Liputan6.com, Athena - Seorang penumpang pria berusia 61 tahun nyaris tersedot keluar melalui jendela kabin saat pesawat Ryanair tengah mengudara pada Jumat (10/7/2026) pagi. Penerbangan rute Thessaloniki, Yunani, menuju Memmingen, Jerman, tersebut baru mengangkasa sekitar 10 minutes ketika tiba-tiba menukik turun sejauh 9.000 kaki (sekitar 2.700 meter) akibat dekompresi hebat.
Menurut kesaksian penumpang, insiden bermula dari suara ledakan keras yang disusul jatuhnya masker oksigen. Akibat tekanan udara yang hilang, tubuh warga negara Serbia tersebut sempat tersedot hingga posisi kepala dan bahunya berada di luar pesawat. Beruntung, ia masih mengenakan sabuk pengaman. Sang istri bersama para penumpang lain dengan sigap memegangi kedua kaki korban selama sekitar lima menit hingga berhasil menariknya kembali ke dalam kabin.
Advertisement
Christina, salah seorang penumpang, menceritakan kepanikan di dalam kabin.
"Kami langsung menyadari telah terjadi dekompresi. Orang-orang berteriak, masker oksigen turun, dan tercium bau yang kuat. Sesaat saya mengira seseorang tidak sengaja membuka pintu darurat," ujarnya kepada Radio Thessaloniki.
Penumpang lain bernama Sofia menambahkan bahwa dekompresi yang sangat parah membuat mereka kesulitan bernapas dan mengira pesawat akan jatuh. Korban sendiri sempat mengalami pendarahan dan beberapa kali kehilangan kesadaran akibat syok dan kekurangan oksigen.
Dalam pernyataan resminya, Ryanair mengonfirmasi bahwa pesawat terpaksa kembali ke Bandara Thessaloniki karena salah satu jendela terlepas di udara. Penumpang menduga jendela pecah akibat hantaman serpihan komponen mesin yang rusak, namun maskapai berbiaya rendah asal Irlandia tersebut belum memberikan tanggapan atas dugaan tersebut.
Setelah mendarat dengan normal, korban langsung dilarikan ke rumah sakit setempat. Michalis Giannakos, Presiden Federasi Pan-Hellenik Pegawai Rumah Sakit Umum, memastikan pria tersebut mengalami luka bakar akibat gesekan (friction burns) dan menderita syok, namun dalam kondisi sadar.
Pesawat yang terlibat insiden ini diketahui berusia 18 tahun dan dioperasikan oleh Malta Air, anak perusahaan Ryanair. Operator Bandara Thessaloniki, Fraport Greece, menyatakan bahwa kasus ini kini tengah diselidiki oleh Otoritas Investigasi Keselamatan Penerbangan dan Perkeretaapian Yunani.
Otoritas Penerbangan Irlandia telah menyatakan kesiapannya untuk membantu tim penyelidik.
Menanggapi peristiwa ini, pensiunan pilot maskapai Chris Brady menilai insiden bisa berakhir jauh lebih fatal jika korban tidak memakai sabuk pengaman.
"Sebagai kapten, kami selalu meminta para penumpang tetap mengenakan sabuk pengaman sebagai langkah pencegahan selama penerbangan, bahkan ketika tandanya telah dimatikan," ujarnya kepada BBC.
Insiden serupa pernah terjadi di Amerika Serikat pada 2018, ketika seorang penumpang Southwest Airlines meninggal dunia setelah sebagian tubuhnya tersedot keluar akibat jendela pesawat pecah dihantam serpihan mesin yang meledak.