Konstruksi Proyek Abadi Blok Masela Rp 390 Triliun Dimulai Hari Ini

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pastikan pengeboran 11 sumur dan konstruksi EPC Proyek Masela langsung berjalan usai groundbreaking 16 Juli 2026.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 16 Juli 2026, 14:30 WIB
Persiapan seremoni dimulainya pembangunan proyek gas raksasa Lapangan Abadi, Blok Masela, Maluku, Kamis (16/7/2026).

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan pekerjaan Proyek Abadi Masela langsung memasuki tahap konstruksi setelah pelaksanaan groundbreaking (peletakan batu pertama). Tahap awal proyek ini meliputi pengeboran sumur pengembangan serta pembangunan berbagai fasilitas penunjang utama.

Bahlil mengatakan, pekerjaan pertama yang dieksekusi adalah pengeboran 11 sumur pengembangan serta empat sumur lanjutan. Bersamaan dengan itu, pembangunan infrastruktur utama seperti pelabuhan, dermaga, dan fasilitas engineering, procurement, and construction (EPC) juga mulai dikerjakan secara paralel.

“Dengan groundbreaking hari ini, pekerjaan langsung berjalan. Yang pertama 11 sumur pengembangan ditambah empat sumur lanjutan. Yang kedua pembangunan berbagai fasilitas, termasuk pelabuhan, dermaga, dan EPC,” kata Bahlil dalam acara groundbreaking Proyek Abadi Masela di Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Kamis (16/7/2026).

Bahlil menyebut, nilai investasi jumbo untuk Proyek Abadi Masela ini mencapai sekitar US$ 21 miliar atau hampir setara dengan Rp 390 triliun. Investasi raksasa tersebut diharapkan mampu menjadi salah satu penggerak utama sektor energi nasional, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Maluku.

Menurut Bahlil, proyek strategis nasional ini ditargetkan mampu memproduksi 9,5 juta ton liquefied natural gas (LNG) per tahun serta 35.000 barel kondensat per hari. Kapasitas produksi tersebut diyakini akan mendongkrak peningkatan lifting migas secara nasional.

Pemerintah juga telah menetapkan kebijakan bahwa sebagian besar gas dari Proyek Abadi Masela diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sebanyak minimal 60% hasil produksi akan dialokasikan khusus ke pasar domestik, sedangkan maksimal 40% sisanya baru diperbolehkan untuk diekspor.

Bahlil menjelaskan, pasokan gas tersebut nantinya akan dimanfaatkan sebagai bahan baku industri hilirisasi, termasuk mendukung pengembangan industri pupuk nasional. Selain itu, aliran gas juga akan disalurkan kepada PT PLN (Persero), PT Perusahaan Gas Negara (PGN), serta sejumlah perusahaan swasta.

“Tujuannya adalah untuk meningkatkan nilai tambah dan menciptakan nilai ekonomi yang kuat di daerah,” pungkas Bahlil.

Prabowo Groundbreaking Blok Masela Hari Ini

Proyek Lapangan Gas Abadi di Blok Masela, yang ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) oleh Pemerintah Indonesia. (Dok SKK Migas)

Presiden Prabowo Subianto akan meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek Strategis Nasional (PSN) LNG Abadi Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, Kamis (16/7/2026). Adapun investasi proyek Blok Masela mencapai US$ 20,94 miliar atau sekitar Rp 378 triliun.

"Groundbreaking ini menandai dimulainya salah satu investasi energi terbesar dalam sejarah Indonesia sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional dan mendorong pemerataan pembangunan hingga ke kawasan timur Indonesia," kata Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam keterangannya, Kamis (16/7/2026).

Dia menjelaskan proyek LNG Abadi Masela dikembangkan oleh INPEX Masela Ltd. bersama Pertamina dan Petronas dengan nilai investasi sekitar US$ 20,9 miliar.

Proyek ini dirancang memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun (MTPA), menyalurkan gas pipa domestik sebesar 150 MMSCFD, serta menghasilkan kondensat sekitar 35.000 barel per hari untuk mendukung kebutuhan energi nasional.

"Setelah melalui proses pengembangan selama hampir tiga dekade sejak penandatanganan kontrak pada tahun 1998, proyek ini akhirnya memasuki tahap konstruksi," ujar Prasetyo.

Hingga awal Juli 2026, progres Front End Engineering Design (FEED) telah mencapai 79,56 persen, melampaui target yang direncanakan. Prasetyo menyebut berbagai perizinan strategis dan penyelesaian desain fasilitas utama terus berjalan sesuai jadwal menuju Final Investment Decision (FID) pada akhir tahun 2026. "Kilang LNG ini diproyeksikan menjadi salah satu pusat industri energi terbesar di Indonesia Timur," tutur Prasetyo. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya