Trump Sebut Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir, Harga Minyak Dunia Melonjak 6%

Harga minyak dunia melonjak lebih dari 5% setelah Donald Trump menyatakan gencatan senjata AS-Iran telah berakhir di tengah memanasnya konflik di Selat Hormuz.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 08 Juli 2026, 20:00 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Ruang Oval, Gedung Putih. (Dok. AP/Allison Robert)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Rabu (8/7/2026) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan gencatan senjata antara Washington dan Iran telah berakhir. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 5,69% menjadi US$ 74,45 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent yang menjadi acuan global menguat 5,85% ke level US$ 78,50 per barel.

Kenaikan harga sempat menembus lebih dari 6% sebelum bergerak sedikit lebih rendah.

Saat menghadiri konferensi pers bersama Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte dalam forum KTT NATO di Ankara, Turki, Trump ditanya apakah gencatan senjata antara AS dan Iran telah berakhir.

"Bagi saya, semuanya sudah berakhir. Saya tidak ingin lagi berurusan dengan mereka. Sejauh yang saya lihat, semuanya sudah selesai," kata Trump dikutip dari CNBC, Rabu (8/7/2026).

Trump juga menyatakan delegasi AS sebenarnya ingin mencapai kesepakatan damai dengan Iran. Namun, menurutnya, melanjutkan pembicaraan dengan Teheran hanya akan membuang waktu.

 

 

Serangan Militer AS

Sebuah kapal tanker berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Pernyataan Trump muncul setelah militer AS melancarkan serangan terhadap Iran sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz pada Selasa.

Pemerintah AS sebelumnya telah memperingatkan Iran akan menghadapi konsekuensi berat apabila kembali menyerang jalur pelayaran komersial di kawasan tersebut.

Dalam pernyataan yang diunggah di media sosial X, Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan:

"Serangan ini merupakan respons atas aksi Iran terhadap tiga kapal dagang yang sedang melintasi Selat Hormuz. Agresi yang dilakukan Iran tidak dapat dibenarkan, berbahaya, dan merupakan pelanggaran yang jelas terhadap gencatan senjata," tulis Komando Pusat AS (Centcom).

Sebelumnya, gencatan senjata yang dicapai kedua negara pada bulan lalu memungkinkan aktivitas pelayaran komersial kembali berlangsung normal setelah Selat Hormuz sempat mengalami gangguan selama beberapa bulan.

Namun, situasi kembali memanas setelah Departemen Keuangan AS mencabut izin khusus (waiver) yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyaknya di pasar internasional.

Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan Iran hanya akan memperoleh manfaat apabila menunjukkan itikad baik.

"Iran hanya akan memperoleh manfaat apabila menunjukkan sikap yang baik," ujar pejabat AS tersebut.

 

Iran Sebut Pelanggaran Serius

Sebuah kapal kontainer terlihat di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan militer AS dan menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap nota kesepahaman yang disepakati kedua negara bulan lalu untuk mengakhiri konflik.

Dalam pernyataannya, pemerintah Iran menegaskan:

"Angkatan bersenjata Republik Islam Iran yang kuat, sebagaimana telah berulang kali mereka tunjukkan, tidak akan ragu mempertahankan keutuhan wilayah, kedaulatan nasional, dan keamanan nasional Iran dari agresi militer Amerika Serikat," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran.

Menurut Joint Maritime Information Center yang dipimpin AS, tiga kapal diserang di sekitar Selat Hormuz pada Selasa. Lembaga tersebut kemudian menaikkan tingkat ancaman bagi kapal yang melintasi jalur tersebut menjadi "severe" atau sangat tinggi karena dinilai masih berpotensi terjadi serangan lanjutan.

Strategis Ortus Advisors, Andrew Jackson, menilai peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat masih cukup kecil.

Ia juga mengingatkan bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong inflasi melalui kenaikan harga energi, terutama menjelang pemilu sela (midterm election) AS pada November.

Selain mendorong harga minyak, meningkatnya ketegangan geopolitik juga memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebesar 5 basis poin menjadi 4,581%. Menurut Jackson, kondisi tersebut dapat membuat bank sentral AS atau The Fed mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat lebih lama.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya