HP Murah Kini Makin Susah Dicari, Ini Penyebab Utamanya

HP dengan harga murah kini semakin susah dicari. Apa penyebabnya?

oleh Aisyah Mustika ZamaniDiterbitkan 11 Juli 2026, 18:09 WIB
Ilustrasi menjalani bisnis lewat ponsel pintar | unsplash.com/@mr_fresh

Liputan6.com, Jakarta - Semakin meningkatnya biaya komponen memori, HP seharga di bawah USD 400 atau setara dengan Rp 7,2 juta yang beredar di pasar bisa berkurang sebesar 22% selama sisa tahun 2026 hingga 2027. Demikian menurut laporan terbaru dari Omdia, grup riset dan konsultasi teknologi.

Ponsel premium seperti iPhone 17 Pro Max dan Samsung Galaxy S26 Ultra, harganya jauh di atas USD 1.000 atau Rp 18 jutaan, terus mendobrak batas keterjangkauan harga. Konsumen dengan kantong terbatas dan bersedia mengesampingkan fitur-fitur mewah, memilih ponsel yang lebih terjangkau.

Namun, jika produsen perangkat harga murah ini tersingkir dari pasar, pembeli dengan kemampuan finansial terbatas akan paling terdampak.

Dilansir Cnet, Sabtu (11/7/2026), analis Zaker Li menyatakan ponsel dengan kisaran harga tersebut, biaya produksi memorinya hampir mencapai dua kali lipat antara kuartal ketiga 2025 dan kuartal pertama 2026.

Berdasarkan laporan 'Tren Teknologi Smartphone Kuartalan' dari Omdia, untuk ponsel di atas USD 400 atau Rp 7,2 juta, biaya memori melonjak hingga lebih dari 100%.

Li juga menyebutkan beberapa perusahaan mencoba mengimbangi kenaikan biaya kenaikan memori dengan memangkas harga komponen, seperti layar, sensor, dan modul frekuensi radio yang ketersediannya mencukupi.

Namun Li mengatakan hampir tidak ada ruang gerak untuk menjaga harga tetap murah dengan meningkatnya harga memori secara pesat.

Ia menambahkan, produsen ponsel asal Tiongkok seperti Oppo, Vivo, Honor, Xiaomi, dan Transsion terpaksa menaikkan harga ponsel. Karena hal itu, konsumen yang sangat memperhatikan harga akan berhenti membelinya.

Li memprediksi seiring menurunnya permintaan karena harga yang tinggi, perusahaan sudah dapat menghentikan produksi ponsel kelas bawah.

 

Krisis RAM Global

Analisis ini sejalan dengan apa yang ditemukan David Lumb, Managing Editor Mobile di CNET pada Mobile World Congress (MWC) di Barcelona, Maret 2026. Dengan pembangunan infrastruktur AI yang pesat membutuhkan banyak memori untuk menjalankan sistem AI.

Hal itu menyebabkan kekurangan RAM global yang membuat harga ponsel meningkat, dan juga mungkin perusahaan tidak akan memproduksi ponsel murah.

“Beberapa vendor memberitahu kami kalau mereka mempertimbangkan untuk meninggalkan segmen HP murah,” ucap Francisco Jeronimo, Wakil Presiden Worldwide Client Devices di IDC, kepada Lumb di ajang MWC.

Ia menambahkan, karena jika menjual ponsel dengan harga USD 150 atau seharga Rp 2,7 juta, dan setengah harganya adalah memori, di mana kamu akan memperoleh keuntungan? Tidak ada gunanya menjual produk, bukan?

 

 

Prospek Ponsel Murah

Dalam jangka pendek, Omdia menyebut pasar ponsel global akan menurun 12% tahun ini dibandingkan 2025, karena prediksi penyusutan sebesar 22% dalam pengiriman ponsel dengan harga di bawah USD 400 atau sekitar Rp 7,2 juta.

Dalam jangka panjang, prospeknya lebih bagus. Francisco Jeronimo dari IDC mengatakan kepada CNET bahwa krisis RAM seharusnya sudah terselesaikan pada akhir 2027 atau awal 2028. Infrastruktur AI akan dikendalikan dan RAM akan diproduksi lebih banyak.

"Sementara itu, konsumen akan tetap menggunakan ponsel mereka saat ini dan menghindari membeli dengan harga tinggi untuk memperbarui perangkat," ujar Dipanjan Chatterjee, Wakil Presiden dan analis utama Forrester, kepada Lumb.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, perusahaan akan tetap menarik pembeli dengan menambahkan fitur lebih banyak lagi pada ponsel untuk meyakinkan pembeli.

Bagi yang ingin merogoh kocek lebih dalam lagi demi perangkat baru, Omdia menyebutkan pengiriman ponsel dengan harga lebih dari USD 400 atau sekitar Rp 7,2 juta akan tumbuh sebesar 5.7% per tahun ini.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya