Pejabat The Fed Terbelah Soal Arah Suku Bunga

Risalah rapat The Fed mengungkap perbedaan pandangan pejabat bank sentral AS terkait arah suku bunga di tengah inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 09 Juli 2026, 09:00 WIB
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh berbicara dalam konferensi pers setelah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal, di Washington. (AP Photo/Rod Lamkey, Jr.)

Liputan6.com, Jakarta - Para pejabat Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) masih memiliki pandangan yang berbeda mengenai arah kebijakan suku bunga acuan. Hal tersebut terungkap dalam risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang digelar pada 16-17 Juni 2026.

Perbedaan pandangan itu muncul di tengah ketidakpastian inflasi, dampak perang Iran, hingga prospek ekonomi AS.

Dikutip dari CNBC, Kamis (9/7/2026), rapat tersebut menjadi pertemuan perdana yang dipimpin Ketua FOMC Kevin Warsh. Dalam pertemuan itu, sebagian pejabat menilai inflasi berpotensi mereda sehingga membuka peluang penurunan suku bunga.

Namun, sebagian lainnya memperkirakan tekanan harga masih tinggi sehingga kenaikan suku bunga tetap menjadi opsi.

Dalam konferensi pers usai rapat, Warsh menggambarkan perbedaan pendapat tersebut sebagai family fight atau perdebatan internal yang terjadi dalam satu keluarga. Meski demikian, seluruh anggota FOMC akhirnya sepakat mempertahankan suku bunga acuan The Fed di kisaran 3,5%-3,75%, level yang telah berlaku sepanjang 2026.

Meski memperlihatkan adanya perbedaan pandangan, risalah rapat tidak menunjukkan adanya konflik serius di antara para pembuat kebijakan. Dokumen tersebut juga tidak memberikan sinyal jelas mengenai arah keputusan The Fed pada pertemuan berikutnya.

 

Potensi Naik Satu Kali

Ketua Federal Reserve Kevin Warsh berbicara dalam konferensi pers setelah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal, di Washington. (AP Photo/Rod Lamkey, Jr.)

Risalah rapat menunjukkan sebagian besar peserta memperkirakan suku bunga acuan pada akhir tahun akan tetap berada di kisaran saat ini atau sedikit lebih rendah.

"Banyak peserta menyatakan bahwa tingkat suku bunga federal fund yang tepat pada akhir tahun ini berada dalam atau sedikit di bawah kisaran target saat ini," demikian isi risalah rapat.

Namun, dokumen yang sama juga menunjukkan pandangan berbeda dari kelompok pejabat lainnya.

"Banyak peserta lainnya, bagaimanapun, menilai bahwa tingkat suku bunga federal fund yang tepat pada akhir tahun ini berada di atas kisaran target saat ini," tulis risalah tersebut.

Para pejabat juga menegaskan bahwa langkah kebijakan selanjutnya akan ditentukan oleh perkembangan data ekonomi yang masuk.

"Para peserta mencatat bahwa tindakan kebijakan mereka ke depan akan bergantung pada informasi yang masuk," demikian isi dokumen tersebut.

Sementara itu, proyeksi individual para anggota FOMC atau dot plot menunjukkan kecenderungan tipis menuju satu kali kenaikan suku bunga pada 2026, sebelum kembali diturunkan secara bertahap dalam dua tahun berikutnya.

 

Tekanan Inflasi Masih Tinggi

Ketua Federal Reserve Kevin Warsh berbicara dalam konferensi pers setelah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal, di Washington. (AP Photo/Rod Lamkey, Jr.)

Dalam pembahasannya, para pejabat The Fed juga menyoroti inflasi yang masih meningkat sepanjang tahun lalu. Tekanan harga sebelumnya dipicu kebijakan tarif Presiden Donald Trump, kemudian diperburuk oleh perang dengan Iran.

Meski demikian, para ekonom masih berbeda pendapat mengenai seberapa lama tekanan inflasi tersebut akan bertahan, terutama setelah harga energi turun dalam beberapa pekan terakhir.

Risalah rapat menyebut para pejabat memperkirakan inflasi masih akan tinggi dalam jangka pendek sebelum mulai melandai seiring meredanya dampak tarif, penurunan harga energi, serta berkurangnya gangguan rantai pasok akibat penutupan Selat Hormuz.

Dokumen tersebut juga mengungkapkan perhatian terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Para peserta rapat menilai permintaan yang kuat terhadap infrastruktur AI berpotensi menjaga tekanan kenaikan harga produk teknologi dan kebutuhan listrik.

Namun, Kevin Warsh sebelumnya menyampaikan pandangan bahwa AI pada akhirnya justru dapat membantu menekan inflasi melalui peningkatan produktivitas.

 

Ambiguitas

Pelaku pasar hanya memberikan respons terbatas setelah risalah rapat dipublikasikan. Kontrak berjangka saham AS tetap bergerak di zona negatif, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat.

Kepala Ekonom LPL Financial, Jeffrey Roach, menilai isi risalah menunjukkan masih adanya berbagai pandangan mengenai arah kebijakan moneter.

"Terdapat sejumlah ambiguitas dalam risalah rapat yang menunjukkan adanya beberapa pandangan berbeda mengenai kebijakan. Jika ada petunjuk yang bisa diambil, komite saat ini sedang mempertimbangkan berbagai skenario dan tidak akan berkomitmen pada satu skenario tertentu hingga data ekonomi yang masuk memberikan kejelasan," ujar Roach.

Risalah ini juga menandai awal perubahan gaya komunikasi The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh. Pernyataan resmi setelah rapat dibuat jauh lebih singkat dibandingkan sebelumnya, sejalan dengan pandangan Warsh yang ingin bank sentral tidak terlalu banyak memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan di masa depan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya