Spanyol Buktikan Kolektivitas Lebih Berharga daripada Deretan Superstar

Spanyol melaju ke final Piala Dunia 2026 berkat permainan kolektif yang solid dan sukses meredam deretan bintang Prancis.

oleh Gia Yuda PradanaDiterbitkan 15 Juli 2026, 09:29 WIB
Pemain Spanyol Pau Cubarsi dan Pedro Porro berebut bola dengan pemain Prancis Kylian Mbappe selama pertandingan semifinal Piala Dunia sepak bola antara Prancis dan Spanyol di Arlington, Texas, dekat Dallas, Selasa, 14 Juli 2026. (AP Photo/Ashley Landis)

Liputan6.com, Jakarta - Spanyol memperlihatkan bahwa kekuatan sebuah tim tidak selalu bergantung pada banyaknya pemain bintang. La Roja justru melaju ke final Piala Dunia 2026 berkat permainan kolektif yang membuat Prancis tak mampu mengembangkan potensi terbaiknya.

Sebelum pertandingan, perhatian tertuju pada lini depan Prancis yang dihuni Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, Michael Olise, hingga Bradley Barcola. Namun, seluruh pemain tersebut gagal memberikan ancaman berarti karena disiplin permainan Spanyol.

Kemenangan 2-0 melalui gol Mikel Oyarzabal dan Pedro Porro menjadi bukti keunggulan tim asuhan Luis de la Fuente. La Roja tampil lebih rapi dalam menyerang sekaligus sangat terorganisasi ketika kehilangan bola.


Permainan Kolektif Jadi Kunci

Pemain Spanyol Alex Baena, pemain Prancis Ousmane Dembele, dan pemain Spanyol Marc Cucurella dalam laga semifinal Piala Dunia 2026 antara Prancis vs Spanyol di Arlington, Texas, dekat Dallas, Selasa, 14 Juli 2026. (AP Photo/Ashley Landis)

Spanyol tidak hanya unggul secara teknik, tetapi juga dalam organisasi permainan. Setiap pemain memahami tugasnya sehingga perpindahan dari menyerang ke bertahan berlangsung dengan sangat cepat.

Patrick Vieira mengakui keunggulan La Roja sepanjang pertandingan. "Spanyol mendominasi pertandingan dalam setiap aspek," kata legenda Prancis tersebut.

Keunggulan itu terlihat dari cara Spanyol membangun serangan dari lini belakang hingga membuka ruang di pertahanan lawan. Gol kedua Pedro Porro menjadi contoh nyata bagaimana rangkaian umpan mampu membongkar pertahanan Prancis.


Disiplin Bertahan Redam Para Bintang

Pemain Prancis Michael Olise (11) dan pemain Spanyol Marc Cucurella (24) berlari mengejar bola dalam laga semifinal Piala Dunia 2026 antara Prancis vs Spanyol di Arlington, Texas, dekat Dallas, Selasa, 14 Juli 2026. (AP Photo/Sam Hodde)

Prancis sebenarnya memiliki deretan penyerang kelas dunia yang tampil produktif sepanjang turnamen. Akan tetapi, mereka nyaris tidak memperoleh ruang untuk menciptakan peluang berbahaya.

Roy Keane menilai keberhasilan Spanyol lahir dari kerja keras tanpa bola. "Mereka memenangi pertandingan karena permainan tanpa bola hari ini. Mereka bergerak sebagai satu kesatuan dengan intensitas dan tujuan yang jelas. Hampir kebalikan dari Prancis," ujarnya.

Vieira juga memberikan penilaian serupa terhadap kerja kolektif para pemain Spanyol. "Secara taktik mereka benar-benar menguasai tim Prancis. Para pemain depan Spanyol bekerja sangat keras agar pemain Prancis tidak bisa menguasai bola," tuturnya.

Marc Cucurella dan rekan-rekannya berkali-kali memblok upaya lawan sebelum berubah menjadi peluang berbahaya. Akibatnya, Mbappe, Dembele, hingga Olise kesulitan menemukan ruang tembak sepanjang pertandingan.


Tim Lebih Penting daripada Ketergantungan pada Individu

Pemain Spanyol Borja Iglesias (26) merayakan kemenangan bersama Rodri (tengah) setelah laga semifinal Piala Dunia 2026 antara Prancis vs Spanyol di Arlington, Texas, dekat Dallas, Selasa, 14 Juli 2026. (AP Photo/David J. Phillip)

Spanyol memang memiliki Lamine Yamal yang menjadi salah satu talenta terbaik dunia. Meski baru mencetak satu gol sepanjang turnamen, kontribusinya tetap besar karena mampu membuka ruang dan memaksa pertahanan lawan bekerja ekstra.

Kekuatan utama La Roja justru terletak pada pemerataan kualitas skuad. Rodri mengendalikan lini tengah, Oyarzabal produktif di lini depan, sementara Ferran Torres, Pedri, hingga Mikel Merino siap memberikan dampak ketika dibutuhkan.

Luis de la Fuente juga memiliki banyak pilihan tanpa mengurangi kualitas permainan tim. Kedalaman skuad tersebut membuat Spanyol tetap konsisten meski melakukan rotasi maupun pergantian pemain.

Pelatih Luis de la Fuente percaya timnya pantas berada di final setelah kembali mengalahkan salah satu kandidat juara. Dengan kolektivitas yang terus terjaga, Spanyol kini berada selangkah lagi untuk meraih gelar Piala Dunia kedua dalam sejarah mereka.

Sumber: Sky Sports

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya