Survei: China dan Xi Jinping Lebih Disukai daripada AS dan Trump

Pengumpulan data survei dilakukan di puluhan negara dan wilayah.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 16 Juli 2026, 15:40 WIB
Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat bertemu di Beijing pada Kamis (14/5/2026). (Dok. Tangkapan layar video AP)

Liputan6.com, Washington, DC - Selama bertahun-tahun, masyarakat di banyak negara cenderung memandang Amerika Serikat (AS) lebih positif daripada China. Namun, kecenderungan itu berbalik tahun ini. Untuk pertama kalinya, menurut jajak pendapat terbaru Pew Research Center, China kini dipandang lebih positif daripada AS.

Pergeseran tersebut antara lain dipengaruhi oleh memburuknya hubungan antara pemerintahan Presiden Donald Trump dan sejumlah negara sekutu AS.

Dalam survei yang dilakukan di 36 negara dan wilayah, masyarakat di 25 negara dan wilayah memiliki pandangan lebih positif terhadap China daripada AS. Kanada dan Meksiko termasuk di antaranya.

Survei berlangsung pada Februari hingga Mei, ketika AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran. Berdasarkan hasil survei yang dirilis Rabu, hanya enam negara yang masyarakatnya masih memandang AS lebih positif daripada China.

Perubahan serupa juga terlihat dalam penilaian terhadap pemimpin kedua negara. Di 22 dari 36 negara dan wilayah yang disurvei, pemimpin China Xi Jinping dipandang lebih positif daripada Presiden Trump.

Negara-negara tersebut mencakup Kanada, Meksiko, serta sejumlah kekuatan utama Eropa, seperti Prancis, Jerman, dan Inggris. Meski demikian, tingkat kepercayaan terhadap Xi dan Trump sama-sama rendah di banyak negara.

Laura Silver, wakil direktur riset sikap global Pew sekaligus salah satu peneliti dalam studi tersebut, mengatakan ini merupakan kali pertama dalam sekitar 20 tahun pemantauan Pew bahwa China dipandang lebih positif daripada AS.

Dalam beberapa periode sebelumnya, penilaian masyarakat terhadap Beijing dan Washington pernah hampir sama. Namun, baru kali ini China unggul secara signifikan.

Menurut Silver, membaiknya pandangan terhadap China antara lain dipengaruhi oleh semakin pudarnya ingatan masyarakat tentang pandemi COVID-19, yang sebelumnya merusak citra Beijing.

Pada saat yang sama, pandangan terhadap AS justru memburuk akibat berbagai kebijakan dan tindakannya di panggung global.

"Ada hubungan yang nyata antara pecahnya perang dan munculnya anggapan bahwa AS tidak berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas, serta menurunnya kepercayaan terhadap Trump," kata Silver.

Ia mengatakan tuntutan Trump untuk menguasai Greenland, operasi militer AS yang menangkap pemimpin Venezuela saat itu, Nicolás Maduro, serta penanganan Washington terhadap perang Israel-Hamas di Gaza turut membuat pandangan terhadap AS memburuk di banyak negara.

"Dalam beberapa bulan hingga beberapa tahun terakhir, berbagai bentuk keterlibatan AS di dunia tidak dipandang positif oleh masyarakat internasional," ujarnya.

Memburuknya citra AS tersebut ikut menguntungkan China. Ketika keduanya dibandingkan secara langsung, Beijing dinilai lebih positif di banyak negara.

"Di banyak tempat, China dipandang sebagai mitra yang lebih dapat diandalkan. China juga lebih sering dianggap berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas dunia," kata Silver.

Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales mengatakan, "Presiden Trump telah berbuat lebih banyak bagi stabilitas global daripada siapa pun."

Wales menyebut sejumlah pencapaian Trump, termasuk "menghancurkan fasilitas nuklir Iran" dan "melenyapkan ratusan narkoteroris."

"Presiden Trump adalah pemimpin dunia bebas. Berkat kepemimpinannya yang berani, AS kini lebih kuat daripada sebelumnya," tutur Wales.

 

 

Reaksi China

 

Kedutaan Besar China di Washington mengatakan hasil jajak pendapat itu menunjukkan bahwa pencapaian tata kelola dan kemajuan pembangunan China mendapat pengakuan luas.

Perubahan pandangan yang paling mencolok terlihat di sejumlah negara sekutu AS, termasuk Kanada.

Dalam survei terbaru, hanya 33 persen warga Kanada yang memiliki pandangan positif terhadap AS. Angka itu turun dari 57 persen pada 2023.

Pada periode yang sama, persentase warga Kanada yang berpandangan positif terhadap China naik dari 14 persen menjadi 44 persen.

Tahun lalu, Trump memberlakukan serangkaian tarif terhadap barang-barang Kanada. Ia pernah pula mengatakan Kanada dapat menjadi "negara bagian ke-51" AS.

Pandangan masyarakat di sejumlah negara utama Eropa juga berubah. Negara-negara tersebut antara lain Prancis, Jerman, Spanyol, Italia, Swedia, dan Belanda.

Di Inggris, sekitar enam dari 10 orang memandang AS secara positif pada 2023. Kini, tingkat penilaian positif terhadap AS dan China hampir sama.

Tiga tahun lalu, AS masih unggul 32 poin persentase atas China dalam penilaian masyarakat Inggris.

Dari enam negara yang masyarakatnya masih memandang AS lebih positif daripada China, Israel menunjukkan dukungan paling kuat terhadap Washington.

Sekitar delapan dari 10 warga Israel memiliki pandangan positif terhadap AS. Sebaliknya, hanya 19 persen yang berpandangan positif terhadap China.

Lima negara lainnya adalah Jepang, India, Korea Selatan, Filipina, dan Polandia. Namun, pandangan masyarakat di negara-negara tersebut terhadap AS memburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam satu bidang, AS masih dinilai lebih baik daripada China, yaitu dalam hal penghormatan pemerintah terhadap kebebasan pribadi. Namun, menurut laporan Pew, keunggulan AS dalam hal tersebut semakin menyusut.

Membaiknya citra China hanya menjadi salah satu penyebab penyempitan kesenjangan itu. Penyebab utamanya adalah semakin sedikit masyarakat di hampir semua negara yang disurvei yang menilai pemerintah AS menghormati kebebasan pribadi rakyatnya.

Pew terakhir kali mengajukan pertanyaan mengenai hal tersebut pada 2021.

Dalam studi terbaru ini, Pew menyurvei lebih dari 42.000 orang di 35 negara, ditambah Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Margin kesalahan survei berkisar antara 2,3 hingga 5,5 poin persentase, bergantung pada negara yang disurvei.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya