Liputan6.com, Jakarta - Di tengah sentimen geopolitik memanas seiring ketegangan Amerika Serikat (AS)-Iran kembali meningkat, rilis data ekonomi AS yakni pengumuman inflasi menimbulkan prospek terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed).
Pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik menjadi 6.175. Di antara 11 sektor saham, sektor saham basic materials dan consumer siklikal masing-masing naik 5,47% dan 5,32%. Indeks saham LQ45 melesat 5,54%.
Advertisement
Sementara itu, harga minyak menguat 12,29% selama sepekan. Di sisi lain, indeks Nikkei dan Shanghai masing-masing melemah 6,44% dan 5,81%.
Mengutip riset Ashmore Asset Management Indonesia, ditulis Minggu (19/7/2026),sentimen geopolitik yang kembali menguat dengan konflik Amerika Serikat (AS)-Iran yang kembali terjadi telah mendorong harga minyak menguat. Di sisi lain, data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan telah mengalihkan perhatian dari kenaikan suku bunga, dan kembali arah pemangkasan suku bunga.
Laporan inflasi AS pada Selasa pekan ini menunjukkan Consumer Price Index (CPI) utama turun 0,4% Month on Month (MoM), penurunan bulanan terbesar sejak April 2020. Hal itu membawa inflasi tahunan turun menjadi 3,5% dari 4,2% pada Mei, dan jauh di bawah konsensus 3,8%. CPI inti datar turun menjadi 2,6% dari 2,9%.
Sebagian besar perbaikan berasal dari komponen energi seiring koreksi harga minyak sehingga mengubah harapan jangka pendek. Sebelum rilis data, pasar memprediksi kenaikan suku bunga 43% pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Juli, tetapi setelah itu, peluang tersebut turun menjadi 16%.
Ashmore menilai, the Fed kemungkinan tetap berhati-hati dalam konteks ini karena satu data saja tidak menunjukkan tren, tetapi harapan telah bergeser dari seberapa cepat suku bunga, dapat naik, menuju kapan kebijakan dapat dilonggarkan.
“Pasar masih menunggu kejelasan lebih lanjut tentang bagaimana tekanan inflasi dapat bergerak dalam beberapa bulan mendatang, karena faktor besar tetap bergantung pada harga energi yang tetap bergejolak karena ketegangan geopolitik yang berkelanjutan,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.
Sentimen Domestik
Dari sentimen domestik, laporan lembaga pemeringkat S&P Global Ratings pada 13 Juli 2026 menegaskan peringkat kredit sovereign Indonesia di BBB dengan outlook stabil.
“Dibandingkan dengan Moody’s dan Fitch, yang keduanya telah menurunkan prospek mereka menjadi negatif awal tahun ini, keputusan dari S&P ini merupakan dorongan nyata bagi kepercayaan,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.
S&P menunjuk pada rekam jejak disiplin fiskal Indonesia, kesediaan pemerintah untuk memangkas pengeluaran, terutama pengurangan anggaran program makan gratis. S&P secara eksplisit menyebutkan batas defisit 3% sebagai jangkar untuk prospek yang stabil. Selain itu, S&P juga memprediksi defisit neraca transaksi berjalan menuju 2,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Pada pekan ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis daftar saham yang dimasukkan ke dalam daftar Konsentrasi Kepemilikan Saham Tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) sebagai bagian dari upayanya untuk meningkatkan transparansi dan kemampuan investasi secara keseluruhan di pasar saham.
“Ini adalah sinyal yang baik untuk menunjukkan upaya berkelanjutan untuk menyempurnakan dan menerapkan kebijakan, sementara pasar menunggu tindak lanjut dari MSCI dalam tinjauan November,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.
Sentimen Geopolitik Masih Membayangi
Secara keseluruhan, tren minggu ini bukanlah geopolitik, melainkan narasi inflasi dan suku bunga.
“Satu angka CPI yang lemah telah menggeser percakapan global dari pengetatan yang akan segera terjadi menuju pelonggaran yang akan datang, mengurangi tekanan pada imbal hasil, dolar, dan aset pasar negara berkembang,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.
Bagi Indonesia, penegasan S&P merupakan sinyal yang disambut baik setelah paruh pertama yang berat.
“Kurva imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tetap relatif datar dan tinggi, sehingga kami terus melihat titik masuk yang menarik,” demikian seperti dikutip dari laporan itu.
Sementara itu, tenor yang lebih panjang dapat menawarkan potensi yang lebih besar jika imbal hasil AS turun, mata uang stabil secara lebih berkelanjutan, dan jika kredibilitas fiskal menguat.
“Untuk ekuitas, kami terus menyukai saham dengan likuiditas, transparansi, dan fundamental yang kuat,” demikian seperti dikutip.
Sentimen yang Perlu Dicermati
Hal-hal penting yang perlu diperhatikan masih berputar di sekitar perkembangan ketegangan geopolitik dan apakah pengiriman dapat mengalir melalui Selat Hormuz dengan lebih bebas. Selain itu, indikator makroekonomi yang akan datang yang dapat membentuk kembali nada yang diambil Fed di FOMC pada akhir bulan ini.