Cerita Orang Tua Murid saat SD di Jaksel Diteror Bom

Hari pertama MPLS di SDN 15 Srengseng Sawah berubah mencekam akibat ancaman bom.

oleh Tim NewsDiterbitkan 13 Juli 2026, 20:39 WIB
Alfie, salah satu orang tua murid yang rumahnya berada tepat di depan SDN 15 Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. (Merdeka.com/Nur Habibie)

Liputan6.com, Jakarta - Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SDN 15 Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang seharusnya penuh keceriaan, mendadak berubah menjadi kepanikan massal.

Situasi ini dipicu oleh adanya ancaman teror bom yang memaksa pihak sekolah memulangkan seluruh siswa lebih awal demi keselamatan mereka.

Suasana mencekam tersebut dirasakan langsung oleh Alfie, salah satu orang tua murid yang rumahnya berada tepat di depan sekolah. Pada Senin (13/7) pagi itu, Alfie baru saja mengantarkan kedua anaknya yang duduk di bangku kelas II dan kelas VI sekolah dasar.

"Awalnya pagi itu, belum ada apa-apa ya, saya nganterin anak saya yang kedua tuh sampai gerbang sekolah, itu masih aman, masih biasa," kata Alfie kepada wartawan di kediamannya.

Suasana berubah sekitar pukul 07.30 WIB. Alfie mengaku mengetahui adanya dugaan ancaman bom setelah suaminya melihat sejumlah polisi mendatangi sekolah. Informasi serupa kemudian diperoleh dari rekannya yang menjadi panitia MPLS di sekolah tersebut.

"Katanya ada teror bom, nah disitu langsung panik. Hah, teror bom, anak-anak masih di sekolahan, terus gimana gitu. Ya ini belum tau nih, polisi masih nyelidikin gitu," ungkap Alfie mengingat momen menegangkan tersebut.

Di tengah informasi yang masih simpang siur, kekhawatiran para orang tua murid semakin meningkat. Melalui grup WhatsApp, mereka terus meminta pihak sekolah segera memulangkan anak-anak demi menghindari risiko yang tidak diinginkan.

Pihak sekolah kemudian memutuskan mengevakuasi seluruh siswa, mulai dari kelas I hingga kelas VI. Sekitar pukul 09.00 WIB, gerbang sekolah dibuka dan seluruh murid dipulangkan secara bersamaan dengan pengamanan dari aparat.

 

Informasi Sempat Dirahasiakan

Siswa SD Srengseng Jaksel Dipulangkan Usai Ada Ancaman Bom (Istimewa)

Di tengah situasi darurat, pihak sekolah memilih tidak langsung mengungkap adanya ancaman bom kepada para siswa maupun orang tua. Langkah tersebut diambil agar proses pemulangan dapat berlangsung tertib tanpa memicu kepanikan di lingkungan sekolah.

Menurut Alfie, informasi yang disampaikan guru di grup WhatsApp hanya menyebut adanya kendala yang membuat kegiatan belajar dihentikan lebih awal. Tidak ada penjelasan mengenai dugaan ancaman bom.

"Dari guru di grup cuma, ada suatu masalah gitu, ada suatu masalah, akhirnya anak-anak dipulangkan. Itu belum, maksudnya belum ngomong kalau banyak ada teror bom gitu, mungkin biar enggak panik kali ya, orangtua pas jemput," ucapnya.

Kepanikan semakin meningkat setelah kendaraan Korps Brimob Gegana tiba di lokasi untuk melakukan penyisiran di seluruh area sekolah. Saat itu, para siswa yang telah berada di luar lingkungan sekolah baru mengetahui bahwa pemulangan lebih awal dipicu oleh adanya ancaman teror bom.

 

Masih Trauma

Meskipun polisi menyatakan area sekolah sudah steril dan aman, trauma mendalam masih membekas bagi Alfie. Ia memilih mengambil langkah preventif untuk tidak menyekolahkan buah hatinya terlebih dahulu pada keesokan hari.

"Mendingan sih diusirin dulu kali ya, biar kita tau aman atau enggaknya ya. Namanya orang tua kan panik juga kan, maksudnya masih ketar-ketir lah. Sehari mungkin ya, buat anak-anak juga tenang juga kan. Takutnya nanti ngerasa takut ke sekolah gitu kan. Gara-gara ada teror bom, jadi takut," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya