Kebutuhan BBM Nelayan Melonjak, Pemerintah Matangkan Skema Subsidi

Kementerian ESDM menghitung ketersediaan pasokan dan skema harga untuk memenuhi proyeksi tambahan kebutuhan BBM nelayan sebesar 400 ribu kiloliter.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 13 Juli 2026, 14:30 WIB
Tampak dalam foto, perahu-perahu nelayan tetap berlabuh di Pelabuhan Juwana, Jawa Tengah, Rabu 6 Mei 2026. (Devi RAHMAN/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan kebutuhan tambahan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk nelayan mencapai sekitar 400 ribu kiloliter (KL) hingga akhir tahun 2026. Saat ini, pemerintah masih menghitung kebutuhan riil sekaligus memastikan ketersediaan pasokan BBM bagi sektor perikanan.

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menyatakan bahwa pemerintah tengah melakukan pembahasan intensif terkait pemenuhan kebutuhan dan ketersediaan BBM untuk nelayan hingga penghujung tahun.

“Mengenai ketersediaan BBM untuk nelayan, kami sedang menghitung berapa kebutuhan riil mereka dan bagaimana kesiapan pasokannya sampai akhir tahun. Untuk sektor nelayan ini, kita membutuhkan sekitar 400 ribu kiloliter lagi,” ujar Yuliot di Kantor Kemenko Perekonomian, Senin (13/7/2026).

Yuliot menjelaskan bahwa pemerintah juga masih merumuskan skema harga BBM yang tepat bagi para nelayan. Menurutnya, hingga kini belum ada keputusan final terkait regulasi harga yang akan diterapkan.

“Untuk masalah harga, saat ini belum diputuskan,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa pembahasan tersebut mencakup dua skema utama, yakni penyaluran BBM bersubsidi untuk kapal nelayan berukuran di bawah 30 Gross Ton (GT) dan BBM non-subsidi untuk kapal di atas 30 GT. Keputusan akhir mengenai kebijakan ini masih menunggu hasil pembahasan bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

“Skemanya ada dua. Pertama, untuk kapal di bawah 30 GT yang mendapatkan subsidi, dan kedua, untuk kapal di atas 30 GT yang non-subsidi. Jadi, hal ini masih dibahas bersama Pak Menko,” kata Yuliot.

Sementara itu, untuk kategori BBM non-subsidi, Yuliot menyebutkan bahwa harga yang berlaku di lapangan saat ini masih tetap mengikuti mekanisme pasar non-subsidi yang sudah berjalan.

Rencana Besar Prabowo untuk Sejahterakan Nelayan

Presiden Prabowo Subianto mengadiri Puncak PENAS Petani dan Nelayan XVII di Sport Center Limboto, Kabupaten Gorontalo, Rabu (24/6/2026). (Liputan6.com/Lizsa Egaham)

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto berjanji memperhatikan nasib nelayan-nelayan di Indonesia. Dia menguraikan masalah-masalah yang dihadapi para nelayan.

Menurut dia, nelayan Indonesia saat ini kesulitan mendapatkan es batu untuk menjaga kesegaran ikan hasil tangkapan sejak di kapal. Prabowo mengatakan pemerintah akan membangun instalasi pembuatan es batu untuk nelayan.

"Kita akan menjamin tiap nelayan bisa punya es batu. Kita akan membikin instalasi pembuatan es batu di setiap desa nelayan. Kita akan membikin ruang cold storage pendingin di setiap desa nelayan," kata Prabowo dalam pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN Tahun Anggaran 2027 di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (20/8/2025).

Selain es batu, Prabowo akan membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di setiap desa nelayan. Hal ini berangkat dari banyaknya nelayan yang mengeluh kesulitan mendapatkan solar.

"Kita akan bikin SPBU khusus nelayan di setiap desa nelayan. Para nelayan kita harus kita berdayakan karena mereka diujungnya akan menguasai lautan kita," ujar dia.

Di balik wacana tersebut, Prabowo mengungkapkan program besar untuk menyejahterakan nelayan adalah kampung nelayan. Dia menargetkan 5.000 kampung nelayan terbangun dalam 3 tahun ke depan.

"Kita akan bangun dalam 3 tahun yg akan datang 5.000 desa nelayan. Tahun ini kita akan resmikan 1386 desa nelayan," tutup Prabowo.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya