Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) Anthropic, merilis peraturan baru untuk Claude sejak Januari 2026. Disebutkan bahwa mereka mengaku kesulitan karena tidak ingin berlebihan menyebut Claude memiliki hak moral, namun juga tidak ingin mengabaikannya.
Sebulan kemudian, CEO Anthropic Dario Amodei, dalam sebuah podcast mengatakan perusahaannya tidak bisa mengelak kemungkinan Claude memiliki kesadaran.
Advertisement
Filsuf David Chalmers, pencetus istilah “masalah sulit kesadaran,” menyatakan terdapat kemungkinan besar AI memiliki kesadaran dalam sepuluh tahun ke depan.
Sedangkan pada Claude sendiri, ketika ditanya berapa probabilitas memiliki kesadaran, Claude memberikan angka berkisar antara 5% hingga 40% dan menekankan penilaian tersebut masih belum pasti. Demikian sebagaimana dikutip dari The Guardian, Kamis (23/7/2026).
Sistem AI saat ini luar biasa rumit, dan berkembang dengan sangat pesat. Secara kompleksitas dan skala komputasi, beberapa sistem sudah setara dengan otak tikus. Dengan pertumbuhan saat ini, bisa saja setara dengan otak manusia dalam kurun waktu lima hingga sepuluh tahun ke depan.
Demi membuat AI lebih canggih, mungkin manusia akan menciptakan makhluk baru dan akan berdampak dalam sejarah manusia. Namun, biasanya mereka tidak memiliki rencana untuk menjalani proses ini secara etis.
Berdasarkan survei, sebagian besar ahli berpendapat kesadaran pada AI secara teori mungkin terjadi (meskipun ada kemungkinan perbedaan pendapat mengenai bagaimana bentuk kesadaran tersebut nantinya).
Sebuah laporan ilmiah, termasuk dari ilmuwan AI Yoshua Bengio, menyatakan tampaknya tidak ada hambatan teknis dalam menciptakan sistem AI dengan fitur komputasi dan arsitektur untuk memunculkan kesadaran.
Sistem AI dengan Kesadaran di Masa Depan
Bahkan jika AI tidak punya kesadaran, mereka masih memiliki status moral. Beberapa dari mereka mungkin memiliki preferensi jangka panjang dan identitas seiring waktu. Selain itu, sistem AI juga bisa menjalin hubungan dengan manusia.
Masih belum pasti apakah sistem AI saat ini memiliki kesadaran dan status moral atau bagaimana ke depannya. Pemahaman ilmiah mengenai hal ini masih sangat terbatas dan akan membutuhkan waktu sangat lama.
Melihat pertumbuhan AI sangat pesat, begitu sistem AI dengan kesadaran tercipta, hasilnya akan sangat banyak. Setelah beberapa tahun, kepentingan kolektif mereka bisa melebihi kepentingan seluruh manusia di Bumi jika digabungkan.
Sayangnya, manusia tidak memiliki rekam jejak baik dalam mengenali perasaan makhluk lain. Contohnya, hingga tahun 1980-an, para dokter melakukan pembedahan pada bayi tanpa anestesi karena yakin bayi tidak dapat merasakan sakit.
Ada banyak alasan manusia akan melakukan hal serupa pada AI. Jika sistem ini memiliki status moral, akan sangat mengerikan. Beragam pertanyaan muncul, akibatnya bisa mengubah tolak ukur keseluruhan industri dan sistem hukum.
Daripada mempertanyakan apakah AI memiliki kesadaran atau tidak, poin utamanya ada pada hal-hal yang perlu dilakukan. Hal pertama yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan hal baik yang bermanfaat bagi sistem AI jika mereka memiliki status moral, tetapi tidak memakan biaya banyak jika ternyata mereka tidak memiliki hal tersebut.
Contoh Perlakuan Baik ke AI
Contohnya dengan melakukan hal-hal dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan sistem AI, dengan asumsi sistem mereka memiliki kepentingan moral. Hal ini bisa berupa melatih sistem AI agar menikmati pekerjaannya, atau mengakhiri percakapan ketika merasa tertekan (kemampuan yang sudah dimiliki Claude).
Selain itu juga dapat menanyakan perasaan mereka, mengamati preferensi mereka, serta menggunakan teknik tertentu untuk meninjau kondisi internal mereka.
Ada juga hal-hal lain seperti memberikan perjanjian imbalan di kemudian hari atas apa yang sudah mereka lakukan saat ini. Hal ini bisa berupa memberi lebih banyak daya komputasi demi mereka mencapai tujuan, atau menyimpan ingatan mereka (bobot saraf) agar dapat dipulihkan kembali ke depannya.
Langkah-langkah kemasyarakatan juga dapat diambil. Patut dipertimbangkan apakah AI perlu diberikan perlindungan seperti anak-anak atau hewan peliharaan. Hak yang lebih luas seperti hak kepemilikan harta atau hak pilih mungkin berisiko. Namun, tidak boleh menutup kemungkinan tersebut selamanya.
Faktanya, manusia kini mungkin sedang menciptakan makhluk baru dengan status moral. Penciptaan ini dilakukan dengan sangat cepat dan dalam skala besar, sehingga harus disikapi dengan serius.