,8% menjadi US$ 90,14 per barel, level tertinggi sejak 8 Juni 2026.
Kenaikan harga minyak pada Kamis pekan ini membuat harga minyak mentah Brent berada di jalur kenaikan bulanan sebesar 35,3%. Kenaikan bulanan terbesar ketiga dalam 10 tahun terakhir. Harga WTI juga berada di jalur kenaikan bulanan terbesar ketiga dalam satu dekade dengan peningkatan bulanan sekitar 30%.
The United Kingdkom Maritime Trade Operations mengunggah di platform media sosial X pada Kamis kalau sebuah kapal tanker terkena serangan sekitar 70 mil laut barat daya Al Shuqaiq.
Serangan itu memicu kebakaran di atas kapal yang sedang dipadamkan oleh awak kapal, meskipun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Serangan itu diklaim oleh Houthi Yaman. Houthi telah menargetkan dua kapal tanker minyak Arab Saudi dengan drone dan rudal karena diduga melanggar blokade maritim.
CNBC belum dapat memverifikasi serangan itu secara independen. Jika dikonfirmasi, serangan tersebut akan menjadi yang pertama sejak kelompok militan yang didukung Iran mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.
Ancaman Trump
Serangan itu terjadi beberapa jam setelah Trump memperingatkan Amerika Serikat (AS) akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik Iran setiap kali Teheran menyerang kapal di Selat Hormuz. Ini menandakan peningkatan ketegangan lebih lanjut setelah runtuhnya gencatan senjata AS-Iran.
“Mulai sekarang, setiap kali Republik Islam Iran menembak kapal di Selat Hormuz, baik itu dengan rudal, roket, drone, atau perangkat atau senjata lainnya, Amerika Serikat akan membom dan menghancurkan SATU JEMBATAN ATAU PEMBANGKIT LISTRIK,” kata Trump.
Iran menanggapi dengan memperingatkan akan membalas terhadap infrastruktur dan aset energi yang terkait dengan AS di seluruh wilayah jika Washington melakukan serangan tersebut.
“Jika Amerika menargetkan jembatan atau pembangkit listrik di Iran, Iran akan membalas dengan menyerang infrastruktur dan jembatan di wilayah tersebut, termasuk fasilitas energi tempat Amerika Serikat memiliki kepentingan,” ujar seorang sumber militer Iran yang tidak disebutkan namanya kepada kantor berita Tasnim yang dikelola negara.
Peningkatan Pendanaan
Kongres mempertimbangkan permohonan Gedung Putih untuk peningkatan pendanaan
Berbicara kepada “Access Middle East” CNBC pada Kamis, Joseph Westphal, mantan duta besar AS untuk Arab Saudi, mengatakan “sangat sulit untuk memahami dengan tepat ke mana semua ini akan mengarah.”
“Tidak ada strategi yang nyata,” ujar dia.
“Menteri telah bersaksi di hadapan Kongres, meminta pendanaan yang lebih besar untuk perang. Kongres sangat, sangat cemas tentang hal itu. Mereka merasa bahwa tidak ada cukup strategi dan rencana untuk menyediakan dana tambahan ini,” ia menambahkan.
Westphal menuturkan, seskipun AS menghabiskan, sejumlah besar uang, Washington tidak memiliki sumber daya untuk melanjutkan perang dengan Iran dan juga melindungi pelayaran melalui Laut Merah.
"Kita memiliki masalah nyata di sini," ujar dia.
"Dan karena harga gas terus meningkat dan komoditas lain terus naik harganya karena hal ini, itu akan menciptakan reaksi dari publik Amerika, tidak hanya terhadap perang ini dan terhadap strategi yang sedang dijalankan, yang pada umumnya tidak dipahami oleh siapa pun di negara ini,” ia menambahkan.
Masalah Inti Belum Selesai
Dalam sebuah catatan Rabu malam, HSBC menyebutkan, kenaikan harga minyak baru-baru ini mencerminkan kekhawatiran yang diperbarui atas Selat Hormuz setelah runtuhnya gencatan senjata AS-Iran. HSBC memperingatkan, prospek sekarang bergantung pada apakah diplomasi dapat memulihkan arus pelayaran yang dapat diprediksi.
“Sejak 7-8 Juli, gencatan senjata telah goyah karena serangan Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz memicu serangan balasan AS,” ujar Analis HSBC, Kim Fustier.
“Masalah inti tetap belum terselesaikan: apakah jalur pelayaran diatur, dan oleh siapa. Jika dilihat ke belakang, semakin banyak lalu lintas yang meningkat melalui jalur Oman yang dikelola AS, semakin tidak menguntungkan Iran,” Fustier menambahkan.