Liputan6.com, Jakarta - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, telah menjangkau 32.002 penerima manfaat sepanjang semester I 2026. Selain meningkatkan akses masyarakat terhadap makanan bergizi, program tersebut juga menyerap ratusan tenaga kerja dan mendorong pemanfaatan hasil pertanian, peternakan, serta perikanan lokal.
Data Badan Gizi Nasional (BGN) Nabire mencatat penerima manfaat terdiri atas 28.113 peserta didik serta 3.889 ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Penyaluran dilakukan melalui 14 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di sejumlah distrik di Kabupaten Nabire.
Advertisement
Koordinator Wilayah BGN Nabire Marsel Asyerem mengatakan hasil evaluasi selama enam bulan pertama menjadi dasar untuk memperluas jangkauan sekaligus meningkatkan kualitas pelaksanaan program.
"Evaluasi ini bukan sekadar melihat berapa banyak makanan yang telah disalurkan, tetapi merupakan bentuk tanggung jawab dalam membangun sumber daya manusia Papua yang sehat sekaligus menggerakkan kemandirian ekonomi daerah," ujar Marsel.
Menurutnya, pelaksanaan MBG juga memberikan dampak terhadap perekonomian daerah. Hingga pertengahan 2026, program tersebut telah menyerap 658 tenaga kerja, termasuk 180 Orang Asli Papua (OAP).
Dengan kisaran penghasilan harian antara Rp120 ribu hingga Rp200 ribu, perputaran ekonomi yang dihasilkan dari operasional program diperkirakan mencapai Rp1,58 miliar hingga Rp2,63 miliar setiap bulan.
Dorong Penggunaan Komoditas Lokal
BGN Nabire juga mendorong penggunaan komoditas lokal sebagai bahan baku penyediaan makanan bergizi. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan permintaan terhadap hasil pertanian, peternakan, dan perikanan yang diproduksi masyarakat setempat.
"Kami ingin semakin banyak hasil pertanian, peternakan, dan perikanan lokal terserap sehingga manfaat program ini dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat," kata Marsel.
Untuk mendukung transparansi pelaksanaan program, BGN menerapkan Sistem Informasi Akuntabilitas dan Pelaporan MBG (SIAP-MBG) yang digunakan untuk memantau proses perencanaan, pengelolaan anggaran, hingga distribusi makanan.
Pengembang SIAP-MBG Azrulah Kainage mengatakan sistem tersebut dirancang agar pelaksanaan program dapat diawasi secara terbuka.
"Program ini bukan hanya soal gizi, tetapi bagaimana uang negara yang masuk bisa berputar di masyarakat sehingga manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh warga," ujar Azrulah.