Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wakil Menteri ESDM), Yuliot Tanjung mengatakan, minyak impor dari Rusia akan menjadi cadangan penyangga energi nasional. Dia belum bisa memastikan minyak impor Rusia itu sudah tiba di Indonesia.
Pemerintah berencana untuk mendatangkan 150 juta barel minyak dari Rusia. Itu menjadi kesepakatan usai Presiden Prabowo Subianto bertemu Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Advertisement
"Belum (diolah). Jadi penyangga, cadangan penyangga energi nasional," kata Yuliot di Kompleks Parlemen, Jakarta, ditulis Jumat (17/7/2026).
Ketika dikonfirmasi mengenai kabar sudah tibanya minyak impor Rusia di Indonesia, Yuliot belum bisa memastikan. Dia mengaku masih harus mengecek sumber minyak yang sudah masuk wilayah Balikpapan, Kalimantan Timur.
"Untuk itu pengadaan minyak, itu ada Indonesia blend. Indonesia blend itu ini minyak itu melalui supplier yang ada. Jadi supplier yang ada ya kita terima di dalam negeri adalah dalam bentuk blending, Nusantara blending," terangnya.
"Jadi saya rasa itu dari mana asalnya, apakah itu ada yang dari Rusia, berapa jumlahnya kami cek dulu ya," imbuh Yuliot, ingin memastikan sumber minyak yang masuk Indonesia.
Bahlil Tugaskan Lemigas Impor Minyak Rusia
Sebelumnya, Pemerintah menugaskan Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (BBPMGB) Lemigas untuk melakukan impor minyak mentah dari Rusia. Hal tersebut diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.
"Ya, salah satu di antaranya (impor migas dari Rusia),” ujar Bahlil, Senin, 8 Juni 2026.
Langkah tersebut merupakan bagian dari realisasi komitmen impor minyak sebesar 150 juta barel dari Rusia yang akan dilakukan secara bertahap hingga akhir 2026, yang merupakan hasil kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia.
Harus Lewat BLU
Sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto melalui Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2026 mengatur tentang Pengadaan Minyak Bumi, Bahan Bakar Minyak dan/atau Liquified Petroleum Gas (LPG) untuk Ketahanan Energi Nasional, Bahlil menyampaikan akan melakukan komunikasi dengan Lemigas.
Komunikasi tersebut nantinya akan meliputi Badan Layanan Umum (BLU) di bidang energi, yakni Lemigas, untuk mengelola impor di sektor energi yang meliputi minyak mentah, bahan bakar minyak (BBM), serta LPG.
"Hari ini saya akan mulai komunikasikan, karena arahan Bapak Presiden lewat perpres itu bahwa impor energi diharapkan agar bisa juga dikelola oleh BLU, dalam hal ini Lemigas,” kata Bahlil.
Pangkas Rantai Impor
Tujuan dari pengelolaan impor di sektor energi oleh Lemigas, lanjut dia, guna memotong mata rantai dari proses impor yang selama ini terjadi.
Bahlil menambahkan, impor komoditas energi melalui Lemigas juga memungkinkan terjadinya transaksi antarpemerintah atau government to government (G to G).
"Jadi, kalau Presiden katakanlah melakukan kerja sama dengan negara lain terkait dengan crude (minyak mentah), itu bisa langsung G to G, dan ditindaklanjuti lewat G to B, lewat negara. Gitu ya,” ujar Bahlil.