Liputan6.com, Edinburgh - Ratu Mary dari Skotlandia dipaksa turun takhta pada 24 Juli 1567 saat menjalani penahanan. Takhta kemudian diserahkan kepada putranya yang baru berusia satu tahun, James, yang dinobatkan sebagai Raja James VI dari Skotlandia.
Dikutip dari History.com, Jumat (24/7/2026), penggulingan Mary terjadi di Kastel Loch Leven, tempat ia ditahan setelah gejolak politik yang dipicu kehidupan pribadinya.
Advertisement
Mary naik takhta pada 1542 ketika baru berusia enam hari, setelah ayahnya, Raja James V, meninggal dunia. Demi alasan politik dan keamanan, ibunya mengirim Mary ke Prancis untuk dibesarkan di lingkungan istana.
Pada 1558, Mary menikah dengan putra mahkota Prancis, Francis. Setahun kemudian Francis dinobatkan sebagai Raja Francis II. Namun pemerintahannya hanya berlangsung singkat karena ia meninggal pada 1560. Setelah menjadi janda, Mary kembali ke Skotlandia untuk memimpin kerajaannya.
Pada 1565, Mary menikahi sepupunya, Lord Darnley. Pernikahan tersebut memperkuat klaim Mary atas takhta Inggris karena ia masih memiliki hubungan darah dengan keluarga kerajaan Inggris.
Namun, pada 1567, Darnley tewas dalam ledakan misterius di Kirk o' Field, Edinburgh. Kecurigaan mengarah kepada James Hepburn, Earl of Bothwell, yang diduga memiliki hubungan dekat dengan Mary. Meski Bothwell akhirnya dibebaskan dari tuduhan pembunuhan, pernikahannya dengan Mary beberapa bulan kemudian memicu kemarahan para bangsawan Skotlandia.
Pemberontakan pun pecah. Mary dan Bothwell kehilangan dukungan politik, sementara Mary ditahan di Kastel Loch Leven. Di sanalah ia dipaksa melepaskan takhta dan menyerahkannya kepada putranya, James.
Mary kemudian berhasil melarikan diri dan menghimpun pasukan untuk merebut kembali kekuasaan. Namun usahanya gagal setelah pasukannya kalah dalam pertempuran. Ia lalu melarikan diri ke Inggris dan meminta perlindungan kepada Ratu Elizabeth I.
Alih-alih mendapat bantuan, Mary justru ditahan selama bertahun-tahun. Elizabeth I khawatir kehadiran Mary akan dimanfaatkan oleh kelompok Katolik di Inggris dan Spanyol yang ingin menggulingkannya dari takhta.
Pada 1586, Mary dituduh terlibat dalam Komplotan Babington, sebuah rencana untuk membunuh Elizabeth I. Ia kemudian diadili, dinyatakan bersalah atas pengkhianatan, dan dijatuhi hukuman mati.
Mary dieksekusi dengan cara dipenggal pada 8 Februari 1587. Putranya, James VI, tidak melakukan perlawanan atas hukuman tersebut.
Enam belas tahun kemudian, setelah Elizabeth I meninggal tanpa keturunan pada 1603, James VI mewarisi takhta Inggris dan menjadi Raja James I. Dengan demikian, ia mempersatukan mahkota Inggris, Skotlandia, dan Irlandia di bawah satu penguasa untuk pertama kalinya.