Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, membeberkan adanya ketertarikan besar dari sejumlah investor untuk mendirikan pusat data (data center) di Indonesia. Total kapasitas dari proyek baru yang dibidik tersebut diperkirakan mampu menyentuh angka 1,3 gigawatt (GW).
Sebagai gambaran, kapasitas pusat data yang telah berjalan di dalam negeri saat ini baru berkisar di angka 580 megawatt (MW). Airlangga memproyeksikan suntikan modal baru untuk mendanai rencana ekspansi masif ini berpotensi menembus nilai US$ 15 miliar hingga US$ 20 miliar.
Advertisement
"Kapasitas yang sudah berjalan saat ini sebesar 580 MW, dengan estimasi nilai investasi sekitar US$ 1 juta per MW. Ke depan, ada potensi tambahan lagi hingga 1,3 GW. Seperti proyek di Batam saat ini, investasi yang masuk dalam perencanaan (on the pipeline) sudah berkisar antara US$ 15 miliar sampai US$ 20 miliar," jelas Airlangga dikutip dari Antara, Sabtu (11/7/2026).
Airlangga turut memaparkan bahwa salah satu calon investor strategis yang bersiap masuk adalah raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Nvidia, yang rencananya akan menggandeng mitra bisnis dari Australia.
"Selain itu, ada juga investasi langsung dari Telkom. Sementara untuk kawasan Karawang, hampir seluruh perusahaan teknologi besar (Big Tech) berencana melakukan ekspansi pusat data mereka. Saat ini, keberadaan pusat data menjadi instrumen kunci bagi pengembangan kecerdasan buatan (AI) yang bertumpu pada quantum computing," urainya kemudian.
Pemerintah Genjot Kesiapan SDM Digital di Sektor Hulu
Guna mengimbangi pesatnya pertumbuhan industri digital tersebut, pemerintah bakal bergerak cepat dengan menyiapkan kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni.
Langkah nyata yang diambil pemerintah adalah menjalin kemitraan strategis dengan produsen semikonduktor asal Inggris, Arm Ltd., demi memperkokoh sektor hulu industri digital nasional. Lewat kolaborasi ini, pemerintah menargetkan sedikitnya 15 ribu insinyur (engineer) lokal dapat terserap dan bergabung ke dalam ekosistem Arm.
"Sektor ini sangat memerlukan talenta dan SDM baru. Oleh karena itu, kita telah menyepakati kerja sama dengan Arm chips, yang juga merupakan mitra dari Nvidia. Strategi kita adalah membidik sektor yang paling hulu. Jika pada sektor mineral kita menerapkan kebijakan hilirisasi (downstreaming), maka pada sektor digital kita justru mendaki ke hulu (upstream) terlebih dahulu agar nantinya bisa diturunkan kembali ke hilir. Namun, kunci utama dari seluruh rencana ini tetap berada pada kesiapan SDM," pungkas Airlangga.