Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mampu menguat hingga penutupan perdagangan Rabu, (15/7/2026). Penguatan rupiah terhadap dolar AS itu didorong menurunnya harapan the Federal Reserve (the Fed) untuk menaikkan suku bunga.
Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup naik 23 poin atau 0,13% menjadi 18.068 per dolar AS dari sebelumnya 18.091 per dolar AS.
Advertisement
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat di level 18.064 per dolar AS dari sebelumnya 18.099 per dolar AS.
“Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS, didukung oleh data inflasi AS yang lebih lemah dari perkiraan memicu menurunnya ekspektasi pada the Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga,” kata Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong seperti dikutip dari Antara.
Mengutip Anadolu, inflasi konsumen tahunan AS melambat menjadi 3,5% pada Juni 2026 yang di bawah ekspektasi pasar karena penurunan tajam harga energi mendorong penurunan bulanan terbesar sejak April 2020. Tingkat inflasi tahunan melambat dari 4,2% pada Mei 2026.
Indeks Harga Konsumen turun 0,4% pada Juni dari bulan sebelumnya pasca naik 0,5 persen pada Mei. Adapun inflasi inti, tak berubah secara bulanan dan melambat jadi 2,6% per tahun dari 2,9% pada Mei.
Seiring rilis data inflasi tersebut, proyeksi baru menunjukkan sembilan pejabat Fed memprediksi satu kenaikan suku bunga seperempat poin tahun ini, sementara sembilan lainnya memperkirakan tidak ada perubahan atau penurunan suku bunga.
Penguatan rupiah juga masih didukung keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat Indonesia di level BBB dengan prospek stabil.
“Penguatan terbatasi oleh memanasnya geopolitik di Timteng (Timur Tengah) dan naiknya harga minyak dunia,” kata dia.
Pembukaan Rupiah Hari Ini 15 Juli 2026
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) naik terbatas pada Rabu, (15/7/2026). Analis menilai, pergerakan rupiah terhadap dolar AS dibayangi inflasi AS yang melandai.
Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS naik 21 poin atau 0,12% menjadi 18.070 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 18.091 per dolar AS.
"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat pada kisaran di Rp 18 ribu-Rp18.105 per dolar AS, dipengaruhi faktor global melandainya inflasi AS dan menurunnya yield obligasi pemerintah AS," ujar Analis Bank Woori Saudara Rully Nova, dikutip Antara.
Mengutip Anadolu, inflasi konsumen tahunan AS melambat menjadi 3,5 persen pada Juni 2026 yang di bawah ekspektasi pasar karena penurunan tajam harga energi mendorong penurunan bulanan terbesar sejak April 2020.
Tingkat inflasi tahunan melambat dari 4,2 persen pada Mei 2026. Indeks Harga Konsumen turun 0,4 persen pada Juni dari bulan sebelumnya pasca naik 0,5 persen pada Mei.
Sentimen Rupiah Lainnya
Adapun inflasi inti, tak berubah secara bulanan dan melambat jadi 2,6 persen per tahun dari 2,9 persen pada Mei.
"Landainya inflasi AS didorong oleh penurunan harga minyak bulan Juni saat dijalankannya gencatan senjata AS dan Iran," ujar Rully.
Adapun penurunan harga obligasi pemerintah AS karena ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat memudar. Melihat sentimen domestik, pelaku pasar masih menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).
"Dalam rapat RDG nanti diperkirakan BI akan tetap menahan suku bunga acuan di 5,75 persen," ujar dia.