Liputan6.com, Jakarta - Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) turun pada perdagangan Kamis, (9/7/2026). Koreksi harga perak Antam hari ini mengikuti harga emas Antam.
Mengutip laman logammulia.com, harga perak Antam hari ini terpangkas Rp 900 menjadi Rp 39.500. Pada perdagangan sebelumnya harga perak dipatok Rp 40.400. Antam menawarkan perak batangan 250 gram, 500 gram dan perak butiran murni 99,95%.
Advertisement
Lalu bagaimana harga perak dunia pada Kamis pekan ini?
Harga perak dunia naik tipis 0,04% menjadi US$ 58,27. Harga perak bertahan di bawah US$ 59 per ons pada Kamis pekan ini setelah mengalami penurunan dalam sesi kedua berturut-turut.
Pergerakan harga perak Antam itu tertekan oleh kekhawatiran konflik yang kembali memanas di Timur Tengah dapat menganggu pasokan energi dari kawasan tersebut, dan mengintensifkan tekanan inflasi.
Militer Amerika Serikat (AS) mengkonfirmasi telah melakukan serangan terhadap Iran untuk hari kedua berturut-turut dalam upaya mengekang kemampuan Teheran untuk mengancam navigasi melalui Selat Hormuz, sementara Iran bersumpah akan melakukan operasi pembalasan skala besar terhadap pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim gencatan senjata telah berakhir, dan memperingatkan akan ada serangan tambahan terhadap Iran bersamaan dengan blokade baru.
Sementara itu, risalah dari pertemuan the Federal Reserve (the Fed) pada Juni menunjukkan hanya beberapa pembuat kebijakan yang mendukung kenakan suku bunga, meskipun pejabat menyatakan kekhawatiran yang semakin meningkat mengenai inflasi. Pasar terus memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga pada akhir 2026.
Harga Emas Dunia Terkoreksi usai Trump Akhiri Kesepakatan dengan Iran
Sebelumnya, harga emas dunia bergerak melemah pada perdagangan Rabu setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan kesepakatan sementara yang bertujuan mengakhiri konflik dengan Iran telah berakhir. Pernyataan tersebut memicu lonjakan harga minyak sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.
Mengutip CNBC, Kamis (9/7/2026), harga emas di pasar spot turun 0,9% menjadi US$ 4.068,09 per ounce setelah risalah rapat terbaru Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral AS dirilis. Sebelumnya, logam mulia ini sempat menyentuh level terendah sejak 2 Juli.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga melemah 1,5% ke level US$ 4.095,30 per ounce.
"Faktor utama yang menggerakkan pasar hari ini adalah meningkatnya eskalasi ketegangan antara AS dan Iran. Dengan potensi berakhirnya gencatan senjata, kami melihat hampir seluruh aset berisiko diperdagangkan lebih rendah, termasuk emas," kata Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger.
Ketegangan kembali meningkat setelah Iran mengklaim telah menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait. Serangan itu dilakukan sebagai respons atas aksi militer AS yang menargetkan sejumlah lokasi di Iran menyusul serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
Situasi tersebut langsung mendorong harga minyak mentah melonjak lebih dari 5%, memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global.
Risalah The Fed
Kenaikan harga energi berpotensi memperbesar tekanan inflasi sehingga bank sentral dapat mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga untuk meredam kenaikan harga.
Meski emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, logam mulia tersebut cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga berada pada level tinggi karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya.
Di sisi lain, pasar emas tidak menunjukkan reaksi signifikan setelah The Fed merilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang digelar pada 16-17 Juni.
Dokumen tersebut menunjukkan para pejabat The Fed masih berbeda pandangan mengenai arah kebijakan suku bunga. Dalam rapat pertama yang dipimpin Ketua FOMC Kevin Warsh, sebagian peserta menilai inflasi berpotensi melandai sehingga membuka ruang penurunan suku bunga.
Namun, sebagian lainnya memperkirakan tekanan harga masih akan bertahan tinggi sehingga kenaikan suku bunga tetap menjadi opsi yang perlu dipertimbangkan.
"Saat ini prospek arah suku bunga masih belum jelas. Pasar terus mencari berbagai informasi yang dapat memberikan kepastian mengenai arah kebijakan kenaikan suku bunga ke depan," ujar Meger.
Prediksi Harga Logam Mulia
Pelaku pasar kini terus mencermati arah kebijakan moneter AS. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September mencapai sekitar 67%, naik dibandingkan 62% sehari sebelumnya.
Sementara itu, Bank of America dalam riset yang diterbitkan Selasa menurunkan proyeksi rata-rata harga emas pada 2026 sebesar 14% menjadi US$ 4.360 per ounce. Penyesuaian tersebut didasarkan pada ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih agresif atau hawkish.
Meski demikian, Bank of America tetap memperkirakan harga emas masih berpeluang mencapai US$ 5.000 per ounce setelah siklus pengetatan kebijakan moneter berakhir.
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami pelemahan. Harga perak di pasar spot turun 2,42% menjadi US$ 58,5681 per ounce.
Sementara itu, harga platinum terkoreksi 3,6% menjadi US$ 1.582,13 per ounce, sedangkan palladium turun 4,3% ke level US$ 1.221,97 per ounce.