Senasib Sepenanggungan di Stasiun Cikarang

Mereka datang dari latar belakang berbeda. Disatukan dengan sebuah rutinitas yang sama. Menunggu pagi di Stasiun Cikarang.

oleh Rifqy Alief AbiyyaDiterbitkan 22 Juli 2026, 21:01 WIB
Salah satu sudut di ruang tunggu Stasiun Cikarang yang dipenuhi calon penumpan yang menginap menunggu kereta pertama datang. (Liputan6/Rifqy Alief)

Liputan6.com, Jakarta - Lepas dini hari, ruang tunggu di Stasiun Cikarang semakin ramai. Lantai dua, tepatnya di depan pintu masuk kereta api jarak jauh. Beberapa dari mereka terlelap dalam tidurnya, sementara sebagian lainnya masih asyik memainkan ponselnya. 

Selasa (21/7/2026) sekitar pukul 01.00 WIB, Rian (25), baru saja tiba di Stasiun Cikarang. Mencari tempat duduk yang kosong di ruang tunggu. Di tengah penumpang lain yang larut dalam mimpi malam, Rian memberikan waktunya untuk bercerita.

Dia memilih bermalam di Stasiun Cikarang. Tak ingin tertinggal kereta pertama yang berangkat dari sana. Tujuannya ke Stasiun Bekasi Kota.

"Karena saya kan kerjanya cukup pagi," ungkap Rian saat berbincang dengan Liputan6.com.

Bermalam di Stasiun Cikarang sudah menjadi rutinitasnya. Dalam sepekan, Rian bisa dua hingga tiga kali menginap di sana. Biasanya, dia datang sekitar pukul 01.00 WIB hingga 02.00 WIB.

Demi mengejar kereta pertama, Rian tak memperhitungkan faktor kenyamanan. Istirahat di ruang publik bukan perkara mudah. Tidurnya tak benar-benar lelap, hanya hitungan jam. Matanya tak sepenuhnya istirahat. Tubuhnya pun tak selalu merebah. 

"Namanya juga tidur di tempat fasilitas umum ya, jadi seadanya ya," tutur Rian.

Selama ini, Rian tak pernah mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari petugas keamanan stasiun. Tak ada istilah diusir karena menginap di sana. Petugas keamanan stasiun hanya akan memastikan setiap orang yang bermalam adalah penumpang kereta. Ini dibuktikan dengan menunjukan kartu identitas dan tiket maupun kartu elektronik. 

"Untungnya kalau di Stasiun Cikarang ini tuh keamanannya ramah-ramah ya dibanding stasiun lain menurut saya," jelas Rian. 

Bermalam di Stasiun Cikarang membuat Rian mendapat banyak cerita dari penumpang lain. Mereka biasanya saling bertukar cerita, sebelum istirahat di kursi seadanya.

“Awalnya ngerokok sendiri, terus tiba-tiba ada orang. Biasanya antara saya atau dia yang ajak ngobrol,” ungkapnya. 

Bermalam di Stasiun Cikarang membuat Rian punya banyak teman. Mereka yang senasib sepenanggungan. Termasuk Yori (42). Malam itu adalah malam pertamanya menginap di Stasiun Cikarang. 

Pria asal Tanah Abang ini hendak pulang ke rumah menumpang kereta pertama. Dia tak canggung bertegur sapa dengan penumpang lain yang malam itu menginap di sana.

Yori memulai percakapan dengan pertanyaan mengenai jadwal kereta pertama. Obrolan singkat ini membuat mereka saling kenal. 

"Baru kali ini juga di Stasiun Cikarang, dari rumah teman," ucapnya. 

Menurut Yori, pengalaman pertama bermalam di Stasiun Cikarang cukup nyaman. Sebab, petugas keamanannya ramah. Yori pernah punya pengalaman kurang baik ketika diusir petugas keamanan di stasiun lainnya. Bagi Yori, diperbolehkan untuk istirahat dan tidak diusir sudah cukup membantu hidupnya.

"Kalau ini masih agak nyaman daripada yang pernah saya alami di tempat lain. Padahal kita kan penumpang," jelasnya.

Ditipu Orang saat Bermalam

Selain Rian dan Yori, kami juga bertemu Alex (39). Sudah dua malam berturut-turut dia bermalam di Stasiun Cikarang. Tujuannya sama. Menanti datangnya kereta pertama yang akan mengantarnya menuju Tanjung Priok, tempatnya bekerja. Alex bukan orang baru yang menginap di Stasiun Cikarang. Banyak cerita yang dibagikan. 

Salah satu yang membuatnya marah ketika menjadi korban penipuan seseorang yang tidak bertanggung jawab. Alex memutar memori ingatannya. Ketika bermalam di tempat yang sama.

Alex berkenalan dengan seseorang dan ditawarkan bekerja dengan iming-iming gaji Rp 6 juta. Tidak ada pikiran buruk dalam benak Alex. Hingga akhirnya dia dan temannya menyerahkan sejumlah uang dan nomor telepon. Nasib nahas menghampiri. Orang itu tak bisa dihubungi. Menghilang tanpa jejak. 

"Iya kan biasanya ada fotonya, ini kan (tidak ada) ya berarti nomor saya diblokir, iya. Ada saja ya orang niat jahat gitu," curhatnya. 

Pengalaman ini membuat Alex lebih berhati-hati setiap bermalam di stasiun. Menurutnya, petugas keamanan yang rutin memeriksa identitas penumpang cukup membantu menjaga keamanan di ruang tunggu. 

Meski ketiga orang tersebut memiliki latar belakang berbeda, mereka disatukan dengan nasib dan tujuan yang sama. Ada yang sudah berkali-berkali bermalam di stasiun, ada pula yang baru pertama kali. 

Pengalaman Rian, Yori, dan Alex menjadi potret kelas pekerja yang rela bermalam demi menyambung hidup mereka.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya