Pakar Ungkap Dampak Plastik Impor Murah terhadap Industri

Bahan baku dari China, Korea Selatan hingga Thailand memukul industri petrokimia domestik. Padahal industri ini dinilai serap banyak tenaga kerja.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 17 Juli 2026, 14:45 WIB
Sejumlah pedagang di Pasar Senen, Jakarta Pusat mengungkapkan kenaikan harga plastik. (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

Liputan6.com, Jakarta - Produk plastik impor berharga murah, terutama dari China, mengalir deras hingga dinilai semakin menekan daya saing industri plastik nasional. Ekonom mengingatkan kondisi tersebut dapat memicu penurunan produksi, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga menghambat investasi apabila pemerintah tidak segera memperkuat kebijakan pengamanan perdagangan.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti mengatakan tekanan terhadap industri plastik nasional sudah dirasakan oleh sektor petrokimia hulu maupun hilir akibat membanjirnya bahan baku impor dari sejumlah negara.

“Dampaknya adalah penurunan utilisasi pabrik bahkan berpotensi memicu penutupan operasi. Industri petrokimia hulu dan hilir terpukul akibat membanjirnya bahan baku dari negara seperti China, Thailand, dan Korea,” kata Esther kepada Liputan6.com, Kamis (16/7/2026).

Esther menilai kondisi tersebut mengancam keberlangsungan industri yang selama ini menyerap jutaan tenaga kerja. Dia menuturkan, persaingan yang tidak sehat dari produk impor murah berpotensi memicu gelombang PHK apabila tidak segera diatasi.

“Industri plastik nasional menyerap jutaan tenaga kerja. Persaingan yang tidak adil dari produk impor murah membuat kelangsungan hidup pabrik terancam sehingga berisiko menciptakan gelombang PHK,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dampak terhadap usaha kecil dan menengah (UKM) yang semakin sulit bersaing dengan produk impor berharga sangat rendah. “Produk jadi dari luar negeri yang masuk dengan harga sangat murah, bahkan dicurigai ilegal atau dijual di bawah biaya produksi, mematikan pangsa pasar UKM lokal,” Esther menambahkan.

            

Dugaan Impor Ilegal Meningkat

Sejumlah pedagang di Pasar Senen, Jakarta Pusat mengungkapkan kenaikan harga plastik. (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menyebut industri plastik menjadi salah satu sektor yang paling rentan terdampak lonjakan impor murah dari China. Menurutnya, tren tersebut semakin terlihat setelah pandemi dan mengindikasikan adanya praktik dumping yang turut menekan sejumlah sektor manufaktur.

“Industri plastik termasuk yang rentan dan mengalami penurunan kinerja pertumbuhannya dalam beberapa tahun terakhir, apalagi dengan banjirnya impor murah dari China. Setelah pandemi, banyak kasus yang mengindikasikan adanya kecenderungan dumping dari China yang mempengaruhi banyak industri, termasuk industri tekstil dan produk tekstil,” kata Faisal kepada Liputan6.com, Jumat, 17 Juli 2026.

Berdasarkan analisis data perdagangan internasional menggunakan metode mirroring Trade Map, Faisal menyebut plastik dan barang dari plastik menjadi salah satu kelompok produk dengan dugaan impor ilegal terbesar dari China. Posisinya berada setelah mesin dan peralatan mekanik, besi baja, serta perabot dan lampu.

“Kalau dibandingkan 2023 ke 2024, dugaan impor ilegalnya cenderung meningkat. Dampaknya tentu besar terhadap industri dalam negeri karena mereka harus bersaing dengan produk impor ilegal yang tidak membayar berbagai kewajiban seperti tarif impor dan pungutan lainnya,” ujarnya.

Selain menggerus pangsa pasar industri nasional, Faisal menilai praktik impor ilegal juga berpotensi mengurangi penerimaan negara. “Produk impor ilegal tidak membayar pajak dan berbagai kewajiban lainnya. Ini berpotensi, bahkan mungkin sudah, berdampak terhadap kerugian negara dari sisi penerimaan fiskal atau APBN,” katanya.         

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya