Uni Eropa dan Indonesia Perkuat Konservasi Laut Berkelanjutan

Uni Eropa dan Indonesia perkuat kerja sama konservasi laut dan ekonomi pesisir berkelanjutan untuk menjaga ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyar

oleh Devira PrastiwiDiterbitkan 22 Juli 2026, 17:00 WIB
Sejumlah delegasi Uni Eropa saat mengunjungi konservasi terumbu karang dalam rangka peninjauan program Marine Biodiversity and Support of Coastal Fisheries in the Coral Triangle. (Antara)

Liputan6.com, Jakarta - Kerja sama konservasi keanekaragaman hayati laut dan pengembangan ekonomi pesisir berkelanjutan terus diperkuat oleh Uni Eropa dan Pemerintah Indonesia.

Penguatan kerja sama tersebut melalui program yang telah menjangkau ribuan masyarakat di Sulawesi Utara (Sulut) dan Maluku Utara (Malut).

Berdasarkan siaran pers yang dirilis EU-Indonesia Cooperation Facility (EUICF), aksi tersebut merupakan upaya Uni Eropa dan negara anggotanya berkontribusi pada konservasi keanekaragaman hayati serta ekonomi biru yang berkelanjutan di Indonesia.

Tim Eropa yang terdiri atas para duta besar dan pejabat tinggi dari 13 negara anggota Uni Eropa serta Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia kemudian meninjau pelaksanaan program Marine Biodiversity and Support of Coastal Fisheries in the Coral Triangle di Minahasa Utara.

Program tersebut merupakan kerja sama dengan Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), didanai Uni Eropa melalui Bank Pembangunan Jerman (KfW), dan dilaksanakan bersama Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, delegasi meninjau kawasan konservasi laut serta bertemu kelompok masyarakat dari Desa Gangga Dua, Bahoi, Lihunu, Tarabitan, Bulutui, dan Galo-Galo untuk melihat hasil kolaborasi pemerintah, mitra internasional, dan masyarakat dalam menjaga ekosistem laut.

"Indonesia memiliki peran penting bagi dunia karena menjadi rumah bagi salah satu ekosistem laut terkaya yang dimiliki bumi ini," ujar Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Denis Chaibi, melansir Antara.

"Lewat strategi Global Gateway, Uni Eropa turut mendukung upaya pemulihan terumbu karang, penguatan sektor perikanan, dan penciptaan peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir, termasuk di Minahasa Utara," sambung dia.

 

Jaga Kelestarian Alam

Denis menegaskan, kolaborasi ini menunjukkan bahwa menjaga kelestarian alam dapat berjalan beriringan dengan penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan yang berkelanjutan.

"Sejak 2019, program yang didukung Uni Eropa dan Kementerian Lingkungan Hidup, Aksi Iklim, Konservasi Alam, dan Keselamatan Nuklir Jerman itu memperkuat pengelolaan kawasan konservasi perairan dan perikanan berkelanjutan di Sulawesi Utara, Maluku Utara, Aceh, dan Nusa Tenggara Barat," terang dia.

Menurut Denis, program tersebut mendukung pengelolaan 21 kawasan konservasi perairan seluas lebih dari 1,63 juta hektare, termasuk perlindungan terumbu karang, mangrove, dan padang lamun sebagai habitat penting bagi keanekaragaman hayati laut.

Mewakili Dirjen KSDAE, Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE Nandang Prihadi mengapresiasi dukungan seluruh mitra dalam pelaksanaan program tersebut.

"Kami mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, Uni Eropa, KfW German Development Bank, WCS, serta seluruh mitra yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan ini," kata Nandang.

"Kami berharap kunjungan lapangan ini menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama internasional sekaligus memperlihatkan praktik-praktik terbaik pengelolaan kawasan konservasi dan pemberdayaan masyarakat di Sulawesi Utara," sambung dia.

 

Dukung Kawasan Konservasi

Nandang menjelaskan, dalam hal pelestarian terumbu karang dan ekosistem laut, program ini telah mendukung pembentukan dan penguatan pengelolaan 21 kawasan konservasi perairan seluas 1.631.572 hektare di empat wilayah tersebut, termasuk 16.613 hektare terumbu karang, 14.318 hektare mangrove, dan 10.582 hektare padang lamun.

"Selain mendukung konservasi, program itu juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perikanan berkelanjutan, usaha berbasis konservasi, serta pengembangan ekowisata di sejumlah desa pesisir," papar dia.

Nandang mencontohkan di Desa Gangga Dua, penutupan musiman perikanan bagan yang disepakati nelayan meningkatkan pendapatan dari sekitar Rp20 juta menjadi Rp 48 juta setiap musim.

"Program tersebut juga telah menjangkau 5.752 penerima manfaat langsung dan sekitar 24.542 penerima manfaat tidak langsung melalui peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan kelembagaan, dan pengembangan mata pencaharian berkelanjutan," kata dia.

Delegasi Uni Eropa dan para pihak terkait menegaskan, kunjungan ini menjadi momentum untuk memperluas dukungan publik, filantropi, dan sektor swasta bagi pengelolaan perikanan berkelanjutan, ekonomi biru atau blue economy, dan pariwisata berbasis alam.

Dukungan ini diharapkan dapat memastikan keanekaragaman hayati laut tetap menjadi pusat agenda ekonomi biru Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya