Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Menteri ESDM), Bahlil Lahadalia, melaporkan kinerja ekspor mineral dan batu bara (minerba) kepada Presiden Prabowo Subianto. Devisa Hasil Ekspor (DHE) batu bara tercatat mencapai US$ 14-15 miliar atau setara Rp 250 triliun - Rp 268 triliun (asumsi kurs Rp 17.930 per dolar).
Hal tersebut diungkapkan Bahlil usai menghadap Presiden Prabowo selepas Sidang Kabinet Paripurna. Ia mengatakan, capaian positif tersebut berhasil diraih di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian.
Advertisement
"Devisa kita dari ekspor batu bara sudah mencapai kurang lebih sekitar US$ 14-15 miliar," kata Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Selasa, 21 Juli 2026.
Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah berhasil menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan (supply and demand) sehingga harga batu bara tetap terjaga.
Selain devisa, Bahlil juga menyampaikan bahwa Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor hilirisasi minerba telah mencapai 60 persen dari target. Sumbangan devisa dan capaian PNBP ini diklaim sebagai bukti keberhasilan strategi yang diterapkan pemerintah.
"Sudah mulai ada tanda-tanda yang membaik dengan melihat PNBP kita naik. Devisa dari hasil penjualan yang hampir mencapai US$ 14 miliar pun semakin membaik," jelasnya.
Artikel Ekspor Batu Bara Sumbang Devisa Rp 268 Triliun menyita perhatian pembaca di Kanal Bisnis Liputan6.com. Ingin tahu artikel terpopuler lainnya di Kanal Bisnis Liputan6.com? Berikut tiga artikel terpopuler di Kanal Bisnis Liputan6.com yang dirangkum pada Rabu, (22/7/2026):
1. Ekspor Batu Bara Sumbang Devisa Rp 268 Triliun
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, melaporkan kinerja ekspor mineral dan batu bara (minerba) kepada Presiden Prabowo Subianto. Devisa Hasil Ekspor (DHE) batu bara tercatat mencapai US$ 14-15 miliar atau setara Rp 250 triliun - Rp 268 triliun (asumsi kurs Rp 17.930 per dolar).
Hal tersebut diungkapkan Bahlil usai menghadap Presiden Prabowo selepas Sidang Kabinet Paripurna. Ia mengatakan, capaian positif tersebut berhasil diraih di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian.
"Devisa kita dari ekspor batu bara sudah mencapai kurang lebih sekitar US$ 14-15 miliar," kata Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Selasa, 21 Juli 2026.
Bahlil menjelaskan, pemerintah berhasil menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan (supply and demand) sehingga harga batu bara tetap terjaga.
2. Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp 9.000, Cek Rincian Lengkapnya
Harga emas batangan yang dijual oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali turun pada perdagangan Selasa (21/7/2026). harga emas antam hari ini melemah Rp 9.000 per gram, melanjutkan penurunan dari hari sebelumnya yang terkoreksi sebesar Rp 4.000.
Mengutip laman resmi Logam Mulia, harga emas antam hari ini ditetapkan sebesar Rp 2.601.000 per gram. Pada perdagangan Senin kemarin, harga logam mulia ini sempat dipatok di angka Rp 2.610.000 per gram.
Koreksi ini juga dialami oleh harga buyback (beli kembali) emas Antam yang mengalami penurunan serupa. Harga buyback emas Antam turun Rp 9.000 menjadi Rp 2.332.000 per gram. Dengan demikian, bagi Anda yang ingin menjual kembali logam mulia tersebut, Antam akan membelinya di harga Rp 2.332.000 per gram.
Sebagai informasi, harga buyback merupakan harga acuan yang berlaku apabila pemilik emas ingin menjual kembali logam mulianya ke pihak Antam. Adapun harga emas batangan ini bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan pasar.
3. Rupiah Menguat ke 17.937 per Dolar AS, Pasar Nantikan Keputusan BI
Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Selasa (21/7/2026) dengan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Meski demikian, pelaku pasar masih menahan diri menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan kembali menaikkan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Pada perdagangan Selasa pagi, rupiah menguat 11 poin atau 0,06% ke posisi 17.937 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.948 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memperkirakan pergerakan rupiah masih dibayangi sikap hati-hati pelaku pasar yang menunggu keputusan RDG BI.
"Pelaku pasar masih hati-hati mengantisipasi hasil RDG BI yang kemungkinan akan menaikkan bunga acuan menjadi 6 persen," ujar Rully dikutip dari Antara.
Menurut dia, kenaikan suku bunga masih menjadi instrumen penting untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus menopang stabilitas nilai tukar rupiah.
Berita selengkapnya baca di sini