Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebut penempatan dana pemerintah di perbankan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan likuiditas perekonomian pada Juni 2026. Kebijakan tersebut berhasil memperkuat pertumbuhan uang primer (M0) di tengah upaya menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan pertumbuhan uang primer (M0) pada Juni 2026 ditopang oleh ekspansi operasi keuangan pemerintah, termasuk penempatan dana pemerintah ke sektor perbankan. Selain itu, langkah operasi moneter yang dilakukan BI juga turut memperkuat kecukupan likuiditas di pasar.
Advertisement
“Pertumbuhan M0 pada Juni 2026 dipengaruhi oleh operasi moneter Bank Indonesia dan ekspansi operasi keuangan pemerintah, termasuk penempatan dana pemerintah ke perbankan,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, dikutip Kamis (23/7/2026).
Perry menjelaskan, pertumbuhan M0 tersebut secara khusus didukung oleh kenaikan uang kartal yang beredar di masyarakat sebesar 14 persen, serta kenaikan giro bank umum di Bank Indonesia sebesar 12,7 persen. Kondisi ini mencerminkan ketersediaan likuiditas yang sangat memadai untuk menopang aktivitas ekonomi domestik.
Sejalan dengan tren tersebut, jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) pada Mei 2026 juga tercatat tumbuh 10,8 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini mengalami peningkatkan dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang sebesar 9,2 persen.
Perry menambahkan, kenaikan M2 terutama didorong oleh pesatnya pertumbuhan penyaluran kredit perbankan serta peningkatan aktiva luar negeri bersih.
“Berbagai upaya penguatan untuk menjaga kecukupan likuiditas pasar uang, perbankan, dan perekonomian akan terus ditempuh sehingga dapat menjaga stabilitas dan turut mendukung pertumbuhan ekonomi,” tegas Perry.
BI Perkuat Koordinasi dengan Pemerintah
Ke depan, Bank Indonesia menegaskan berkomitmen untuk terus menjaga kecukupan likuiditas sistem keuangan melalui optimalisasi bauran kebijakan moneter (policy mix) serta mempererat koordinasi dengan pemerintah.
Langkah sinergis tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas sistem keuangan secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat pemulihan dan laju pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tantangan ekonomi global.