Liputan6.com, Jakarta - Berdasarkan survei baru dari the Federal Reserve (the Fed) New York, hampir separuh perusahaan yang membayar tarif akan menaikkan harga lebih lanjut. Beberapa perusahaan akan menaikkan harga enam bulan atau lebih ke depan.
Mengutip Yahoo Finance, ditulis Senin, (13/7/2026), sekitar 44% produsen yang disurvei memperkirakan menaikkan harga karena tarif. Hal ini bersama dengan 47% perusahaan jasa.
Advertisement
“Meskipun ekonom dan pembuat kebijakan sering memperkirakan, kenaikan harga karena tarif akan menjadi penyesuaian tingkat harga satu kali. Apa arti satu kali dalam praktiknya mungkin merupakan urusan yang berkepanjangan terutama ketika tarif sering berubah,” ujar Ekonom The Fed New York, Jaison Abel, Mary Amiti, Richard Deitz, Sebastian, Heise dan Nick Montalbano dalam risetnya.
"Survei bisnis kami menunjukkan bahwa, dalam lingkungan tarif yang selalu berubah, banyak perusahaan menyebarkan kenaikan harga selama periode yang panjang, yang berarti bahwa tekanan inflasi karena tarif mungkin akan berlangsung untuk beberapa waktu ke depan,” demikian seperti dikutip.
Hal ini berbeda dengan apa yang telah disarankan oleh banyak pejabat Federal Reserve sejak Presiden Trump meluncurkan rezim tarif masa jabatan keduanya.
Pada Selasa, Presiden Federal Reserve New York, John Williams, mengatakan kepada Fox Business, meskipun Fed masih melihat inflasi akibat tarif, ia berpikir inflasi tersebut sudah mendekati puncaknya.
Ketua Fed, Kevin Warsh, mengatakan sebelum menjadi ketua tahun lalu, ia percaya tarif akan mengakibatkan kenaikan harga satu kali, bukan inflasi yang berkepanjangan. Gubernur Fed, Chris Waller, juga berulang kali mengatakan bahwa ia percaya Fed harus "mengabaikan" dampak ekonomi dari tarif, memandangnya sebagai kenaikan harga sementara dan satu kali, bukan sebagai pendorong inflasi jangka panjang.
Inflasi Naik karena Tarif
Dalam konferensi pers kedua terakhirnya pada Maret, mantan Ketua Fed, Jay Powell, mengatakan inflasi meningkat terutama karena tarif. Namun, ia memperkirakan inflasi yang didorong oleh tarif akan mulai menurun pada pertengahan tahun.
"Hal yang sangat penting yang kita lihat tahun ini adalah kemajuan dalam inflasi melalui pengurangan inflasi barang karena efek satu kali pada harga akibat tarif akan memengaruhi sistem dan perekonomian," kata Powell.
"Itulah hal utama yang kita cari,” ia menambahkan.
Namun, Powell juga mengatakan, tidak yakin tarif akan berdampak sekali saja, dan mungkin membutuhkan waktu hingga satu tahun untuk sepenuhnya terasa dampaknya.
"Kami menemukan bahwa setelah COVID, inflasi memang mereda, dan sebagian besar karena alasan yang kami perkirakan. Tetapi butuh waktu dua tahun lebih lama dari yang kami perkirakan," ujar dia.
"Jadi saya pikir kita harus rendah hati dalam mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan agar tarif benar-benar terasa di seluruh perekonomian," ia menambahkan.