Liputan6.com, Jakarta - Setelah melumpuhkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, Iran kini memberi sinyal untuk menutup jalur Bab el-Mandeb, pintu masuk menuju Laut Merah. Kedekatan negara ini dengan kelompok Houthi, sekutunya di Yaman, memungkinkan hal tersebut terjadi.
Namun, langkah itu akan membuka front baru melawan Amerika Serikat sekaligus menempatkan dua jalur energi paling vital di dunia dalam risiko. Dipastikan ini akan melambungkan kembali harga minyak.
Advertisement
Melansir laman Taipei Times, Jumat (17/7/2026), seiring serangan Amerika Serikat yang semakin intensif di wilayah Iran dan serangan Houthi yang meningkat secara bersamaan, para analis menilai Teheran sedang memperluas konflik dan berupaya meningkatkan tekanan terhadap Washington.
Iran memperluas ancaman terhadap kelancaran perdagangan global serta pasokan energi, tidak hanya di kawasan Teluk tetapi juga di jalur pelayaran internasional lainnya.
Iran sebelumnya telah menunjukkan besarnya kekuatan aset strategis paling berharganya dengan mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Kini Iran tampaknya bersiap membuka titik tekanan kedua di Selat Bab el-Mandeb, jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Lokasi yang menjadi lintasan ekspor minyak Arab Saudi serta sebagian besar pelayaran perdagangan dunia.
Pejabat Senior Yaman, pada Senin waktu setempat, memperingatkan bahwa angkatan bersenjata negaranya siap menutup Selat Bab el-Mandeb. Ini langkah yang dapat mendorong harga minyak melonjak hingga US$ 200 per barel, apabila Arab Saudi terus melancarkan serangan ke Yaman.
Mohammed al-Farah, Anggota biro politik Ansarullah atau gerakan Houthi, mengungkapkan, Washington mendorong Arab Saudi untuk menyerang Yaman dan provokasi semacam itu tidak akan menguntungkan Amerika Serikat.
"Jika situasi saat ini semakin memburuk, Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz akan ditutup melalui aliansi operasional. Harga minyak kemudian akan melonjak hingga US$ 200 per barel dalam guncangan yang sangat besar," ujarnya.
Tuas Strategis Iran
Para analis menilai, jika Selat Hormuz merupakan tuas strategis terkuat Iran, maka Bab el-Mandeb bisa menjadi cadangan strategi besar terakhir yang dimiliki Teheran. "Iran bersedia melangkah sejauh apa pun," kata akademisi Timur Tengah Fawaz Gerges.
Teheran sedang menunjukkan kepada Washington bahwa mereka mampu mengancam kedua jalur pelayaran strategis tersebut secara bersamaan.
Ini membuat konflik tidak lagi sekadar menjadi konfrontasi bilateral, tetapi berkembang menjadi ancaman terhadap jalur laut yang menopang perdagangan energi global.
"Kini Teheran meningkatkan eskalasi, baik di kawasan dekat maupun lebih luas. Pesannya jelas, bukan hanya Selat Hormuz, tetapi juga Bab el-Mandeb berada dalam risiko," ujarnya.
Para analis menilai bahaya terbesar saat ini bukanlah pecahnya perang terbuka secara langsung, melainkan meningkatnya konflik secara bertahap (mission creep), ketika masing-masing pihak terus menaikkan intensitas tekanan tanpa benar-benar memasuki konfrontasi langsung.
Seiring konflik meluas dari kawasan Teluk ke Laut Merah, ancaman terhadap perdagangan dan pasokan energi dunia diperkirakan akan meningkatkan tekanan terhadap Washington dan Teheran untuk kembali ke meja perundingan sebelum dua jalur minyak terpenting di dunia berubah menjadi medan utama konflik.
Houthi Serang Kapal di Selat Bab el-Mandeb
Mantan negosiator perdamaian Amerika Serikat untuk Timur Tengah, Dennis Ross, mengatakan jika dari sudut pandang Washington, persoalannya adalah bagaimana mengubah kalkulasi Iran hingga mereka kembali bersedia berunding, bukan sekadar berbicara, tetapi benar-benar mencapai suatu kesepakatan yang dapat diterima.
Kelompok Houthi sendiri telah menunjukkan kemampuannya mengganggu perdagangan global melalui Selat Bab el-Mandeb. Setelah perang Gaza pecah pada Oktober 2023, kelompok yang didukung Iran tersebut melancarkan serangan terhadap kapal-kapal dagang di Laut Merah dengan alasan menargetkan kapal yang memiliki keterkaitan dengan Israel sebagai bentuk dukungan terhadap rakyat Palestina.
Serangkaian serangan itu memaksa perusahaan-perusahaan pelayaran besar mengalihkan rute kapal mengitari Afrika bagian selatan, sehingga biaya transportasi meningkat.
Kondisi tersebut juga memicu serangan udara Amerika Serikat dan Inggris serta pembentukan misi angkatan laut multinasional untuk melindungi jalur pelayaran.