Indonesia Dorong Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-Kanada Rampung Tahun Ini

Penyelesaian perundingan perdagangan bebas ASEAN-Kanada tahun ini menjadi salah satu prioritas Indonesia di bidang ekonomi.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 22 Juli 2026, 17:48 WIB
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono dalam ASEAN-Canada Post Ministerial Conference (PMC) di Manila, Filipina, Rabu (22/7/2206). (Dok. Kemlu RI)

Liputan6.com, Manila - Indonesia mendorong penguatan kemitraan ASEAN dan Kanada dengan berfokus pada ketahanan ekonomi, pangan, dan energi di tengah meningkatnya ketidakpastian global. 

"Kemitraan ASEAN dan Kanada harus menjadi bagian dari solusi untuk membangun kawasan yang lebih tangguh, sejahtera, dan damai," ujar Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI) Sugiono dalam ASEAN-Canada Post Ministerial Conference (PMC) di Manila, Filipina, Rabu (22/7/2026).

Sebagai salah satu prioritas di bidang ekonomi, Indonesia mendorong agar perundingan ASEAN-Canada Free Trade Agreement (ACAFTA) dapat segera diselesaikan tahun ini.

Perjanjian tersebut diharapkan dapat memperluas akses pasar, memperkuat rantai pasok, mendorong pertumbuhan yang inklusif, serta membuka lebih banyak peluang bagi UMKM, khususnya dalam menembus pasar Amerika Utara.

Sebagai produsen dan eksportir potash terbesar di dunia, Kanada memiliki peran strategis dalam mendukung rantai pasok pangan dan produktivitas pertanian ASEAN.

Dalam hal ini, Indonesia mendorong penguatan ketahanan pangan sebagai fondasi kawasan yang tangguh, termasuk melalui pemanfaatan Indo-Pacific Agriculture and Agri-Food Office (IPAAO) yang didirikan Kanada di Asia Tenggara.

Indonesia juga menekankan pentingnya memperkuat kerja sama di bidang ketahanan energi sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas kawasan.

Penyelenggaraan Inaugural ASEAN-Canada Strategic Dialogue yang mengambil tema keamanan energi pada Juni 2026 menjadi langkah awal yang konkret untuk memperdalam kolaborasi di bidang tersebut.

Menlu Sugiono turut menekankan pentingnya menjaga keamanan dan perdamaian, termasuk dengan mendorong penguatan agenda Youth, Peace, and Security melalui ASEAN Institute for Peace and Reconciliation (AIPR).

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, ia menegaskan bahwa multilateralisme harus tetap menjadi landasan untuk membangun kepercayaan, menegakkan hukum internasional secara konsisten, serta mencari solusi bersama, termasuk bagi Palestina.

ASEAN dan Kanada telah menjalin kerja sama sejak 1977 dan akan mencapai momentum 50 tahun kemitraan pada tahun mendatang.

Pertemuan tersebut mengadopsi ASEAN-Canada Plan of Action 2026-2030 sebagai arah strategis kerja sama lima tahun ke depan yang mencakup bidang politik keamanan, ekonomi, sosial budaya, dan kerja sama lintas pilar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya