Perubahan Iklim Ternyata Bisa Bikin PDB Indonesia Anjlok

Saat ini, sebagian besar aktivitas ekonomi Indonesia masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, khususnya wilayah utara.

oleh Tim BisnisDiterbitkan 13 Juli 2026, 17:39 WIB
Penurunan tanah (land subsidence), kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim, dan kurang maksimalnya mitigasi/infrastruktur pertahanan pesisir menjadi beberapa penyebab semakin tenggelamnya Desa Timbulsloko di Sayung, Demak, Jawa Tengah. Tampak dalam foto, pemandangan udara menunjukkan rumah-rumah yang sebagian terendam air laut akibat banjir pasang surut di sepanjang pantai selatan Laut Jawa di desa Timbulsloko, Demak, Jawa Tengah pada Sabtu 18 April 2026. (DEVI RAHMAN/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy mengingatkan jika perubahan iklim dapat berdampak terhadap capaian Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Dia menjelaskan, sebagian besar aktivitas ekonomi Indonesia masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, khususnya wilayah utara. Karena itu, apabila wilayah tersebut terdampak kenaikan muka air laut atau bencana lain akibat perubahan iklim, akan menyeret PDB nasional.

“60 persen lebih PDB kita ada di pulau Jawa, 70 persen lebih ada di wilayah utara Jawa, 26 persen lebih ada di Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi). Kalau itu tergenang, itu terendam, maka otomatis PDB kita langsung terpengaruh. Bukan hanya orang-orang yang terpengaruh, tetapi perekonomian kita yang berpengaruh,” ujar dia melansir Antara di Jakarta, Senin (13/7/2026).

Dia bercerita Bappenas baru saja menghadiri Sustainable Conference di Jerman yang membahas tentang dampak perubahan iklim terhadap dunia. Para pimpinan dari berbagai negara menegaskan bahwa perubahan iklim bukan hanya diwaspadai, tetapi dihadapi dan diatasi.

Perbaikan infrastruktur fisik seperti jalan, jembatan, pelabuhan, hingga bandara, tak cukup untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Namun, diperlukan juga penanganan persoalan infrastruktur sosial karena dampak dari perubahan iklim sangat berpengaruh terhadap masyarakat.

“Pada akhirnya, orang-orang yang ada di pulau-pulau kecil, orang-orang yang tinggal di wilayah Pantai Utara Jawa, mereka lah yang paling merasakan dampak nyatanya,” ungkap dia.

 

Wilayah daratan yang dulunya mayoritas, kini menjadi lautan akibat penurunan tanah dan kenaikan muka air laut setinggi 25 cm per tahun. Tampak dalam foto, seorang wanita berjalan melintasi jembatan melewati rumah-rumah yang sebagian terendam air laut akibat banjir pasang di desa Timbulsloko, Demak, Jawa Tengah pada Sabtu 18 April 2026. (DEVI RAHMAN/AFP)

Dia pun menekankan penanganan infrastruktur sosial untuk menghadapi perubahan iklim. “Jelas bahwa persoalan iklim akan mempengaruhi infrastruktur fisik, tetapi ternyata infrastruktur sosial juga harus ditangani karena persoalan kenaikan muka laut akibat perubahan iklim juga berpengaruh kepada orang-orang,” tambah dia.

Dia pun berharap Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono membantu menangani masalah infrastruktur ini.

"Jadi Bapak Menko (Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono), setelah infrastruktur fisik, infrastruktur sosial, keberadaan orang-orang, layanan orang-orang berupa rumah sakit, fasilitas pendidikan, layanan-layanan sifatnya sosial supaya masyarakat lebih sejahtera, tampaknya juga di bawah tanggung jawab Bapak,” kata Menteri PPN.

Dua hal lagi yang dinilai menjadi tanggung jawab Kementerian Koordinator (Kemenko) IPK ialah membangun infrastruktur ekonomi dan infrastruktur digital.

Untuk menyelesaikan berbagai persoalan tersebut, pihaknya berkomitmen menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan perencanaan pembangunan. Adapun dalam implementasi, Kemenko IPK dan Badan Otoritas Pengelola Pantai Utara Jawa yang bertanggung jawab menuntaskan masalah-masalah itu.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya