Liputan6.com, Jakarta - Harga emas batangan yang dijual oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) turun Rp 2.000 pada perdagangan Kamis (16/7/2026). Penurunan tipis ini terjadi setelah harga emas antam sempat mengalami lonjakan signifikan sebesar Rp 20.000 pada perdagangan Rabu kemarin.
Dengan perubahan tersebut, harga emas Antam hari ini dibanderol Rp 2.633.000 per gram. Pada perdagangan hari sebelumnya, harga logam mulia ini bertengger di level Rp 2.635.000 per gram.
Advertisement
Pelemahan ini rupanya juga diikuti oleh harga buyback (beli kembali) emas Antam yang merosot dengan nominal serupa, yakni turun Rp 2.000. Saat ini, harga buyback emas Antam dipatok di level Rp 2.380.000 per gram. Sebagai informasi, harga buyback merupakan harga acuan yang berlaku jika pemilik emas ingin menjual kembali logam mulianya ke Antam.
Adapun harga emas batangan ini bersifat fluktuatif dan bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan pasar terkini.
Sebagai catatan historis, harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Kamis, 29 Januari 2026. Kala itu, harga emas meroket hingga menembus Rp 3.168.000 per gram dengan harga buyback berada di level Rp 2.989.000 per gram.
Seluruh informasi mengenai pergerakan harga ini bersumber langsung dari situs resmi Logam Mulia, unit bisnis PT Aneka Tambang Tbk, sehingga data yang disajikan memiliki tingkat akurasi dan kredibilitas tinggi bagi masyarakat.Daftar Harga Emas Antam Hari Ini
Rincian harga emas batangan Antam:
- 0,5 gram: Rp 1.366.500
- 1 gram: Rp 2.633.000
- 2 gram: Rp 5.206.000
- 3 gram: Rp 7.784.000
- 5 gram: Rp 12.940.000
- 10 gram: Rp 25.825.000
- 25 gram: Rp 64.437.000
- 50 gram: Rp 128.795.000
- 100 gram: Rp 257.512.000
- 250 gram: Rp 643.515.000
- 500 gram: Rp 1.286.820.000
- 1.000 gram (1 kg): Rp 2.573.600.000
Harga Emas Dunia Bertahan di Atas US$ 4.000
Harga emas dunia memangkas pelemahan pada perdagangan Rabu setelah Amerika Serikat (AS) merilis data inflasi produsen atau Producer Price Index (PPI) yang lebih rendah dari perkiraan pasar. Meski begitu, kekhawatiran terhadap inflasi dan tingginya suku bunga masih membayangi seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Mengutip CNBC, Kamis (16/7/2026), harga emas di pasar spot turun 0,2% ke level US$ 4.047,27 per ounce, setelah sebelumnya sempat merosot hampir 1% pada awal perdagangan. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS melemah 0,4% menjadi US$ 4.053,70 per ounce.
Chief Market Strategist Blue Line Futures, Phillip Streible, mengatakan bahwa harga emas berhasil memangkas pelemahannya setelah data PPI AS dirilis lebih rendah dari ekspektasi pasar.
"Harga emas berhasil memangkas pelemahannya sejak pagi setelah data PPI dirilis lebih rendah dari perkiraan. Hal itu meredakan sebagian kekhawatiran bahwa The Fed akan beberapa kali menaikkan suku bunga pada tahun ini," kata Chief Market Strategist Blue Line Futures Phillip Streible.
Menurut Departemen Tenaga Kerja AS melalui Bureau of Labor Statistics, indeks harga produsen (PPI) turun 0,3% pada Juni setelah pada Mei direvisi naik 0,6%.
Sebelumnya, ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan PPI tidak mengalami perubahan pada Juni, setelah laporan awal menunjukkan kenaikan 1,1% pada Mei.
Data Inflasi Konsumen AS
Data inflasi produsen yang lebih lemah ikut mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan Juli turun menjadi sekitar 10,2%, dari sebelumnya 16,6% sebelum data PPI diumumkan.
Sehari sebelumnya, data inflasi konsumen AS juga menunjukkan laju kenaikan harga melambat lebih besar dibandingkan perkiraan analis. Kondisi tersebut memperkuat harapan bahwa tekanan inflasi mulai mereda sehingga ruang kenaikan suku bunga semakin terbatas.
Namun, sentimen positif tersebut dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Amerika Serikat dilaporkan memulai gelombang baru serangan terhadap Iran setelah kembali memberlakukan blokade laut di sejumlah pelabuhan Iran. Di sisi lain, Iran mengancam akan menghentikan lebih banyak ekspor energi dari kawasan tersebut.
Ketegangan tersebut mendorong harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu.
Prediksi Analis
Senior Research Analyst FXTM, Lukman Otunuga, menilai perkembangan terbaru di sekitar Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.
"Perkembangan terbaru terkait Selat Hormuz kembali memunculkan kekhawatiran mengenai tekanan inflasi yang sulit dikendalikan. Jika ketegangan terus meningkat hingga mendorong harga minyak naik lebih tinggi, kondisi itu justru dapat menekan pergerakan harga emas," ujar Senior Research Analyst FXTM Lukman Otunuga.
Ia menambahkan bahwa secara teknikal, harga emas masih berada di titik krusial.
"Jika harga emas menembus turun level ini secara meyakinkan, maka jalan menuju US$ 3.950 bahkan US$ 3.000 akan semakin terbuka. Namun, jika level US$ 4.000 mampu bertahan sebagai area support yang kuat, harga emas berpeluang kembali naik menuju US$ 4.100," kata Otunuga.