Liputan6.com, Jakarta - Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengapresiasi terbitnya kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa karya Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa.
Menurutnya, karya tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan Nahdlatul Ulama tidak hanya terletak pada organisasi, tetapi juga pada tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama.
Advertisement
Apresiasi itu disampaikan melalui sambutan yang dibacakan KH Mujib Qulyubi dalam acara Launching & Bedah Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Jumat (10/7/2026).
KH Said Aqil menilai kitab berbahasa Arab tersebut memiliki nilai penting karena lahir dari sanad keilmuan pesantren Nusantara. Ia menyebut KH Zulfa merupakan santri yang menimba ilmu langsung dari para ulama besar, termasuk almarhum KH Sahal Mahfudz.
"Penulisnya adalah seorang santri yang menimba langsung ilmunya dari mata air pengetahuan di Kajen, Pati, Jawa Tengah, salah satunya KH Sahal Mahfudz, Rais Aam yang telah masyhur kealimannya dalam bidang fikih dan ushul fikih," ujar KH Said Aqil dalam sambutan tertulisnya.
Menurutnya, kehadiran kitab tersebut menjadi ikhtiar penting untuk menghidupkan kembali tradisi keilmuan pesantren di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap hanya menghadirkan pengetahuan secara instan.
"Di tengah derasnya informasi teknologi yang serba digital dan dangkal, membuat satu rujukan yang berakar kokoh dalam satu bidang keilmuan seperti kitab ini merupakan kebutuhan mendasar bagi perkembangan ilmu pengetahuan," katanya.
KH Said Aqil juga menilai karya KH Zulfa menjadi pengingat bahwa NU tidak hanya disibukkan oleh urusan administratif organisasi.
"Di tengah kesibukannya menjadi Wakil Ketua Umum PBNU, KH Zulfa menyadarkan kita bahwa tugas NU bukan hanya sekadar urusan administratif keorganisasian, tetapi juga tentang khazanah keilmuan," ujarnya.
Ia berharap kitab tersebut dapat menjadi bahan kajian yang memperkaya metodologi, gagasan, dan tradisi intelektual di lingkungan Nahdlatul Ulama. Menurutnya, NU akan semakin berkembang apabila dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan yang kuat serta didukung tata kelola organisasi yang baik.
Di akhir sambutannya, KH Said Aqil berharap kehadiran kitab tersebut mampu membangkitkan kembali tradisi menulis dan mengkaji kitab di lingkungan pesantren.
"Semoga ini menjadi pemantik bagi para alim, intelektual, dan cendekiawan di lingkungan NU untuk terus mengembangkan kajian turats secara lebih luas sehingga dapat menjawab berbagai tantangan masyarakat di tengah era globalisasi," tuturnya.
Sejumlah Hal yang Dibahas
Acara peluncuran dan bedah kitab tersebut dihadiri jajaran PBNU, pengurus PWNU dan PCNU dari berbagai daerah. Sejumlah ulama hadir sebagai pensyarah kitab, di antaranya KH Abdul Ghofur Maimun (Gus Ghofur), KH Mujib Qulyubi, dan KH Abdullah Syamsul Arifin.
Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa menghimpun empat karya berbahasa Arab yang membahas metodologi Bahtsul Masail, ushul fikih, fatwa kontemporer, serta sejarah intelektual Syekh Nawawi al-Bantani. Salah satu pembahasan utamanya mengulas metode pengambilan keputusan hukum di lingkungan NU dengan mempertimbangkan maqashid syariah, kondisi sosial, adat istiadat, dan perkembangan zaman sebelum menetapkan sebuah fatwa.
KH Zulfa Mustofa sendiri lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1977 dari keluarga ulama. Ia merupakan putra KH Muqarrabin asal Pekalongan dan Nyai Hajjah Marhumah Latifah dari Kresek, Tangerang. Selain dikenal sebagai Wakil Ketua Umum PBNU, ia juga merupakan keponakan Wakil Presiden Ma'ruf Amin serta keturunan ulama besar Nusantara Syekh Nawawi al-Bantani.
Dalam perjalanan organisasinya, KH Zulfa pernah menjabat Wakil Ketua Umum GP Ansor periode 2015–2020, Ketua Lembaga Baitul Mal PBNU, Katib Syuriyah PBNU, hingga kini dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum Tanfidziyah PBNU periode 2022–2027. Ia juga menjabat Sekretaris Jenderal MUI DKI Jakarta serta Ketua Komite Fatwa BPJPH Kementerian Agama.