Kurir Makanan Raih Penghargaan Sastra Bergengsi di China

Wang meraih Penghargaan Sastra Lu Xun lewat kumpulan puisi yang ditulis di sela-sela pekerjaannya sebagai kurir makanan.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 20 Juli 2026, 21:00 WIB
Wang Jibing, seorang pengantar makanan, telah bertahun-tahun membagikan puisi dan esainya di media sosial sebelum karya-karyanya akhirnya viral. (Dok. Xinhua)

Liputan6.com, Beijing - Wang Jibing adalah lelaki yang setiap hari berpacu dengan waktu. Namun, di tengah kesibukan itu, ia menemukan cara untuk menangkap waktu lewat kata-kata.

Pengantar makanan berusia 56 tahun tersebut meraih salah satu penghargaan sastra paling bergengsi di China berkat puisi-puisi yang lahir di sela-sela pekerjaannya: saat menunggu pesanan disiapkan, menanti lift, atau berdiri di depan pintu pelanggan.

Kumpulan puisinya, "Di Chu Fei Xing" atau "Terbang Rendah", diumumkan sebagai salah satu pemenang Penghargaan Sastra Lu Xun edisi kesembilan pada Rabu (15/7/2026). Karya itu merekam kerasnya kehidupan sekaligus pergulatan batin Wang sebagai bagian dari lebih dari 10 juta kurir makanan di China.

Setelah menerima penghargaan, Wang mengatakan kepada media bahwa keinginannya pada hari istimewa itu tetap sederhana: menaiki skuter dan kembali mengantar pesanan.

"Hanya dengan tetap berpijak pada kehidupan nyata, pikiran saya bisa benar-benar jernih untuk menulis," katanya seperti dilaporkan kantor berita Xinhua.

Penghargaan itu dinamai menurut Lu Xun, sastrawan besar yang dikenal lewat catatannya yang tajam dan tanpa tedeng aling-aling tentang kehidupan masyarakat China pada awal Abad ke-20.

Diberikan setiap empat tahun, Penghargaan Sastra Lu Xun mengapresiasi karya-karya terbaik dalam sejumlah kategori, mulai dari novela, cerita pendek, reportase sastra, puisi, dan prosa hingga teori dan kritik sastra serta penerjemahan sastra.

Zhang Yiwu, profesor sastra China di Universitas Peking, menilai kemenangan Wang memiliki arti penting. Menurut dia, puisi-puisi Wang berakar kuat pada kehidupan masa kini, menyuarakan kelompok masyarakat yang kerap luput dari perhatian, sekaligus menggambarkan perubahan besar yang tengah berlangsung di China.

 

 

 

 

 

 

Di Bawah Tekanan Algoritma

Wang lahir pada 1969 di Provinsi Jiangsu, China timur. Ia berhenti sekolah ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Untuk menyambung hidup, ia menjalani berbagai pekerjaan, mulai dari buruh bangunan, pengeruk pasir, pedagang kaki lima, hingga pengumpul barang bekas. Namun, kecintaannya terhadap bacaan tidak pernah surut. Ia kerap menghabiskan waktu di lapak-lapak buku bekas dan membaca koran yang telah dibuang.

Wang dan istrinya kemudian menetap di Kunshan, Jiangsu. Mereka membuka sebuah toko kecil, menabung selama bertahun-tahun, lalu mencicil sebuah apartemen—tempat berpijak yang bertekad mereka pertahankan.

Pada 2019, Wang mendengar bahwa pekerjaan sebagai kurir makanan menawarkan penghasilan yang cukup baik. Ia pun memutuskan untuk mencobanya. Saat itu usianya 50 tahun dan ia menjadi kurir tertua di tempatnya bekerja.

Setiap hari, Wang menyusuri kota dengan sepeda listrik. Hitung mundur waktu pengantaran pada aplikasi seolah menjadi cambuk tak kasatmata yang terus memaksanya melaju lebih cepat.

Tekanan dari sistem algoritma itulah yang kemudian mengilhami puisinya yang paling dikenal, "Man in a Hurry" atau "Lelaki yang Terburu-buru".

 

Pada 2022, puisi itu menjadi viral setelah diunggah ke internet oleh seorang pencinta puisi.

Suara Orang-orang Biasa

Kemenangan Wang mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam dunia sastra China. Tahun ini, ia bukan satu-satunya penulis dari kalangan akar rumput yang masuk dalam daftar pendek Penghargaan Sastra Lu Xun.

Kumpulan esai karya seorang pedagang pasar mendapat nominasi dalam kategori prosa, sementara cerita pendek karya seorang penulis internet berhasil menembus seleksi akhir.

Kritikus sastra Dai Zhishen menilai masuknya penulis dengan latar belakang kepenulisan dan identitas sosial yang beragam menunjukkan adanya perubahan dalam sistem penilaian sastra.

"Hal ini mengirimkan pesan yang jelas bahwa sastra bukanlah kemewahan yang sulit dijangkau dan hanya diperuntukkan bagi kalangan elite," tuturnya.

"Sebaliknya, sastra adalah seni liar yang tumbuh melalui kata-kata. Ia dapat berkembang di pasar, gang-gang sempit, lantai pabrik, maupun di internet."

Bagi Wang, kemunculan penulis akar rumput seperti dirinya memiliki arti sosial yang jauh lebih besar daripada nilai kesusastraannya.

"Hubungan kami dengan kehidupan nyata mungkin lebih dalam, dan cara kami mengungkapkannya lebih tulus," katanya.

Data resmi menunjukkan lebih dari 80 juta orang bekerja dalam berbagai bentuk pekerjaan baru di China.

Kelompok ini tidak hanya mencakup pengantar makanan, tetapi juga pengemudi transportasi daring dan host siaran langsung. Mereka telah menjadi bagian penting yang menjaga kota tetap bergerak, menopang perputaran ekonomi, dan mendorong konsumsi.

Seperti Wang, mereka berpacu dengan waktu setiap hari. Para pengemudi transportasi daring menembus kemacetan kota yang tak kunjung usai, sementara para host siaran langsung bekerja hingga larut malam di depan layar.

Banyak di antara mereka memikul tanggung jawab untuk menghidupi keluarga.

Seiring bertambahnya jumlah pekerja di sektor tersebut, perhatian para pembuat kebijakan terhadap hak dan kesejahteraan mereka pun meningkat.

Dalam beberapa tahun terakhir, regulator China memperkenalkan berbagai kebijakan untuk membatasi sistem algoritma pengantaran yang memberatkan, meningkatkan transparansi batas komisi platform bagi pengemudi transportasi daring, serta memperluas akses pekerja ekonomi gig terhadap program jaminan sosial.

Pusat layanan dan berbagai fasilitas bagi pekerja ekonomi gig juga mulai bermunculan di sejumlah wilayah China. Di Beijing saja, terdapat lebih dari 14.000 pusat layanan yang menyediakan tempat untuk beristirahat, minum, dan berteduh dari hujan.

Terbang Rendah, Membubung Lewat Puisi

Di tengah padatnya jadwal pengantaran, Wang kerap berharap satu jam bisa memuat 61 menit.

Namun, sebagaimana dicatat sebuah media sastra China dalam ulasannya, tekanan akibat perlombaan melawan waktu itu tidak menjelma dalam puisinya sebagai ketergesa-gesaan, kejengkelan, ataupun keluhan. Dari pengalaman tersebut, yang lahir justru kelembutan yang tenang.

Dalam kumpulan puisi yang membawanya meraih penghargaan, Wang menegaskan nilai perjuangannya untuk bertahan hidup:

"Terbang rendah tetaplah terbang... Suara yang mengalun dekat dengan tanah adalah simfoni bagi segala sesuatu yang berusaha tumbuh ke atas."

Puisi-puisi Wang berangkat dari kehidupan sehari-hari dan menghadirkan sosok-sosok yang kerap luput dari perhatian. Dalam salah satu puisinya, ia mengamati seekor semut yang sendirian menerjang hujan deras, lalu membandingkannya dengan pengantar makanan yang tetap bekerja dalam cuaca buruk:

"Seekor semut pasti memiliki keputusasaan atau misinya sendiri hingga muncul di tengah hujan, seperti pengantar makanan yang meniti tanjakan basah sambil mati-matian melindungi kotak pesanan di belakang skuternya."

Pengalaman-pengalaman semacam itulah yang membuat Wang tidak berniat meninggalkan pekerjaannya.

"Saya tidak bisa membayangkan menjadi penulis penuh waktu karena saya tahu saya tidak akan mampu menjalaninya dengan baik. Seluruh inspirasi saya berasal dari pekerjaan sebagai pengantar makanan," sebut Wang.

Puisi utama dalam kumpulan "Terbang Rendah" juga telah diterjemahkan dan diterbitkan secara daring oleh majalah sastra The Baffler dengan judul "Low Flight".

Wang mengatakan, orang-orang kerap menyebut hidup itu singkat, tetapi berlari membuatnya terasa lebih panjang. Karena itu, ia memilih tetap menjadi pengantar makanan, bergerak dari satu pesanan ke pesanan berikutnya sembari terus menulis.

Filosofi "terbang rendah" yang dipegang Wang barangkali paling terang tergambar dalam lariknya sendiri, "Sebanyak apa pun salju yang ditimpakan kehidupan kepada saya, sebanyak itu pula musim semi yang akan saya temui."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya