Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menunjuk Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Bersamaan dengan jabatan barunya itu, ia mendapat pekerjaan rumah besar, yakni memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan optimal dan tepat sasaran.
Nama Sudaryono mencuat setelah Kepala BGN sebelumnya, Nanik S. Deyang, mengundurkan diri pada Rabu (22/7/2026). Nanik menyatakan mundur karena alasan kesehatan.
Advertisement
Di hari yang sama, Sudaryono dipanggil ke Istana Negara untuk dilantik dan diambil sumpah jabatannya sebagai Kepala BGN. Pelantikan dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo. Dengan jabatan barunya tersebut, Sudaryono pun melepas posisi Wakil Menteri Pertanian.
Pelantikan Sudaryono didasarkan pada Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 78/P Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Kepala Badan Gizi Nasional.
"Mengangkat Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional sisa masa jabatan 2024–2029," demikian bunyi Keppres tersebut.
Pesan Penting Prabowo
Sudaryono bukan sosok baru di lingkungan Presiden Prabowo. Ia dikenal sebagai salah satu loyalis Partai Gerindra yang telah lama mendampingi Prabowo. Karena itu, Prabowo menitipkan salah satu program prioritas pemerintah, yakni MBG, kepada orang kepercayaannya itu.
Presiden meminta Sudaryono bergerak cepat menyelesaikan berbagai persoalan yang tengah dihadapi BGN dan program MBG.
"Target khusus ya efektif, efisien, cepat, cepat selesai. Pak Presiden satu arahannya, 'You have to run into the problem'," kata Sudaryono dalam pidato perdananya di Kantor BGN.
Menurut dia, arahan tersebut bermakna bahwa setiap persoalan harus dihadapi, bukan dihindari.
"Kita harus mau lari, kita selesaikan persoalan. Caranya bagaimana? Caranya adalah 'Love your people and use your common sense' (sayangi orang-orangmu dan gunakan akal sehatmu)," ujarnya
Nol Korupsi
Pesan Prabowo itu langsung diterjemahkan Sudaryono dalam komitmennya membenahi internal BGN. Ia memastikan setiap pegawai yang terbukti melanggar aturan akan menerima konsekuensi sesuai ketentuan hukum.
Bagi pegawai yang saat ini tengah menjalani proses hukum, Sudaryono mempersilakan proses tersebut berjalan sebagaimana mestinya. Ia menegaskan BGN akan mendukung penuh upaya penegakan hukum.
"Saya ingin yang urusan hukum adalah urusannya penegak hukum. Kita siap full support untuk penegakan hukum," katanya.
Sudaryono juga menegaskan tidak akan memberi toleransi terhadap praktik korupsi maupun penyimpangan dalam pelaksanaan Program MBG.
"Zero toleransi untuk praktik-praktik korupsi, hengki-pengki, dan copet-copetan sebagaimana barangkali ini yang paling dibenci oleh seluruh rakyat Indonesia," tegasnya.
\
Benahi Tata Kelola MBG
Selain memperkuat integritas internal, Sudaryono menjadikan pembenahan tata kelola MBG sebagai prioritas utama. Ia mengakui terdapat sejumlah persoalan dalam pelaksanaan program tersebut yang harus segera diselesaikan bersama seluruh jajaran BGN dan kementerian terkait. Karena itu, ia membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk menyampaikan masukan, ide, maupun kritik sebagai bahan evaluasi.
"Kami ingin lebih banyak mendengar, lebih banyak menerima masukan dari semua."
Sudaryono juga berkomitmen memperkuat transparansi melalui pemanfaatan sistem digital agar seluruh proses memiliki rekam jejak yang jelas dan mudah diawasi. Menurutnya, MBG menggunakan anggaran negara yang berasal dari rakyat. Karena itu, setiap rupiah yang dibelanjakan harus dapat dipertanggungjawabkan.
"Yang tidak transparan harus kita buat transparan. Mungkin kalau masih ada yang manual, bagaimana caranya supaya tidak lagi manual atau bisa dilakukan secara digital sehingga ada rekam jejaknya. Yang sembunyi-sembunyi tidak boleh lagi terjadi dan segalanya harus terang benderang," tegas Sudaryono.
Tak Ada Keistimewaan untuk Orang Dekat
Sudaryono juga memastikan tidak akan memberikan perlakuan khusus kepada keluarga, kerabat, maupun rekan dalam urusan pekerjaan di lingkungan BGN. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak percaya apabila ada pihak yang mengaku sebagai keluarga, sahabat, atau orang dekatnya untuk menawarkan jasa maupun meminta imbalan.
"Kalau nantinya ada orang menawarkan jasa dengan mengaku orang saya, keluarga saya, sahabat saya, teman saya, alumni bersama saya, dan lain-lain, saya pastikan itu tidak benar," kata Sudaryono.
Bahkan, ia meminta masyarakat segera melaporkan kepada aparat penegak hukum apabila menemukan praktik semacam itu. Sudaryono juga menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga dan orang-orang terdekatnya apabila tidak bisa memberikan perlakuan istimewa dalam urusan pekerjaan.
"Saya juga ingin menyampaikan kepada semua orang yang mengenal saya dan saya juga mengenalnya, yang mencintai saya dan saya juga mencintainya, mohon maaf kalau saya tidak bisa memberikan atensi khusus atau semacam prioritas kalau yang dibahas adalah seputar pekerjaan," tuturnya.
Menurut Sudaryono, seluruh persoalan di lingkungan BGN harus diselesaikan melalui mekanisme yang terbuka dan profesional, bukan berdasarkan kedekatan personal.
"Jadi kita bukan lagi trust in person. Segala sesuatu harus dibahas di ruang-ruang yang terang dan transparan, bukan di ruang-ruang yang remang-remang."
Sebagai bentuk komitmen menghindari konflik kepentingan, Sudaryono juga menegaskan dirinya maupun keluarga tidak memiliki Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur yang menjadi mitra Program MBG.
"Enggak ada. Saya tidak punya SPPG, saya tidak punya dapur. Tidak ada keluarga saya yang punya dapur dan sebagainya," katanya.
Ia berharap seluruh pihak dapat bersama-sama mendukung BGN agar Program Makan Bergizi Gratis berjalan maksimal dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Saya di sini meyakinkan bahwa saya, di detik ini, berkomitmen untuk bekerja dengan sebaik-baiknya dan sebersih-bersihnya," pungkas Sudaryono.