Korban Tewas Militer AS di Perang Iran Bertambah Jadi 14 Orang

Jumlah korban tewas personel militer Amerika Serikat (AS) dalam perang dengan Iran bertambah.

oleh Septian DenyDiterbitkan 14 Juli 2026, 19:00 WIB
Ilustrasi rentara Amerika Serikat. (AP Photo/Baderkhan Ahmad)

Liputan6.com, Washington - Jumlah korban tewas personel militer Amerika Serikat (AS) dalam perang dengan Iran kembali bertambah. Militer AS mengonfirmasi total korban jiwa kini mencapai 14 personel, setelah seorang pilot Angkatan Laut meninggal dunia akibat kecelakaan helikopter di Laut Arab pada awal Juli.

Dikutip dari Associated Press, Selasa (14/7/2026), jumlah personel yang terluka dalam konflik tersebut juga meningkat menjadi lebih dari 400 orang.

Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kapten Tim Hawkins, mengatakan sebagian besar korban mengalami cedera otak traumatis (traumatic brain injury/TBI).

Angkatan Laut AS sebelumnya menyebut insiden yang terjadi pada 1 Juli itu sebagai pendaratan darurat. Saat itu, militer menyatakan tidak ada indikasi bahwa keadaan darurat tersebut dipicu oleh aksi musuh. Tiga awak helikopter lainnya berhasil dievakuasi sesaat setelah kecelakaan terjadi.

Dalam pembaruan data korban perang, Pentagon mencatat satu korban jiwa tambahan yang dikategorikan sebagai kematian non-tempur pada Juli. Korban tersebut menjadi kematian pertama yang tercatat sejak 13 personel militer AS tewas dalam sejumlah insiden terpisah pada Maret, di awal pecahnya perang.

Enam tentara AS tewas dalam serangan drone Iran yang menghantam pusat komando di Kuwait. Seorang prajurit lainnya meninggal lebih dari sepekan setelah mengalami luka akibat serangan terhadap Prince Sultan Air Base di Arab Saudi.

Sementara itu, enam personel militer lainnya tewas ketika pesawat pengisian bahan bakar KC-135 yang mendukung operasi militer AS terhadap Iran jatuh di Irak.

Secara keseluruhan, sebanyak 414 personel militer AS dilaporkan mengalami luka-luka, termasuk seorang anggota Angkatan Udara AS yang baru dimasukkan dalam daftar korban pada Senin.

 

Gelombang Serangan Antara AS dan Iran

Tentara Amerika mengendarai kendaraan tempur Bradley. (AP Photo/Baderkhan Ahmad)

Hingga kini belum dapat dipastikan apakah luka yang dialami personel Angkatan Udara tersebut berkaitan dengan gelombang terbaru serangan antara AS dan Iran yang kembali terjadi dalam beberapa hari terakhir.

CENTCOM tidak memberikan rincian mengenai identitas maupun kondisi personel tersebut. Namun, cedera otak traumatis yang mendominasi daftar korban menjadi salah satu masalah kesehatan paling serius yang dihadapi pasukan tempur, terutama mereka yang berada di dekat lokasi serangan rudal maupun ledakan.

Cedera otak traumatis, bersama gangguan stres pascatrauma (PTSD), telah menjadi salah satu luka paling umum yang dialami veteran perang AS sejak era pasca-serangan 11 September 2001. Meski demikian, dampak jangka panjang dari cedera tersebut terhadap kondisi fisik maupun mental prajurit masih belum sepenuhnya dipahami.

Saat dimintai keterangan mengenai jumlah personel yang mengalami luka berat, juru bicara CENTCOM Mayor Emma Thompson mengatakan belum memiliki pembaruan data. Ia hanya menegaskan bahwa "hampir seluruh" personel yang terluka telah kembali menjalankan tugas.

Thompson juga tidak mengungkapkan berapa banyak anggota militer AS yang mengalami luka cukup serius sehingga harus dievakuasi keluar dari kawasan konflik.   

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya