Stasiun Karet Terintegrasi dengan BNI City Mulai 28 September 2026

KAI menargetkan integrasi Stasiun Karet dan BNI City beroperasi pada September 2026 untuk meningkatkan layanan KRL Jabodetabek.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 14 Juli 2026, 09:45 WIB
Situasi penumpang menaiki KRL di di Stasiun Karet, Jakarta. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menargetkan integrasi Stasiun Karet dengan Stasiun BNI City mulai beroperasi pada 28 September 2026. Langkah ini dilakukan untuk menghadirkan perjalanan yang lebih aman, nyaman, dan terintegrasi bagi pengguna KRL Jabodetabek sekaligus memperbaiki pengaturan kawasan di sekitar kedua stasiun.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan, integrasi tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan layanan transportasi, tetapi juga penataan akses penumpang dan keselamatan operasional kereta api.

"Integrasi Karet dan BNI City kami siapkan untuk membuat perjalanan pelanggan lebih aman dan lebih nyaman," kata Bobby dikutip dari Antara, Selasa (14/7/2026).

Menurut Bobby, proses integrasi dilakukan secara bertahap dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian karena Stasiun Karet telah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat sehari-hari.

KAI juga memahami kawasan tersebut menjadi titik aktivitas berbagai pihak, mulai dari pejalan kaki, pengantar dan penjemput penumpang, ojek pangkalan, ojek daring, hingga pelaku usaha.

"Karena itu, penataannya harus dilakukan dengan baik, bertahap, dan tetap mendengar masukan," ujar Bobby.

Dalam proyek ini, area Stasiun Karet akan diubah menjadi concourse atau ruang penghubung menuju Stasiun BNI City. KAI juga akan membangun fasilitas travelator berpendingin udara untuk memudahkan perpindahan penumpang antarkedua stasiun.

 

Ditata Agar Lebih Aman

Situasi penumpang menaiki KRL di di Stasiun Karet, Jakarta. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Setelah integrasi selesai, aktivitas gate in dan gate out penumpang akan dipusatkan di Stasiun BNI City. Sementara itu, kawasan Stasiun Karet tetap difungsikan sebagai akses pendukung yang lebih tertata.

Bobby menjelaskan, integrasi dilakukan karena jarak kedua stasiun yang sangat berdekatan memengaruhi pola operasional perjalanan kereta.

Selain itu, aktivitas naik turun penumpang, pengantaran, hingga penjemputan di sekitar Stasiun Karet dinilai perlu ditata agar lebih aman bagi pengguna kereta maupun masyarakat sekitar.

"Kami ingin menyelesaikan persoalan ini dengan pendekatan yang solutif. Pelanggan membutuhkan akses yang mudah, masyarakat sekitar membutuhkan kepastian ruang, dan operasi kereta api membutuhkan alur yang aman. Integrasi ini harus menjawab ketiganya," beber Bobby.

Sepanjang semester I 2026, Stasiun Karet mencatat 7.257.442 aktivitas gate in dan gate out, sedangkan Stasiun BNI City melayani 2.688.254 aktivitas penumpang. Secara total, kedua stasiun mencatat hampir 10 juta aktivitas naik dan turun penumpang.

 

Perkuat Konektivitas Antarmoda

Suasana di Stasiun BNI City yang kini telah dilengkapi papan penunjuk arah untuk layanan penumpang di Dukuh Atas, Jakarta Pusat. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Peran Stasiun BNI City juga semakin penting karena menjadi salah satu titik layanan Commuter Line Basoetta yang melayani perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Pada semester I 2026, layanan Commuter Line Basoetta melayani 1.197.413 penumpang, meningkat 12,71% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 1.062.415 penumpang.

Menurut KAI, integrasi Stasiun Karet dan BNI City akan memperkuat konektivitas antarmoda, memperlancar mobilitas komuter, serta memudahkan akses masyarakat menuju bandara.

Untuk mendukung pelaksanaan integrasi, KAI akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan terkait, termasuk pengaturan jalur pejalan kaki, area pengantaran dan penjemputan, lokasi ojek pangkalan maupun ojek daring, serta aktivitas masyarakat di sekitar stasiun.

Selama masa transisi, KAI juga akan menyiapkan petunjuk arah, petugas layanan, sosialisasi kepada pelanggan, hingga pengaturan arus penumpang agar perubahan pola perjalanan dapat berlangsung dengan lancar.

Dengan integrasi tersebut, pelanggan diharapkan dapat berpindah antarmoda melalui jalur yang lebih tertata, terlindung dari cuaca, dan memiliki tingkat keselamatan yang lebih baik dibandingkan kondisi saat ini.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya